Menakar Kepantasan Kiatisuk Senamuang Untuk Latih Persib Bandung

Analisis kepantasan Kiatisuk Senamuang, yang muncul sebagai figur populer untuk menangani Persib Bandung...

Dua kekalahan beruntun dan Persib Bandung mencapai titik didih di bulan Ramadan ini. Sempat tampil prima tanpa terkalahkan dalam tujuh pertandingan Liga 1 Indonesia, tiga di antaranya kemenangan beruntun, Persib mengendurkan pedal gas. Diawali dengan dua hasil imbang melawan Semen Padang dan Borneo FC, Persib menderita ditekuk Bali United dan Bhayangkara FC.

Tekanan meningkat. Bobotoh yang tak puas dengan permainan tim menyuarakan protes dengan meluruk lapangan Stadion Patriot, Bekasi. Suara menuntut pergantian pelatih dan penyegaran manajemen kian kencang. Puncaknya, Senin (5/6), pelatih Djadjang Nurdjaman menyatakan pengunduran diri dan kini nasibnya ditentukan manajemen.

Bersamaan dengan itu, bobotoh mengapungkan sejumlah nama yang dinilai pantas menangani Persib. Mulai dari Kiatisuk Senamuang hingga Dejan Antonic. Nama pertama lebih populer dalam pembicaraan di kalangan bobotoh, tetapi apakah Kiatisuk figur yang cocok untuk menangani Persib?

REPUTASI

Zico, demikian sapaan akrabnya, memupuk reputasi sejak masih aktif bermain. Dia dikenal sebagai striker tajam timnas Thailand yang bergelimang gelar pada 1990-an hingga awal 2000-an. Reputasi Zico kian melejit ketika berkiprah untuk Huddersfield Town, yang saat itu berlaga di Divisi Satu Inggris atau kini Championship.

Zico mengumpulkan tiga trofi Piala AFF dan empat medali emas SEA Games bersama timnas Thailand. Rekor pribadinya mentereng, dengan koleksi 71 gol dalam 134 penampilan internasional. Menariknya, dari jumlah gol sebanyak itu, Zico tercatat hanya pernah satu kali menjebol gawang Indonesia.

Setelah sempat bermain di Malaysia dan Singapura, karier bermain Zico ditutup di Vietnam bersama Hoang Anh Gia Lai. Klub yang sama tempat dia memulai karier sebagai pelatih dalam usia 33 tahun. Dia kemudian berpindah menangani Chula United, Chonburi FC, dan Bangkok FC. Koleksi gelarnya hanya satu, yaitu Piala Kor Royal 2009 -- semacam Community Shield, yang mempertemukan juara dan runner-up liga Thailand musim sebelumnya.

Reputasi Zico menggema di kawasan Asia Tenggara ketika sukses membawa Thailand U-23 merengkuh medali emas SEA Games 2013. Itu merupakan medali emas pertama Thailand sejak 2007. Zico juga mampu membawa Thailand U-23 menembus semi-final Asian Games 2014.

Prestasi itu membuatnya dipercaya menangani timnas senior. Hasilnya, mujarab. Zico mengakhiri kemarau gelar Thailand di Piala AFF sejak 2002. Dia mampu membawa tim Gajah Perang merebut trofi Piala AFF 2014 dan mempertahankannya dua tahun berselang.

A post shared by Kiatisuk Senamuang (@coach_zico) on

FILOSOFI

Zico dikenal sebagai pelatih yang mengusung sepakbola ofensif dengan operan-operan yang cepat. Publik menjuluki gaya bermainnya, "tik-tok" -- merujuk kepada sepakbola indah ala Barcelona. Gaya bermain itu diusung karena kebanyakan pemain Thailand bertubuh kecil, jika dibandingkan dengan pesepakbola Eropa.

"Kalau kami terlalu lama memegang bola, kami akan terhambat. Kami harus cepat. Rebut bola, cepat, oper, terima, cepat, umpan... itulah tik-tok," jelasnya dalam wawancara kepada Straits Times.

"Bayangkan Chanathip Songkrasin seperti Ferrari. Ferrari cepat, tapi kalau dibawa melaju ke arah tembok, siapa yang menang? Tembok, tentu saja. Itulah kenapa dia harus secepatnya melepaskan bola karena banyak pemain yang berbadan lebih besar darinya yang menghadang."

Gaya "tik-tok" Zico menjadi viral ketika permainan 27 sentuhan mereka, -- meski sayangnya gagal mencetak gol, memukau fans sepakbola Asia Tenggara pada Piala AFF 2014 lalu.

"MEMBAKAR JEMBATAN"

Kiprah Zico sebagai pelatih Thailand berakhir Maret lalu. Penyebabnya, Thailand hanya mampu meraih satu poin dari tujuh pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Beberapa saat setelah dikalahkan Jepang 4-0 di Stadion Saitama, Zico memutuskan untuk meletakkan jabatan setelah bertugas selama empat tahun. Keputusan itu rencananya akan disampaikan secara resmi dalam sebuah konferensi pers.

Sukses di kancah regional tidak lagi cukup bagi fans Thailand. Mereka menginginkan agar tim Gajah Perang menatap level yang lebih tinggi, yaitu bicara di level Asia dan kemudian pada puncaknya lolos ke Piala Dunia. Itu tidak berhasil diwujudkan Zico, yang dianggap terlalu naif tetap memainkan sepakbola menyerang ketika menghadapi Jepang, Australia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Pengunduran diri Zico rupanya membalikkan popularitas di hadapan fans.

