Louis Van Gaal, Waktumu Sudah Habis

Kekalahan yang diterima dari Norwich City membuktikan bahwa apa yang Van Gaal sebut sebagai “filosofi” tidaklah bagus untuk United.

Lebih baik sekarang daripada terlambat. Manchester United kiranya harus segera mengambil keputusan terhadap manajer Louis van Gaal yang tidak kunjung mampu mengangkat prestasi timnya,

Didatangkan pada musim panas 2014 dengan status sebagai semi-finalis Piala Dunia bersama tim nasional Belanda, ada gegap gempita di kubu Old Trafford sebagaimana para suporter membayangkan timnya akan kembali ditakuti pasca kejatuhan David Moyes.

Sebelum penunjukan Van Gaal, Moyes – yang ditunjuk sebagai suksesor Sir Alex Ferguson – terbilang kesulitan dalam mengangkat prestasi tim lantaran dewan direksi tidak cakap mendukungnya di bursa transfer. Selama waktu singkatnya di United, manajer asal Skotlandia itu hanya mampu mendatangkan Marouane Fellaini dan Juan Mata, padahal sejatinya ia menginginkan hal yang lebih.

Kegagalan dalam memenuhi tuntutan Moyes membuat United, yang waktu itu berstatus sebagai tim juara, terseok-seok di tabel klasemen Liga Primer Inggris. Terlempar dari empat besar mengakibatkan fans mencemooh Moyes hingga akhirnya pihak klub memutuskan untuk mendepak mantan juru taktik Everton tersebut pada akhir April 2014.

Beda Moyes beda Van Gaal. Di awal kedatangannya, pria asal Belanda itu seperti mendapatkan perlakuan istimewa dari jajaran direksi mengingat CV-nya yang panjang. Sebagai pelatih kawakan, ia meminta pihak klub memenuhi tuntutannya dan menyingkirkan apa yang ia tidak suka yang sudah menjadi bagian dari filosofinya.

Di musim perdanannya, target Van Gaal cukup sederhana; yakni mengembalikan United ke kompetisi Liga Champions yang di musim sebelumnya mereka lewatkan. Untuk mewujudkan itu, sang meneer merekrut banyak pemain dengan nilai cukup fantastis seperti Angel di Maria (£59,7 juta), Luke Shaw (£30 juta), Ander Herrera (£28,5 juta), Marcos Rojo (£16 juta), Daley Blind (£13,8 juta) dan meminjam Radamel Falcao dari AS Monaco – di mana pihak United membayarkan sebagian besar gaji El Tigre.

Jika ada kedatangan, maka ada yang pergi. Mereka yang angkat kaki dari United adalah Tom Cleverley (dipinjamkan ke Aston Villa), Javier Hernandez (dipinjamkan ke Real Madrid), Luis Nani (dipinjamkan ke Sporting Lisbon), Danny Welbeck (dijual ke Arsenal), Darren Fletcher (dijual ke West Brom), Shinji Kagawa (dijual ke Borussia Dortmund), Wilfried Zaha (dijual ke Crystal Palace), Bebe (dijual ke Benfica), Anderson (dijual ke Internacional) dan masih banyak pemain lainnya seperti Angelo Henriquez, Federico Macheda hingga Marnick Vermijl.

Di musim tersebut, tim Setan Merah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yakni kelolosan ke ajang Liga Champions setelah finis di urutan keempat kompetisi Liga Primer 2014/15. Di musim itu pula, United racikan Van Gaal dipermalukan tim kasta ketiga MK Dons dengan skor telak 4-0 di putaran kedua Piala Liga Inggris.

Merasa butuh perbaikan, Van Gaal kembali meminta pihak klub untuk merekrut daftar pemain incarannya. Lagi-lagi dewan direksi menyanggupi dengan menebus mahal Anthony Martial (£36 juta – yang nilai transfernya berpotensi naik menjadi £57,6 juta di masa depan), Morgan Schneiderlin (£25 juta), Bastian Schweinsteiger (£14 juta), Matteo Darmian (£12,9 juta), Memphis Depay (£20 juta) dan Sergio Romero (gratis).

Akan tetapi, Van Gaal melakukan kesalahan dengan melepas banyak pemain seperti Jonny Evans dan Anders Lindegaard (keduanya dijual ke West Brom), Cleverley (dijual permanen ke Everton), Nani dan Robin van Persie (dijual permanen ke Fenerbahce), Reece James (dijual permanen ke Wigan Athletic), Rafael da Silva (dijual permanen ke Lyon), Hernandez (dijual permanen ke Bayer Leverkusen) dan yang tidak habis pikir adalah menjual rugi Di Maria ke Paris Saint-Germain.

Satu hal yang menjadi nilai lebih bagi Van Gaal di bursa transfer adalah ia mampu mencegah kepergian David de Gea ke Real Madrid pada musim panas kemarin, di mana ia mengamankan masa depan sang penjaga gawang sampai 2019 dengan opsi perpanjangan setahun.

