Masalah Terbesar Portugal Bukanlah Cristiano Ronaldo

Tertutupi sorotan besar publik terhadap sang megabintang Cristiano Ronaldo, sepakbola Portugal menyimpan masalah yang jauh lebih besar.

Kegagalan eksekusi penalti Cristiano Ronaldo ke gawang Austria memantik beragam reaksi dari para penggemar sepakbola dunia, tetapi sorotan kepada sang megabintang jauh menutupi masalah besar yang sejatinya sedang dialami sepakbola Portugal.

Ketika hasil undian Euro 2016 diketahui akhir tahun lalu, Portugal boleh bernapas lega. Dibandingkan dengan Spanyol atau Italia yang tergabung di grup keras, Portugal "hanya" berjumpa dengan Islandia, Austria, dan Hongaria. Islandia dan Hongaria baru kali pertama melangkah ke putaran final Euro, sedangkan Austria baru sekali tamppil dengan status sebagai tuan rumah bersama. Secara akumulasi tiga tim lawan itu mengumpulkan tiga penampilan putaran final Euro. Bandingkan dengan pengalaman Portugal yang telah melalui 28 kali pertandingan.

Dalam dua laga perdana Grup F, Portugal rupanya hanya mampu meraih dua poin. Setelah bermain imbang 1-1 melawan Islandia, Portugal ditahan Austria tanpa gol, akhir pekan lalu. Kita sudah mengetahui apa yang terjadi pada laga kedua. Ronaldo total melepaskan 20 tembakan ke arah gawang -- melebihi total tembakan sembilan tim peserta lain dalam turnamen -- tapi tetap mandul. Eksekusi penaltinya membentur tiang, sedangkan gol sundulan kepalanya dianulir karena off-side.

Pertandingan melawan Austria merupakan penampilan ke-16 Ronaldo di kancah putaran final Euro. Pengalaman panjangnya tampil di berbagai turnamen besar dan status sebagai salah satu bintang besar sepakbola dunia kiwari, tak pelak membuat Ronaldo dibebani ekspektasi tinggi. Beban ekstra? Pemain Real Madrid ini akan selalu menjawab, ekspektasi tinggi justru menambah motivasinya untuk berprestasi lebih baik. "Rekor, bagi saya, datang dengan sendirinya," tukas sang bintang suatu ketika.

Ekspektasi telah lahir seiring Ronaldo memulai karier profesionalnya. Mari menggunakan mesin waktu untuk kembali ke tanggal 12 Juni 2004. Lokasinya di Estadio do Dragao, di kota Porto, Portugal. Luiz Felipe Scolari tengah dalam kesulitan. Portugal tertinggal satu gol dari Yunani akibat tendangan keras Giorgos Karagounis pada menit ketujuh pertandingan. Mereka tidak boleh kalah dalam laga pembukaan Euro 2004 yang dilangsungkan di kampung halaman sendiri ini. Apalagi lawannya "hanya" Yunani -- yang kala itu belum pernah mengecap kemenangan sama sekali sepanjang partisipasi di turnamen besar.

Dua legenda Portugal. Sang murid dan sang mentor

"Ketika Ronaldo baru bergabung ke timnas, orang pertama yang membantunya adalah Figo. Dia pemain pertama yang menantang Ronaldo untuk menggiring bola, menembak, dan mencetak gol," ujar pelatih asal Brasil itu.

"Figo mengambil posisi, seperti 'Ayo coba dan coba lagi, nak. Kalau kamu lihat situasi sulit, aku akan membantumu. Kalau kamu melakukan kesalahan, aku sudah pernah melakukannya. Jadi, tenang saja dan terus mencoba'."

Ronaldo muncul persis ketika Generasi Emas Portugal memasuki masa senjakala. Ketika Euro 2004 berlangsung, Figo berusia 32 tahun dan telah mengukir lebih dari 100 caps. Hampir sama persis dengan rekan seangkatannya, antara lain seperti Rui Costa, Fernando Couto, dan Nuno Gomes. Diperkuat dengan sejumlah pemain lain seperti Vitor Baia, Paulo Sousa, dan Joao Pinto, Generasi Emas Portugal sukses merebut gelar juara Piala Dunia Junior dua kali beruntun, 1989 dan 1991.

Di pentas senior, Generasi Emas memperkenalkan diri pada Euro 1996. Partisipasi Portugal itu memutus rantai kegagalan mereka tampil di turnamen besar sejak Piala Dunia 1986. Dilatih Antonio Oliveira, para pemain Portugal memeragakan permainan menyerang yang rancak. Seleccao menjuarai Grup D tanpa terkalahkan, tapi langkah mereka dihentikan Republik Ceko di babak perempat-final.

Piala Dunia 2006 menjadi penampilan terakhir Figo di pentas internasional

Kemunculan Generasi Emas menjanjikan masyarakat Portugal. Sudah lama fans menantikan kemunculan tim yang menyamai (atau mungkin melebihi) pencapaian menjadi peringkat ketiga Piala Dunia 1966. Sudah lama fans menunggu munculnya penjelmaan Eusebio dan Os Magricos. Semua jawaban itu mungkin terletak pada Geracao de Ouro.

Lima puluh tahun berselang, Portugal belum mampu mengoleksi gelar juara. Bersama Generasi Emas yang menginspirasi Ronaldo, Portugal secara beruntun sukses menembus semi-final Euro 2000, final Euro 2004, dan semi-final Piala Dunia 2006. Usai 2006, eksponen terakhir Generasi Emas, Figo, pensiun dari timnas dan otomatis memindahkan segala ekspektasi ke bahu Ronaldo.

