Manajer Arema Cronus: Penyelesaian Masalah Tujuh Klub Jadi PR Besar

Ruddy menyatakan, permasalahan yang dialami tujuh klub berbeda, sehingga perlu penanganan khusus.

Manajemen Arema Cronus menilai penyelesaian masalah tujuh klub menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar kepengurusan PSSI periode 2016-2020 di bawah pimpinan Edy Rahmyadi.

Manajer Arema Ruddy Widodo mengatakan, saat ini semua stakeholder sepakbola sudah harus bersatu kembali untuk memperbaiki sepakbola Indonesia.

“Arema bersyukur semua agenda bisa dilalui dengan lancar, dan sangat demokratis. Saat ini 'kompetisi' memperebutkan ketua umum dan exco sudah selasai, dan saatnya bergandengan tangan menjaga rumah kita, yakni PSSI. Pergantian nakhkoda tidak masalah karena bertujuan memperbaiki sepakbola Indonesia,” kata Ruddy.

Ruddy menambahkan, ia menginginkan sepakbola semakin berkembang, terutama pembinaan yang dicanangkan Edy. Namun Arema ingin permasalahan tujuh klub bisa diselesaikan, termasuk pendaftaran klub baru.

“Kami ingin sebuah kemandirian dalam sepakbola, dari pembinaan hingga lainnya. Semoga sepakbola berkembang dari wilayah pelosok hingga kota. Soal hasil mungkin ada yang puas atau tidak. Yang penting semuanya dari wilayah timur hingga barat terwakili dari Exco [Komite eksekutif],” bebernya.

“Saat ini perbaikan step by step. PR paling besar ada pada tujuh klub itu, dibahas permasalahannya seperti apa. Kami kemarin memang menolak, dan jangan dipandang dari luar seperti apa. Jadi kalau kawan-kawan voter menolak, itu pasti ada sebabnya.”

Ruddy menjelaskan, pada dasarnya Arema menyatakan tidak ada penolakan, melainkan menunda di kongres tahunan agar permasalahan bisa dipelajari lebih detail.

“Dalam kongres kemarin, voter ingin masalah utama diselesaikan, yakni fokus pada pemilihan. Bukan berarti mengesampingkan klub baru, atau tujuh klub bermasalah,” jelas Ruddy.

“Kami menolak di kongres itu, tapi ingin diselesaikan dulu di lain tempat, karena kami pikir permasalahan yang dihadapi berbeda, seperti misalnya antara Persema [Malang], Persebaya [Surabaya] dengan Persibo Bojonegoro. Kami tidak ingin agenda kemarin terganggu.”

“Dalam aturan, klub baru memang harus bermain di Liga Nusantara. Tapi, apakah klub seperti Persebaya layak bermain di sana? Jadi minimal, ya Divisi Utama. Terus apakah Divisi Utama mau? Ya tentu ini perlu dibahas lebih panjang lagi. Jadi nantinya akan dibahas di kongres tahunan.”