"Dia mulai menyalahkan siapa pun -- FA Thailand, presiden FA Thailand, para pemain, fans, dan lain-lain. Dia membakar terlalu banyak jembatan. Sosok Zico yang dicintai runtuh seketika hanya dalam waktu 48 jam," ujar Thana Wongmanee.

Zico membatalkan kehadiran dalam konferensi pers pengunduran diri tanpa alasan yang jelas. Alih-alih hadir di depan publik, pelatih 43 tahun itu malah mengepos sebuah puisi di akun Facebook miliknya. Puisi itu bercerita tentang seorang pemberani yang mengembalikan kejayaan timnas Thailand dan kepercayaan publik, tetapi kini harus pergi. Zico bilang, puisi itu berasal dari ungkapan perasaan seorang fans.

TANGGAPAN FANS THAILAND TENTANG RUMOR PERSIB

Perpisahan buruk itu masih menyisakan rasa getir di kalangan fans Thailand ketika mendengar informasi bahwa Zico menjadi salah satu sosok yang diinginkan bobotoh Persib.

Watcharaphon Kamolnarumeth berkomentar, "Kelihatannya pelatih mereka [Djanur] tidak begitu pandai dalam berpuisi."

"Mereka harusnya lebih dulu mencari tahu penampilannya bersama BBCU [Chula United]," timpal Pronchai Seed.

Chula United menjadi klub Thailand pertama yang ditangani Zico pada 2008. Setelah pindah menangani Chonburi dan Hoang Anh Gia Lai (untuk kali kedua), Zico kembali menangani Chula United pada akhir 2010. 

Setahun kemudian, dia sukses membawa Chula United promosi ke Liga Primer. Namun, setelah hanya meraih satu kemenangan dan menelan lima kekalahan dalam sepuluh pertandingan di kancah teratas sepakbola Thailand, Zico mundur.

Beberapa fans mendukung langkah Zico menangani sebuah tim dari luar Thailand untuk memulihkan reputasi, 

"Saya harap dia benar-benar bergabung ke sana," tukas Drtapong Jaidee. "Jadi, dia bisa membuktikan apakah dia punya kemampuan membawa tim menjadi juara atau tidak -- karena banyak orang yang bilang siapa pun bisa membawa Thailand jadi juara [Piala AFF]."

Tetapi, sindiran tetap muncul.

"Ambil kesempatan itu jika mampu, tunjukkan kalau kau mampu melakukannya tidak hanya di Thailand. Jelas mereka sanggup membayar gajimu, tapi mungkin tidak ada 'chicken soup' di sana," ujar Es Mudplerng, merujuk pada judul buku psikologi populer.

Lain lagi seperti yang dibilang Nakharin Wareesuwan, "Saya mendukung langkah itu. Banyak kesempatan produk dan jasa di sana. Dia pasti punya banyak event untuk didatangi."

Lazim diketahui fans Thailand, Zico memiliki sebuah perusahaan pemasaran yang memanfaatkan nama dan reputasinya sebagai brand. Usaha yang dijalankan bersama sang istri itu membawanya tampil mempromosikan berbagai produk dalam banyak kesempatan. Saat masih menjabat sebagai pelatih, tidak jarang kegiatan itu bertentangan dengan kepentingan pemasaran timnas Thailand.

KANS

Tulisan ini dibuat tetap dengan memerhatikan angin kedua yang diperoleh Djanur. Tetap ada kemungkinan Djanur masih menangani Persib -- setidaknya hingga putaran pertama Liga 1 berakhir. Setelah itu, kalau pun Persib hendak mencari pelatih baru, banyak nama lain yang beredar dan pantas dipertimbangkan.

Begitu juga dengan peluang Kiatisuk Senamuang menjadi pelatih baru Persib. Adanya sejarah Thailand connection adalah salah satu faktor pendukung yang penting. Begitu juga dengan faktor motivasi Zico untuk memulihkan reputasi sebagai pelatih top Asia Tenggara. Faktor lain yang dapat muncul dalam mempertimbangkan kepantasan Zico sebagai pelatih baru Persib adalah bahasa dan negosiasi besaran harga kontrak.

Meski mendapat banyak sindiran dan disambut reaksi negatif, Zico tetap diharapkan fans Thailand untuk dapat meraih sukses di tempat lain.

"Bayangkan Britney Spears," imbuh Thana Wongmanee. "Reputasinya turun ke titik terendah ketika orang-orang tidak lagi bisa membicarakan hal baik tentangnya. Tetapi, semua orang senang ketika dia muncul kembali."

Kemungkinan Zico kembali melatih selalu terbuka. Aktivitas Zico sendiri saat ini adalah mengejar lisensi kepelatihan AFC. Jika semangat melatih Zico kembali muncul, ada tujuan yang dinilai aman bagi sang juru taktik.

"Hoang Anh Gia Lai. Bagi Zico, di sana sudah seperti Madeira bagi Cristiano Ronaldo. Ronaldo tak mungkin salah bagi warga Madeira, Zico pun tidak mungkin salah bagi Hoang Anh Gia Lai. Di sana dia tidak tersentuh," pungkas Thana.