Masih No. 1 Di Usia 38 Tahun: Gianluigi Buffon Adalah Kiper Terbaik Sepanjang Masa

Pemain yang melakoni debut profesionalnya 20 tahun silam ini masih merupakan kiper dengan ranking tertinggi, sekaligus penegas dirinya sebagai ikon No.1.

Dalam sesi tanya-jawab dengan Juventini cilik tahun lalu, seorang bocah berdiri dan memperkenalkan dirinya. Anak ingusan itu bernama Lorenzo dan dia berasal dari Parma.

"Ini pertanyaan saya," si bocah memulai. "Mengapa Anda memutuskan tetap bersama Juventus ketika didegradasi ke Serie B Italia [pada 2006] padahal Anda adalah sang juara dunia, yang membuat banyak klub besar menginginkan Anda?"

"Hai Lorenzo," Gianluigi Buffon menjawab. "Sampaikan salam kasih saya pada Parma ketika kamu pulang - mereka selalu memiliki tempat di hati saya.

"Jadi, saya memilih untuk turun ke Serie B bersama Juve karena saya memikirkan orang-orang sepertimu. Saya memikirkan orang-orang sepertimu karena di sepakbola kita banyak berbicara. Tapi saya yakin, akan hadir momen di mana Anda butuh mengubah kata-kata dengan perbuatan."

Buffon sudah menghabiskan kariernya dengan membiarkan sepakbola berbicara tentangnya. Ketika mantan pelatih Parma, Nevio Scala, datang kepadanya pada 18 November 1995 dan berkata bakal memberikan debut profesional untuknya melawan AC Milan, pemain yang kala itu masih berusia 17 ini menjawab singkat: "Tak masalah, pelatih."

Siang hari esoknya, Buffon kemudian menghadirkan salah satu performa fantastis seorang kiper dalam sejarah Serie A Italia. Dia membuat berbagai penyelamatan yang membuat Parma di luar dugaan sukses menahan imbang 0-0 tim yang saat itu diperkuat legenda macam George Weah dan Roberto Baggio.

Usai laga, Buffon sama sekali tak merayakan kegemilangannya. Bahkan ketika para jurnalis mendatanginya untuk meminta komentar, Buffon hanya memberi jawaban standar dengan berterima kasih pada Scala dan Parma atas kepercayaan yang telah diberikan. "Seolah-olah dia [Buffon] baru saja melakukan hal paling normal di dunia," ungkap mantan rekan setimnya, Alessandro Melli. "Itu seperti dia tak sadar apa yang baru saja dilakukannya."

Meski Buffon kemudian jadi kiper termahal di dunia ketika meninggalkan Parma untuk Juve pada 2001 dan menjuarai Piala Dunia, dirinya tak pernah kehilangan rasa rendah hati.

Ketika Juve didegradasi karena skandal Calciopoli, Buffon dengan tegas menolak tawaran menggiurkan Inter, AC Milan, hingga Arsenal. "Jika saya bisa menjadi juara dunia, itu karena Juve," ujarnya saat itu. "Saya bisa mengatasi keharusan bermain di Serie B selama semusim, untuk melakukan sesuatu yang baru dengan memenanginya."

Seorang pria dengan perkataannya, Buffon memainkan peran kunci atas kembalinya Juve ke Serie A pada upaya pertama. Loyalitasnya tak pernah, dan takkan pernah, dilupakan oleh tifosi I Bianconeri. Namun tetap saja, sosok pria sejati yang tak pernah lupa asalnya.

Itulah alasan mengapa ia menekankan poin akan salam kasihnya pada Parma, dalam sesi tanya-jawab. Itulah alasan mengapa dirinya menginvestasikan uang pada klub tanah kelahirannya, Carrarese. Juga, itulah mengapa memeluk Federicho Bernadeschi layaknya adik, tatkala pemain muda asal Carrara itu berlatih untuk kali perdana di timnas Italia.

"Dia memeluk saya dua atau tiga kali," ujar bintang Fiorentina itu pada La Gazzetta dello Sport. "Perasaan saya luar biasa saat itu, saya sampai merinding."

Kebaikan dan kemurahan hati mengagumkan dari seorang manusia yang ditunjukkan Buffon, disebut mantan kiper no. 1 Milan, Giovanni Galli, sebagai atribut kunci mengapa pemain berjuluk Superman ini jadi penjaga gawang yang luar biasa. Ketika ditanya awal tahun ini soal apa yang membuat Buffon tampak berbeda dari kiper-kiper lainnya, Galli menjawab, "Karakternya, yang mana itu adalah hal terpenting buat seorang kiper."