Bongkar muat yang dilakukan sang manajer membuat kedalaman skuat United menjadi sangat kurang, keseimbangan mereka juga sangat buruk. Di lini depan saja, mereka hanya memiliki Wayne Rooney dan Martial, selagi James Wilson jarang diberi kesempatan sebelum kemudian dipinjamkan ke Brighton & Hove Albion.

Di suatu waktu saat United tidak lagi memiliki penyerang yang bisa dimainkan, Van Gaal dengan percaya dirinya memainkan Fellaini di posisi juru gedor setelah ia menimbang tinggi badan sang gelandang yang ia pikir bisa menjadi senjata saat tampil di depan.

Kedalaman skuat yang kurang menjadi bencana bagi Van Gaal. Mengingat banyak pemain utamanya yang menepi, ia pun terpaksa mengambil beberapa pemain akademi yang minim jam terbang seperti Cameron Borthwick-Jackson dan Guillermo Varela, serta tak lupa melibatkan Axel Tuanzebe (bek) dan Marcus Rashford (penyerang) di bangku pemain ketika timnya kekurangan opsi di musim ini.

Kini, posisi Van Gaal kian terdesak menyusul kekalahan 2-1 yang dialami timnya dari Norwich City di kandang sendiri, Sabtu (19/12) malam WIB. Di pertandingan itu, gol-gol dari Cameron Jerome dan Alex Tettey hanya mampu dibalas oleh Martial sehingga United terpaksa kalah dan merelakan posisi empat besar diklaim Tottenham Hotspur, yang di tempat lain sukses membekuk Southampton.

Kekalahan semalam merupakan kekalahan ketiga beruntun untuk United di semua kompetisi. Lebih dari itu, mereka sudah tidak lagi bisa menang sejak keberhasilan memetik kemenangan di markas Watford pada akhir November, dan mereka kini tengah dalam laju enam laga tanpa menang.

Sebelum ditekuk Norwich, United dikalahkan AFC Bournemouth di ajang Liga Primer dan disingkirkan VfL Wolfsburg dari kompetisi Liga Champions. Sebelum itu mereka juga mendapati hasil buruk lantaran ditahan imbang PSV Eindhoven, Leicester City dan West Ham. Adapun jika ini terjadi di era Sir Alex, tentu hal semacam ini tidak bisa dimaafkan dengan alasan apapun.

Laga-laga melawan Bournemouth dan Norwich di atas kertas harusnya bisa dimenangkan oleh United. Dengan kekalahan ini, maka kebesaran United menjadi diragukan dan pujian layak disematkan kepada lawannya yang telah membuktikan bahwa tim Setan Merah saat ini memang tidak cukup bagus.

Pendukung United saat ini sepertinya sudah tidak lagi menyukai Van Gaal beserta filosofinya yang dipaksakan. Strateginya yang aneh tak jarang kerap menghasilkan permainan monoton. Skema yang berputar-putar dan kerap mengoper sampai jauh ke belakang ia paksakan demi mendapatkan penguasaan bola yang lebih.

Menyadari posisinya terdesak, Van Gaal pun mengakui bahwa ia khawatir dengan potensi pemecatan yang bisa dilakukan oleh dewan direksi kapan pun mereka mau. Berkaca dari kejatuhan Jose Mourinho di Chelsea, pria berusia 64 tahun ini merasa cemas bahwa dirinya akan menjadi orang berikutnya yang didepak pada pekan ini.

“Tentu saja saya khawatir soal [pemecatan Mourinho] itu karena kepercayaan pada seorang manajer adalah sangat penting,” demikian Van Gaal kepada wartawan. “Dan ketika Anda kalah sebagai manajer, kepercayaan itu menjadi berkurang. Itulah yang terjadi sekarang, dan saya tidak bisa menutup mata soal itu.”

Van Gaal menambahkan: “Saya tidak merasa sebuah perubahan kepemimpinan akan menghadirkan kesuksesan secara langsung.”

Dengan kontrak Van Gaal yang tersisa sampai musim panas 2017, kiranya masih ada waktu satu setengah tahun lagi baginya. Namun jika prestasi tim tidak kunjung membaik dalam beberapa pekan ke depan, maka pintu keluar Old Trafford sudah menantinya.

Terlepas dari ini, United seharusnya mempertimbangkan masa depan klub secara baik dan bijak. Banyak manajer jempolan yang bisa mereka pertimbangkan demi mengembalikan nama besar klub seperti Carlo Ancelotti – yang kini menganggur, Pep Guardiola – yang sepertinya akan pergi dari Bayern Munich pada akhir musim ini, Mourinho yang baru saja dipecat Chelsea sampai Ryan Giggs – yang sewaktu menjabat sebagai manajer interim mempersembahkan dua kemenangan, satu hasil imbang dan satu kekalahan pada musim 2013/14 silam; dengan kemenangan perdana ia bukukan ketika mengatasi Norwich 4-0 di Old Trafford.