Mengenal Para Kandidat Pelatih Timnas Indonesia

PSSI telah mengumumkan para kandidat pelatih timnas Indonesia untuk senior hingga kelompok usia.

PSSI melalui ketua umum Edy Rahmayadi sudah mengumumkan siapa saja yang jadi kandidat pelatih tim nasional Indonesia dari mulai senior hingga kelompok usia, pada kongres tahunan PSSI 2017, yang dilaksanakan di Bandung.

Untuk senior, ada dua juru taktik berdarah Spanyol, yakni Luis Fernandez dan Luis Milla. Untuk Fernandez, sejatinya pria kelahiran Tenerife itu berkewarganegaraan Prancis dan pernah membela Prancis bersama Michel Platini.

Pelatih senior nantinya akan rangkap jabatan sebagai pelatih timnas U-22/U-23 untuk SEA Games 2017 mendatang. Mengingat, kalender turnamen resmi untuk timnas Indonesia kosong hingga 2018 nanti.

Fernandez pensiun sebagai pemain pada 1993 dan memulai karier manajerial bersama tim asal Prancis, Cannes. Meski berdarah Spanyol 100 persen, ia sudah hidup di Prancis sejak usia sembilan tahun karena mengikuti kedua orang tuanya. Ia mulai mengolah si kulit bundar bersama tim daerah AS Minguettes dan kemudian menjadi warga negara Prancis sejak 1981.

Pria yang kini berusia 57 tahun itu cukup manis ketika mengawali dunia kepelatihan, yang mana ia dinobatkan sebagai pelatih terbaik Ligue 1 karena dengan membawa Cannes ke kancah Eropa. Meski berposisi sebagai pemain bertahan, bek atau jangkar, ia meracik Cannes dengan filosofi menyerang dan mengandalkan pemain muda.

Mengilapnya raihan Fernanez bersama Cannes membuka pintu baginya untuk menukangi Paris Saint-Germain. Dua musim bersama Les Parisien, ia meraih dua gelar piala domestik namun gagal menjadi kampiun Ligue 1.

Tapi di kompetisi Eropa, PSG cukup impresif dengan mampu menumbangkan AC Milan dan akhirnya tersisih oleh Barcelona yang begitu digdaya di bawah kendali Johan Cruyff.

Karier Fernandez bersama PSG berakhir pada 1995/96, namun mampu mempersembahkan gelar Piala Winners dengan mengalahkan wakil Austria, Rapid Vienna. Setelahnya, ia pernah menukangi Espanyol, Athletic Bilbao, Real Betis, Al Rayyan, Reims, timnas Israel dan Guineia.

Bicara usia muda, maka Luis Milla boleh dibilang salah satu pelatih asal Spanyol yang lama bergelut di pembinaan usia muda dan berkutat bersama timnas junior Spanyol. Usianya masih 50 tahun, dan salah satu pelatih yang merasakan sistem pembinaan La Masia milik Barcelona yang tersohor itu.

Sebagai pemain, Milla berpetualang membela klub-klub papan atas Spanyol dari mulai Barcelona, Real Madrid hingga Valencia. Sementara sebagai pelatih, ia mengawali kariernya tersebut bersama klub kasta bawah Spanyol, Pucol, pada 2006. Kemudian pindah ke Getafe namun menjadi asisten dari Michael Laudrup.

Musim selanjutnya Milla pun meninggalkan Getafe karena ditunjuk sebagai pelatih timnas Spanyol U-19. Matador Junior tak bisa menembus fase grup di bawah arahan Milla pada Piala Eropa U-19 2009. Milla tetap dipercaya menukangi U-9 Spanyol dan jadi runner-up pada edisi 2010 usai kalah dari Prancis yang jadi tuan rumah.

Titel pertama Milla sebagai pelatih akhirnya direngkuh pada 2011 ketika menukangi Spanyol U-21. Digelar di Denmark, Spanyol U-21 menasbihkan gelar ketiga mereka pada ajang ini dengan mengalahkan Swiss pada laga final, 2-0. Kala itu Spanyol U-21 diperkuat Ander Herrera, Thiago Alcantara, Rodrigo, Juan Mata hingga David De Gea.

Milla kemudian melanjutkan kariernya sebagai juru taktik Spanyol U-23 dan hanya setahun saja pada 2013. Ia kemudian mencoba peruntungan di level klub bersama Al Jazira, Lugo hingga Real Zaragoza. Namun tak pernah lagi mengangkat trofi.

Indra Sjafri kembali jadi kandidat pelatih timnas Indonesia U-19 bersama Wolfgang Pikal. Indra tentu tak asing bagi pencinta sepakbola Tanah Air sebagaimana ia pernah mempersembahkan gelar juara Piala AFF U-19 pada 2013. Indonesia U-19 mendapat julukan Garuda Jaya bersama Indra, mereka mampu tampil di Piala Asia U-19 2014, walau akhirnya impian Piala Dunia U-20 kandas karena lolos fase grup pun tidak.

Sementara Pikal, pria asal Austria ini lebih dikenal sebagai orang kepercayaan Alfred Riedl di tim nasional Indonesia senior. Tiga edisi Piala AFF dilewati Pikal bersama Riedl, dua berakhir sebagai runner-up (2010 dan 2016), sementara pada edisi 2014 tak mampu lolos fase grup.

Pikal juga pernah menukangi Arema. Sebagai pemain, ia pensiun dini di usia 22 tahun karena cedera parah. Ia fokus menekuni dunia kepelatihan, mengambil ilmu di berbagai klub Eropa seperti Arsenal, Ajax Amsterdam, Aston Villa hingga menangani akademi junior Real Madrid di Bali.

Untuk timnas Indonesia U-15, Fakhri Husaini jadi kandidat bersama Rudy Eka Priyambada. Keduanya dikenal fokus melatih tim usia muda dan sama-sama punya pengalaman di level tersebut.

Fakhri jadi orang yang paling kecewa karena dampak konflik PSSI dan Kemenpora yang menyebabkan sanksi FIFA jatuh. Padahal, ia sudah menggeber persiapan untuk timnas U-16 dan U-19 untuk Piala AFF. Fakhri dikenal sebagai kapten timnas Indonesia pertama ketika Piala AFF digulirkan 20 tahun lalu.

Sementara Rudy, sosok pelatih muda yang kini masih membesut tim Divisi Utama Celebest FC ini pernah menjadi staf pelatih tim Bahrain, Al Najma. Ia mulai dikenal ketika masuk rombongan tim analisis timnas Indonesia U-19, era Indra, yang menjuarai Piala AFF U-19 2013.