Tentu saja, ketika Buffon masih di Parma, Scala, Melli dan rekan setim lainnya telah melihat kedewasaan sang kiper yang mendustakan usianya. Kini, pelatih Juve, Massimiliano Allegri, tak henti menyanjung semangat Buffon yang seperti anak muda. Itulah yang membuat sang juru taktik percaya, mengapa pemain 38 tahun tersebut terus berada di level tertinggi sepakbola dalam 20 tahun terakhir.

Perjalanan Buffon tak diragukan telah membuatnya jadi bagian integral untuk mempertahankan peran pentingnya di klub dan timnas. Seperti yang dikatakan gelandang Juve, Claudio Marchisio, setelah kemenangan atas Sassuolo pada Maret lalu, "Gigi [Buffon] punya peran yang sangat penting di ruang ganti sama seperti di lapangan, entah sebagai kapten atau pria. Ia selalu membuktikan profesionalitas dan hasrat kuatnya untuk berkembang setiap hari."

Ini juga membuktikan bahwa Buffon adalah ikon untuk banyak hal. Mantan gelandang Juve, Paul Pogba, menambahkan bagaimana dirinya sanggup dibuat kagum oleh Buffon. Pada tahun pertamanya di Turin, Il Polpo Paul bisa dengan mudah memahami bagaimana caranya untuk ada di puncak hanya dengan melihat pendekatan dan semangat Buffon saat latihan. Tahun lalu Neymar juga mengaku bahwa dirinya secara teratur memilih Juve di PlayStation hanya agar dirinya bisa memainkan Buffon.

Buffon sendiri dengan rasa hormat dan kerendahan hatinya menolak status sebagai kiper terbaik. Ia menyebut kiper Spanyol, Iker Casillas, merupakan penjaga gawang terbaik di era-nya. Namun hal berkebalikan diungkap Casillas, yang menganggap Buffon sebagai inspirasinya. "Siapa saja kiper yang lahir di generasi saya, sudah pasti berkeinginan untuk menirunya [Buffon]," ujar mantan kiper no. 1 Real Madrid tersebut.

Begitu banyak hal yang telah Buffon capai, meskipun, hal-hal tersebut mungkin takkan pernah bisa ditiru pemain lain. Jejaknya takkan pernah lenyap. Pada 20 Maret tahun ini, dalam partai derby melawan Torino, sang skipper Juve berhasil mematahkan rekor emas Sebastiano Rossi di Serie A, yang menjaga gawangnya tetap perawan selama 929 menit. Buffon akhirnya memang terhenti di angka 973, itu pun karena gol penalti, di mana dia kemudian bangkit dan mengambil bola dari jalanya.

Pencapaian tersebut jelas luar biasa, tapi mungkin keberhasilannya mematahkan rekor Dino Zoff sepekan sebelumnya dengan rekor 903 menit, jauh lebih simbolis. Ya, karena Zoff merupakan kapten Italia saat memenangkan Piala Dunia 1982 dan paling kerap dibandingkan dengan Buffon. "Dua pemimpin yang luar biasa," tutur Galli, "pria yang menuntun seluruh timnya."

Walau begitu Buffon juga tak lepas dari kritik. Paling dikenang mungkin terjadi pada 2013 lalu kala legenda sepakbola Jerman, Franz Beckenbauer melabelinya sebagai "pensiunan", akibat kesalahan sang kiper dalam kekalahan Juve dari Bayern Munich di perempat-final Liga Champions. Bagaimanapun, Buffon tetap kiper nomor satu di dunia setelah melalui musim lalu dengan gelar ganda dan performa brilian di Euro 2016.

Konsistensinya menampilkan peforma hebat sungguh mencengangkan dan David Tezeguet punya argumen yang unik. "Buffon adalah kiper terbaik sepanjang masa," tutur eks rekannya di Juve itu pada Maret lalu. "Saya tak melihat siapa pun sanggup mempertahankan performa gemilang, seperti yang Buffon lakukan dalam 20 tahun terakhir.

"Di usianya kini, Buffon masih saja bermain di level teringgi dan ini sungguh pencapaian luar biasa. Saya tak bisa menjelaskan mengapa dia bisa melakukannya," tutur Trezeguet kebingungan.

Sementara itu, mantan pelatih Italia, Antonio Conte, juga berkomentar: "Menemuka kata yang cocok untuk mendeskripsikan Gigi itu sulit."

Ah, mengapa harus bingung? Dengan Buffon untuk kesekian kali membuktikan kembali kualitasnya dalam 12 bulan terakhir, tindakan selalu berbicara jauh lebih keras dari sekadar kata-kata.

Topics