Dalam usia setahun lebih muda daripada ketika dibimbing sang legenda di awal kariernya, Ronaldo, 31 tahun, berhasil melampaui rekor caps Figo untuk Portugal di Euro kali ini. Sayangnya, tak seperti Figo, Ronaldo tak disokong sekondan memadai dalam menjalankan misi emas Portugal. Bahkan seolah ada pembiaran status Ronaldo-dependencia di dalam skuat Seleccao.

Pelatih Fernando Santos pun seperti malah memelihara ketergantungan tersebut. "Setiap tim yang memiliki Ronaldo mesti tergantung pada Ronaldo," ujarnya. Benar, ketika Ronaldo tak bermain, Portugal dikalahkan Rusia dan Tanjung Verde dalam uji coba. Tapi, dengan atau tanpa Ronaldo, Portugal tak mengesankan.

Seleccao mengumpulkan tujuh kemenangan di laga kualifikasi Euro 2016 dan semuanya hanya dengan selisih satu gol. Mereka juga tercatat hanya melepaskan 95 tendangan dalam delapan pertandingan penyisihan. Situasinya mungkin lebih parah, sepakbola Portugal yang menghibur Euro dua dasawarsa hilang bak lenyap tak berbekas. Portugal kini tampil membosankan.

Terlihat jelas jika Portugal membutuhkan sosok penyerang tengah berkelas dunia. Kehampaan ini mendorong Fernando Santos memasangkan Ronaldo dengan Luis Nani sebagai duet striker. Kita tahu itu bukan posisi natural keduanya. Praktis, Portugal tak punya target man sejati.

Mencetak striker handal menjadi misteri terbesar sepakbola Portugal yang barangkali melebihi misteri kegagalan mereka menjuarai Euro 2004. Nuno Gomes tak pernah lagi bersinar setelah cemerlang di Euro 2000, sedangkan penampilan Pauleta kerap redup di laga-laga vital. Helder Postiga dan Hugo Almeida pun tidak lebih baik. Portugal telah lama mendamba striker haus gol.

Secara general, timnas Portugal dibangun berdasarkan kekuatan tiga klub besar: FC Porto, Benfica, dan Sporting CP. Ketiganya mendominasi kompetisi domestik. Sejak dimulai 1934/35, hanya Belenenses (musim 1945/46) dan Boavista (2000/01) yang mampu menyeruak menjadi juara liga Portugal.

Kekuatan yang timpang itu menyebabkan tidak semua pemain muda berbakat Portugal mendapat kesempatan berlatih dan bertanding yang layak. Apalagi, Porto, Benfica, dan Sporting kerap merekrut pemain asing asal Brasil atau Afrika. Jika ada pemain muda bersinar, biasanya berposisi sebagai gelandang, seperti William Carvalho, Renato Sanches, atau Ruben Neves, misalnya. Sangat jarang muncul bakat baru di posisi striker.

Masalah lain muncul di lini belakang. Kekuatan Portugal di sektor ini lebih memprihatinkan. Sektor sentral pertahanan dikawal oleh dua bek veteran, Ricardo Carvalho dan Pepe, yang masing-masing berusia 38 dan 33 tahun. Stok cadangan mereka adalah Bruno Alves dan Jose Fonte. Rata-rata usia empat bek tengah Portugal di Euro 2016 ini adalah 34,5 tahun!

Asosiasi sepakbola Portugal (FPF) bukannya tak menyadari pentingnya menyiapkan generasi sepakbola masa datang. Awal April lalu, FPF baru saja meresmikan kompleks latihan sepakbola modern yang diberi nama "Ciudade de Futebol" -- Kota Sepakbola. Fasilitas itu dibangun atas dasar dana program UEFA, HatTrick, yang terdiri dari satu stadion kecil, dua lapangan alami berukuran standar internasional, kamar ganti canggih, ruang perawatan, keamanan, dan gudang; serta gedung utama yang memiliki atrium, area pameran, pusat pertemuan, restoran, dan kafetaria.

Masa depan tampak cerah seiring keberhasilan Portugal menjuarai Kejuaraan Eropa U-17 di Azerbaijan bulan lalu setidaknya mendatangkan titik cerah. Penyerang muda asal Benfica, Jose Gomes, muncul sebagai topskor dengan tujuh gol. Tapi, agaknya perlu waktu memadai untuk menunggu remaja kelahiran Guinea Bissau 17 tahun yang lalu itu untuk tampil konsisten di pentas senior.

Bek gaek Ricardo Carvalho. Total usia empat bek sentral Portugal 137 tahun!

Sambil menanti kematangan Gomes dan munculnya bintang-bintang baru hasil didikan Kota Sepakbola, segala ekspektasi tetap ditumpahkan ke hadapan Ronaldo. Rabu (22/6) esok, Portugal menghadapi laga penentuan Grup F melawan Hongaria untuk memastikan tempat di babak 16 besar. Dengan kekuatan tim yang apa adanya, tidak adil menempatkan Ronaldo sebagai satu-satunya sasaran empuk ejekan maupun hujatan dari fans yang kecewa.

Sepakbola diperkenalkan oleh seorang pelajar Inggris bernama Harry Hinton di Madeira pada 1875. Seratus sepuluh tahun berselang, Madeira memberikan Portugal Ronaldo. Di Prancis kini, Ronaldo mengemban misi luhur yang jauh lebih penting daripada sekadar melesakkan gol, yaitu menghidupkan lagi inspirasi sepakbola Portugal yang atraktif.

Untuk melakukannya, Ronaldo tak dapat tampil sendiran. Tidak ada pemain yang sanggup tampil seorang diri menjadi juru selamat bagi timnya -- kecuali Anda Diego Maradona.