Max Meyer & Schalke 04 Siap Jajal Rematch Kontra Real Madrid

Pemuda 19 tahun ini mencetak gol kemenangan kontra Maribor yang meloloskan Schalke ke fase gugur dan melahirkan komparasi dengan rekan setimnya, Julian Draxler.

Max Meyer menorehkan start mengesankan dalam kariernya di Schalke 04. Setelah membuat debut pada Februari 2013 pada usia 17 tahun, grafik performanya terus menanjak.

Musim lalu ia menjadi pemain reguler dalam line-up Schalke. Ia bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya, mendapat seragam No. 7 yang sebelumnya dikenakan Raul, dan melakukan debut internasional untuk timnas Jerman.

"Dia pemain muda yang sangat menjanjikan," demikian tutur mantan gelandang Bayern Munich Dietmar Hamann kepada Goal. "Dia memiliki atribut sangat bagus, dia cepat, memiliki visi hebat, dan kreatif."

Namun, ada beberapa memori buruk untuk gelandang serang belia ini dari musim penuh pertamanya dalam balutan jersey biru Schalke. Meyer bermain dalam dua leg babak 16 besar Liga Champions melawan Real Madrid. Schalke menelan skor defisit 6-1 di kandang dan 3-1 saat tandang.

Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan Karim Benzema menghasilkan kombinasi delapan gol dalam kemenangan agregat 9-2 untuk Madrid dan banyak yang memandang pertemuan kembali kedua tim di ronde yang sama musim ini sebagai undian mudah buat sang jawara bertahan Eropa.

Bagi Meyer, yang kini setahun lebih tua dan lebih bijak tapi baru berusia 19, ini akan menjadi kesempatan untuk mengukuhkan diri sebagai youngster terhebat di Liga Champions musim ini.

Ada banyak persaingan tetapi Meyer, salah satu 'Engineers of Excitement' Nissan, adalah pemuda yang cukup rutin tampil sebagai starter untuk klubnya ketimbang pemain-pemain belia lain yang masih berangan-angan ambil bagian di kompetisi musim ini.

"Semakin dan semakin sulit untuk para remaja menembus starting XI," ujar Hamann. "Para pelatih di bawah tekanan sangat kuat sehingga mereka memilih pemain yang lebih tua, yang tidak rentan membuat kesalahan."

Schalke tak akan berada di fase knock-out kalau bukan karena Meyer, yang masuk dari bangku cadangan untuk mencetak gol kemenangan di kandang Maribor pekan lalu.

Roberto Di Matteo, sang pelatih Schalke, mengajaknya berparade di depan fans tim tamu selepas peluit panjang dan kemudian menyatakan: "Meyer akan memainkan peran sangat penting di masa depan Schalke." Amat penting sampai-sampai ia diberikan ekstensi kontrak bernilai tinggi ketika baru berumur 18, mendongrak banderol harganya untuk menciutkan tim-tim peminat. "Kontraknya merefleksikan pencapaiannya," tutur general manager Schalke, Horst Heldt.

Meyer telah menyusul jejak bintang Schalke lainnya, Julian Draxler, yang mengorbit dari akademi untuk menembus first team. Seperti Draxler, yang dikabarkan menjadi bidikan Arsenal dan klub-klub lain, Meyer melakoni debut Liga Champions di usia 17 dan mencetak gol Eropa perdananya di usia 19.

Pemain-pemain belia haruslah eksepsional untuk bisa bermain di babak-babak akhir turnamen, namun beberapa nama besar telah berprestasi di usia dini. Patrick Kluivert baru 18 tahun ketika mencetak gol kemenangan Ajax di final kontra AC Milan pada 1995 -- dalam tim yang juga berisikan Clarence Seedorf dan Nwankwo Kanu, yang keduanya baru berusia 19 ketika itu.

Cesc Fabregas bermain untuk Arsenal menghadapi Barcelona pada final 2006 sebagai remaja 19 tahun dan Karim Benzema menyumbang gol untuk Lyon ke gawang Manchester United pada 2008. Wayne Rooney, Lionel Messi, dan Bastian Schweinsteiger juga semuanya menonjol dalam turnamen ini di awal karier mereka.

11 dari 16 konstestan yang lolos ke fase knock-out telah menurunkan pemain-pemain remaja di babak grup, tapi hanya Meyer dan Breel Embolo milik FC Basel yang mengemas enam penampilan dan melaju ke putaran selanjutnya.

Calum Chambers, full-back Arsenal, telah memainkan lima laga dan bersama Embolo serta talenta Bayern Munich, Pierre Hojbjerg, ia termasuk starlet paling menjanjikan tahun ini. Ia juga telah tampil di panggung internasional bersama Inggris, sementara Embolo siap melakukan debutnya setelah meneguhkan pilihan untuk membela Swiss ketimbang negara kelahirannya, Kamerun.

Nantikan Meyer, Chambers, dan yang lainnya mewarnai belantika sepakbola untuk waktu lama. "Saya sekarang lebih matang dan saya pikir saya dapat menangani tekanan yang muncul," kata Meyer. Dia juga pastinya menargetkan peningkatan besar dari hasil tahun lalu saat Schalke kembali bersua Real Madrid.

Topics