Mampukah Mark Clattenburg Jawab Tantangan UEFA?

Panen kritikan atas performa yang ditunjukkan di kompetisi domestik, apakah UEFA melakukan blunder dengan menempatkan Clattenburg sebagai wasit final Liga Champions musim ini?

Mei bisa dikatakan sebagai 'bulan yang menarik' bagi Mark Clattenburg. Pasalnya di sepanjang bulan ini, dirinya mendapat beragam sorotan karena performanya di tengah lapangan.

Sejatinya, sorotan tersebut menjadi hal yang wajar karena Clattenburg dipilih UEFA untuk menjadi wasit yang memimpin laga final Liga Champions musim ini, antara Real Madrid dan Atletico Madrid di San Siro, Milan, akhir pekan ini.

Berbicara soal performa, Clattenburg menunjukkan grafik dan rapor yang bagus di sepanjang musim ini. Namun memasuki Mei, sepertinya apa yang dilakukannya berujung pada kegemparan.

Pada 2 Mei misalnya, kala dirinya memimpin Battle of Stamford Bridge antara Chelsea dan Tottenham Hotspur, dengan laga berkesudahan 2-2 secara dramatis. Hasil di laga itu sangat krusial dan menentukan kesuksesan Leicester City menjuarai Liga Primer Inggris musim ini. Terbukti, setelah laga, tingginya tempo dan tensi pertandingan memunculkan banyak insiden dorongan, bahkan nyaris adu pukul antarpemain. Sembilan kartu kuning diberikan Clattenburg untuk pemain Spurs di laga itu.

Imbasnya, pada pekan berikutnya, FA memutuskan menjatuhkan sejumlah sanksi kepada sejumlah pemain dari kedua tim. Bisa jadi Clattenburg memegang peran tersendiri dalam hal ini karena gagal mendinginkan situasi panas saat itu. Clattenburg sendiri lolos dari jerat sanksi FA.

Kemudian Clattenburg memimpin laga final Piala FA antara Manchester United dan Crystal Palace. Ada dua momen yang mana membuat Clattenburg mendapat sorotan negatif. Keduanya adalah ketika Crystal Palace mendapat keuntungan dalam memainkan bola, Clattenburg memutuskan untuk menghentikan laga dan memulainya lagi lewat bola mati.

Mantan wasit terbaik Inggris Howard Webb bahkan sampai mengkritik kinerja dan cara Clattenburg dalam mengambil keputusan.

Tekanan sudah menghampiri Clattenburg, bahkan sebelum laga final Liga Champions dimulai

"Mungkin dia terlalu terbawa suasana dan berusaha keras menunjukkan kesan positif. Clattenburg mungkin harus kecewa dengan penampilannya," sentil Webb kepada Times.

Apakah ini bisa menjadi kendala tersendiri bagi Clattenburg saat memimpin laga final Liga Champions musim ini di San Siro? Mantan pemain Stewart Robson tidak berpendapat demikian.

"Saya pikir dia menjalani laga yang sulit Sabtu lalu. Tapi saya banyak setuju dengan keputusan yang sudah dibuatnya. Dia memiliki ketegasan untuk bergeming dari keputusannya meski banyak pemain mengelilingi dan memberikan tekanan tersendiri," ujarnya.

"Saya pikir Mark bisa menjaga dirinya sendiri. Saya pikir dia memahami pertandingan dengan baik, lebih baik dari wasit lainnya dan saya pikir dia akan baik-baik saja."

Namun, Robson tetap memperingatkan Clattenburg untuk tidak membuat keputusan yang ambigu di awal pertandingan antara Real Madrid dan Atletico Madrid.

"Satu hal yang saya pikir tak boleh dilakukannya adalah dengan mengeluarkan kartu untuk satu atau dua pemain di awal laga. Ya dia harus berbicara dengan mereka dan memastikan mereka tak kelewat batas. Tapi apabila dia mengkartu pemain untuk sesuatu yang remeh temeh, dia akan berada dalam tekanan yang luar biasa di sepanjang laga karena Real Madrid dan Atletico Madrid pastinya akan melakukan protes pada setiap pelanggaran setelahnya," tegasnya.

Dan dengan pemain dari masing-masing tim memiliki 'kualitas' tersendiri dalam melakukan protes, Clattenburg patut menjaga jarak dan ketegasannya sepanjang laga.