Lima Alasan Tidak Jagokan Inggris Di Euro 2016

Ada cacat tersembunyi di balik kesempurnaan The Three Lions dan kans untuk menggendong trofi Euro 2016 tidak sebesar perkiraan media.

Inggris mencatatkan rekor impresif ketika mereka berhasil menyapu bersih semua laga kualifikasi Euro 2016. Tak peduli laga kandang maupun tandang, mereka mampu memenangkannya dengan keunggulan lebih dari satu gol. Sebagai bumbu penyedap, Wayne Rooney turut meramaikan rekor itu dengan menjadi topskor sepanjang masa The Three Lions, melewati catatan Sir Bobby Charlton, dan mencetak gol ke-50 di timnas.

Kesempurnaan itu tentu membuat banyak orang memprediksi Inggris bakal sukses, namun prediksi itu tidak sepenuhnya benar. Ada cacat tersembunyi di balik kesuksesan The Three Lions tersebut dan kans untuk menggendong trofi Kejuaraan Eropa tidak sebesar prediksi media.


Skuat Tidak Kompetitif


Alasan pertama ini mungkin terdengar sedikit kontroversial, tetapi memang begitulah adanya. Skuat The Three Lions tidak cukup kompetitif untuk bersaing di Prancis musim panas nanti. Apalagi dibandingkan dengan Jerman, Spanyol, Prancis, Belgia, Italia dan unggulan lainnya, kualitas pasukan Roy Hodgson benar-benar tertinggal.

Di posisi penjaga gawang, mungkin Inggris boleh tenang karena mereka memiliki Joe Hart yang tampil gemilang di level klub maupun internasional. Adapun barisan pertahanan yang mengawalnya masih diragukan. Chris Smalling dan Phil Jones boleh jadi begitu kompak di Manchester United, namun masih belum teruji karena mereka belum menghadapi ancaman dari penyerang maupun kreator kelas dunia.

Naik ke posisi gelandang, Inggris tidak punya playmaker handal yang pandai menciptakan peluang. Gelandang paling sering menciptakan peluang dan assist di Eropa memang berasal dari Liga Primer, ironisnya tak satupun berkebangsaan Inggris (Mesut Ozil, Gerard Deulofeu, Dimitri Payet). Inggris cuma punya James Milner yang sudah mencetak 3 assist dan 28 peluang– padahal gelandang veteran itu masih belum mapan di Liverpool, yang notabene terdampar di papan tengah. Jack Wilshere? Biarkan dia merampungkan masalah cederanya dulu.

Ketajaman di lini depan Inggris juga masih diragukan. Wayne Rooney sedang majal, Daniel Sturridge dan Danny Welbeck rawan cedera, Harry Kane belum teruji, apalagi Jamie Vardy.

Rekor kemenangan sempurna mereka pun sebenarnya palsu, mengingat empat dari lima lawan mereka di babak kualifikasi bahkan tidak menembus 50 besar peringkat FIFA (Slovenia, 64; Estonia, 90; Lithuania,123; San Marino, 196).

Melihat komposisi yang seperti itu di Grup E Kualifikasi Euro 2016, tidak heran kalau Inggris bisa meraih poin sempurna. Di Prancis nanti, sudah pasti mereka takkan dimanjakan dengan ketimpangan semacam itu karena Euro 2016 meloloskan banyak negara unggulan Eropa.


Redupnya Kilau Rooney


Wayne Rooney boleh bangga karena sekarang ia menjadi topskor sepanjang masa Inggris. Catatan 50 gol tentu tidak mudah untuk dicapai, tetapi perlu digarisbawahi kalau performanya sedang berada di bawah rata-rata. Penurunan ini pun sejatinya sudah terpantau sejak beberapa musim lalu.

Musim ini, United merasakan penurunan performa Rooney secara nyata. Sang penyerang hanya mencetak dua gol dalam sebelas penampilan di Liga Primer. Musim lalu, ia sudah mencetak lima gol dalam sebelas penampilan, enam gol di musim sebelumnya.

Rooney memang penyerang kelas dunia, tetapi ia sudah mengalami penurunan signifikan dan hal ini patut dikhawatirkan oleh Roy Hodgson yang hanya memiliki Harry Kane dan Jamie Vardy sebagai pelapis yang fit sejauh ini. Entah apa jadinya Inggris yang mulai kehilangan ketajaman Rooney di Prancis nanti.


