Mampukah Paris Saint-Germain Jadi Kampiun Eropa?

PSG punya skuat kelas dunia yang siap mengguncang Eropa, tapi mampukah mereka berdiri di puncak sebagai kampiun?

Paris Saint-Germain adalah klub yang sangat kuat, tak perlu diragukan lagi. Dari penjaga gawang sampai penyerang, raksasa Prancis itu dipersenjatai dengan pemain kualitas dunia. Di Ligue 1 Prancis, sudah pasti PSG adalah penguasa, bahkan nyaris tak terkejar di puncak walau mereka gagal meraih kemenangan dalam dua laga domestik terkini kontra Olympique Lyonnais dan Montpellier.

Tak heran, Les Parisiens mulai melempar pandangan pada Liga Champions. Raksasa Prancis itu berambisi menggendong Si Kuping Besar dan menjadi raja Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ambisi itu pun diamini oleh Lucas Moura.

“Ya, saya percaya pada tim. Saya pikir kami mampu melangkah sangat jauh dan mengapa tidak memenangkan Liga Champions? Kami memiliki kualitas yang bisa mewujudkan hal itu. Setiap musim yang berlalu, saya pikir kami menjadi lebih kuat,” ungkap winger PSG berkebangsaan Brasil itu.

“Kami tidak kehilangan banyak pemain, satu atau paling banyak dua. Jadi kami lebih dekat, lebih kompak, dan itu yang sangat penting. Kami melangkah ke perempat-final tiga kali secara beruntun, itu memberi respek dan kami diperlakukan berbeda oleh tim lain sekarang,” tandasnya.

Benarkah?

Sejatinya, kalau bicara mampu atau tidaknya PSG menjuarai Liga Champions, sudah pasti mereka mampu. Lucas Moura sudah mengungkapkan alasannya, PSG memiliki skuat yang luar biasa mewah dan tangguh. Secara individu maupun kolektif, PSG adalah klub yang patut diwaspadai baik di kompetisi domestik maupun Eropa.

Dilihat dari susunan pemain, sudah jelas PSG tidak perlu khawatir. Mentalitas dan kolektivitas tim pun mulai terbentuk seiring musim berlalu seperti yang dikatakan oleh Moura. Belum lagi, kehadiran Angel Di Maria menambah kreativitas tim dan sejauh ini membuat Les Parisiens makin pandai memanfaatkan celah sekecil apapun dari rapatnya lawan yang menghadapi mereka.

Namun dalam sepakbola, susunan pemain – sekalipun diperkuat oleh tiga Lionel Messi dan tiga Cristiano Ronaldo – bukanlah segalanya.

Masih ada berbagai faktor lain yang dibutuhkan sebuah tim untuk menjadi juara. Oke, PSG sudah memiliki mental dan kematangan, setidaknya untuk menggenapi kualitas pemain mereka. Tetapi itu saja masih belum cukup. Dan kalau mau mengungkap kekurangan mereka, ialah Laurent Blanc yang luar biasa keras kepalanya.

Pelatih asal Prancis itu sepertinya terlampau yakin dengan kemampuan skuatnya sampai-sampai tidak mengubah formasinya dalam setahun terakhir. Formasi 4-3-3 jadi andalan dan formasi itu selalu ia mainkan itu tanpa pandang bulu, baik ketika melawan Real Madrid di Santiago Bernabeu maupun ketika menghadapi klub promosi Ligue 1. Filosofinya juga jelas, Blanc ini memainkan sepakbola dengan ball possesion tinggi, sembari para pemain dengan sabar menunggu celah untuk dieksploitasi.

Setiap pemain punya perang khusus dalam mesin yang selalu berproses sejak awal musim dan sangat sedikit ditemui perubahan. Trio gelandang sering bertukar posisi, sementara Zlatan Ibrahimovic ikut mundur dan kadang mengisi posisi No.8, sementara dua winger punya peran masing-masing, yang satu mendikte tempo, yang satunya lagi mencari bola. Mekanisme yang diterapkan Blanc itu memang terbukti efektif. PSG menguasai Ligue 1, bahkan tak terkalahkan sampai akhir Februari 2016.

Sayang, lawan-lawan PSG saat ini sudah menganalisis bagaimana raksasa Prancis itu bermain hingga kini dan mulai menemukan kelemahannya. Lyon adalah contoh nyata, yang setelah menelan empat kekalahan dari PSG, akhirnya menyusun sistem khusus untuk menghadapi PSG, yakni menambah agresi fisik dan merapatkan barisan. Hasilnya? PSG mati kutu dan menelan kekalahan pertama mereka sejak Maret 2015.

Jean-Marc Furlan, mantan pelatih Troyes, menyadari ada yang tidak beres dengan kekalahan tersebut dan berharap PSG mampu memperbaikinya. “Ketika Anda punya satu atau dua pemain utama yang absen, seperti Marco Verratti di PSG, ini bakal jadi masalah. Di pertandingan, segalanya memang berbeda, mungkin ada satu elemen sukses, performa buruk pertandingan…tetapi tetaplah penting untuk mempunyai rencana B atau rencana C beserta dengan detailnya.”

Minimnya solusi taktik ini berpotensi jadi penghambat PSG untuk mengamankan trofi Liga Champions. Perlu digarisbawahi, ada hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh pemain, tetapi berada dalam jangkauan pandang pelatih yang berdiri di pinggir lapangan. Hal inilah yang kiranya bakal terbukti di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, ketika PSG menantang Chelsea.

Bisa dibilang, masterplan dadakan Guus Hiddink merupakan batu sandungan perdana PSG di sisa musim UCL, sebelum menghadapi Bayern Munich, Barcelona, atau Real Madrid.