Membongkar Resep Zinedine Zidane Maksimalkan Cristiano Ronaldo

Zinedine Zidane menerapkan resep khusus guna memaksimalkan performa Cristiano Ronaldo.

Cristiano Ronaldo lagi-lagi menjadi kunci kemenangan Real Madrid saat mencetak hat-trick ke gawang Atletico Madrid pada leg pertama semi-final Liga Champions, Selasa (2/5) malam. Apa yang menjadi rahasia penampilannya? Jawabannya: resep mujarab Zinedine Zidane.

Tambahan tiga gol membuat Ronaldo kini mengumpulkan total sepuluh gol dari 11 penampilan di Liga Champions musim ini. Hebatnya, Ronaldo juga mengemas lima gol pada pertandingan sebelumnya ketika Madrid menyingkirkan Bayern Munich di babak delapan besar. 

Musim 2016/17 tidak berjalan mulus untuk Ronaldo. Tidak seperti musim-musim sebelumnya, Ronaldo mulai memperlihatkan gejala penurunan penampilan. Sang megabintang kesulitan mencetak gol dan bahkan salah melakukan kontrol bola. Fans Santiago Bernabeu pun mulai mencemoohnya.

"Saya tak minta fans untuk memberi nama jalan sesuai nama saya, saya hanya minta agar mereka berhenti mengejek di Bernabeu. Saya selalu memberikan yang terbaik dan meski saya tidak mencetak gol, saya mencoba membantu Madrid," ujar Ronaldo membela diri. Permintaan serupa kembali diulanginya di Bernabeu tadi malam.

Rekor gol Ronaldo memang jauh menurun. Hingga laga melawan Atletico, Selasa malam tadi, Ronaldo baru mengemas 35 gol dari 41 pertandingan. Padahal, bintang Portugal ini mencatat rata-rata 55 gol per musim sejak 2011/12.

Catatan rata-rata gol per menit Ronaldo pun menurun. Ronaldo mencatat 76 menit per gol yang dihasilkan pada 2014/15 -- rekor terbaiknya dalam lima musim terakhir. Kini, fans harus menunggu hingga 105 menit untuk menyaksikan Ronaldo menyarangkan gol.

Sulit dibantah jika usia menjadi salah satu faktor penurunan ini. Ronaldo menginjak usia 32 tahun, Februari lalu. Perlu mengatur siasat agar Ronaldo tetap menjadi andalan Madrid. Zidane melakukannya dengan menerapkan "Dua R", yaitu "Rotasi" dan "Rehat".

Zidane belajar dari pengalaman musim lalu. Sejak Tahun Baru 2016, Ronaldo bermain penuh dalam 20 dari 21 pertandingan Madrid hingga pekan ketiga April. Hanya sekali dia digantikan, itupun terjadi pada satu menit terakhir pertandingan babak 16 besar Liga Champions melawan AS Roma.

Akibatnya, Ronaldo mengalami cedera otot. Ronaldo absen pada Jornada 35 dan 36 Primera Liga Spanyol, serta pada leg pertama semi-final Liga Champions melawan Manchester City. Saat leg kedua dan ditambah final, Ronaldo tak mampu mencetak gol meski Madrid berhasil menjadi juara Liga Champions.

Zidane sadar. Menilai kinerja Ronaldo kini harus berfokus pada kualitas, bukan kuantitas. Zidane pun menyiapkan Ronaldo agar fit pada laga-laga krusial yang dihadapi Madrid.

Sinyal itu sudah dimulai Zidane ketika Ronaldo disimpan menjelang Piala Dunia Antarklub, Desember lalu. Ronaldo tak dimainkan menghadapi Deportivo La Coruna, empat hari sebelum berlaga di Jepang. Hasilnya, sang andalan mampu mencetak empat gol dalam dua penampilan. Di final, Ronaldo bermain 120 menit dan mencetak hat-trick untuk membawa Madrid menaklukkan perlawanan Kashima Antlers.

Trik serupa diterapkan Zidane saat Madrid bersiap menghadapi Bayern di perempat-final Liga Champions. Ronaldo diistirahatkan pada Jornada 30, 32, dan 34 La Liga yang digelar sepanjang April. Seperti kita ketahui, Ronaldo sukses lima kali menjebol gawang Manuel Neuer. Tiga di antaranya dilakukan pada 120 menit pertandingan leg kedua di Bernabeu.

Di hadapan fans Bernabeu, Ronaldo merayakan gol pertamanya ke gawang Bayern dengan menaruh telunjuk di depan mulut. Seolah dia ingin membungkam semua kritik yang ditujukan kepadanya sepanjang musim.

"Dia hanya perlu tenang dan membuktikan diri di atas lapangan. Tidak banyak pemain yang mampu muncul saat momen-momen penentu. Fans akan selalu berterima kasih atas kontribusi Cristiano," puji Zidane usai pertandingan kala itu.

"Dia selalu tahu, ketika tiba saatnya momen penentu, dia akan muncul dan malam ini dia kembali membuktikannya."

Fans Madrid mungkin tidak lagi bisa berharap lebih Ronaldo mencetak quattrick, quintrick, hingga lebih dari 50 gol semusim, tapi mereka dapat beralih menumpukan ekspektasi agar sang bintang selalu muncul pada saat-saat menentukan.

Ataukah barangkali kecemerlangan ini malah menjadi pencetus penjualan Ronaldo pada musim panas ketika nilai transfernya masih bagus?