Skuat Minim Pengalaman


Seandainya Michael Carrick dan Wayne Rooney fit di Euro 2016, setidaknya Inggris punya dua pemimpin yang berkualitas. Namun perlu diakui, The Three Lions saat ini kekurangan sosok berpengalaman dan kiranya ini bakal menjadi masalah di Prancis kelak.

Pensiunnya Steven Gerrard dan Frank Lampard baik secara langsung maupun tidak, mengganggu keseimbangan skuat Inggris. Rooney dan Carrick memang memegang peran penting dalam proses adaptasi pasca kepergian Gerrard dan Lampard, tetapi perlu diingat kalau Rooney sendiri sedang majal dan Carrick masih rawan cedera.

Nama-nama baru juga banyak mewarnai skuat The Three Lions, seperti Jonjo Shelvey, Kane, dan Vardy. Regenerasi memang penting, tetapi harus diimbangi dengan peran pemain berpengalaman. Apalagi turnamen yang bakal dilakoni Inggris bukan turnamen sembarangan.

Roy Hodgson wajib memikirkan keseimbangan pengalaman ini matang-matang. Adapun kalau melihat daftar pemain berkebangsaan Inggris, hanya sedikit yang kiranya mumpuni dalam hal tersebut.


Demam Panggung


Kapan terakhir kalinya Inggris menjadi juara kompetisi mayor? Hampir setengah abad yang lalu, tepatnya di Piala Dunia 1966. Setelah itu, kejayaan mereka seolah tertelan zaman dan tidak pernah tampak lagi di permukaan.

Sebenarnya Inggris tidak kekurangan pemain berkualitas. Dari generasi ke generasi, kita mengenal sosok David Seaman, David Beckham, Rio Ferdinand, Steven Gerrard, sampai sekarang Wayne Rooney. Mereka semua adalah pemain berkualitas, tak bisa dipungkiri. Rentetan prestasi bersama klub masing-masing berhasil mereka rengkuh, tetapi entah mengapa, performa mereka selalu memble setiap kali melakoni laga internasional.

Bahkan dalam Golden Generation yang memuat bintang-bintang Liga Primer, Inggris tidak mampu melangkah jauh di turnamen besar. Asumsi pertamanya, sudah pasti demam panggung internasional. Terbukti dari 16 tahun terakhir, Inggris selalu gagal mencapai empat besar kompetisi internasional, baik Piala Dunia maupun Kejuaraan Eropa. 

Meski memiliki pemain-pemain yang kerap meraih trofi di level klub, tekanan bermain untuk kebanggaan negara sepertinya terasa lebih berat di pundak mereka.


Macetnya Inovasi Taktik


Kritik terakhir sudah pasti mengarah pada Roy Hodgson dan budaya sepak bola Inggris. Bisa dibilang, ini merupakan masalah inti Inggris dalam beberapa dekade terakhir. Walaupun mereka memiliki segudang bintang, tidak ada otak yang tepat untuk mengkoordinasikan talenta-talenta itu dengan baik. Inovasi taktik pun jarang dilakukan oleh manajer-manajer Inggris sejak dahulu kala.

Dalam beberapa laga terakhir, Hodgson memang melakukan pergantian formasi dari 4-4-1-1 ke 4-4-2, lalu dari 4-3-3 ke 4-2-3-1. Namun kalau melihat lebih dari sekadar susunan pemain, skema Hodgson nyaris sama: menggunakan dua winger berkecepatan tinggi, ditambah satu targetman.

Strategi ini memang pantas diterapkan ketika mereka menghadapi San Marino dkk, tetapi kalau harus menghadapi bek Italia yang cerdas, sudah pasti skema Hodgson bakal mandek di tengah jalan. Fleksibilitas taktik ini sudah menjadi masalah yang diwariskan dari para petua-petua Inggris, tetapi tak satupun bisa menyelesaikannya dengan baik.

Namun hal ini sekaligus bisa dimaklumi, karena toh di Liga Primer sendiri, buruknya performa tidak disiasati dengan inovasi taktik, melainkan dengan kucuran dana dan deretan pemain mahal.