Mengenal Tomas Rincon, "Guerrero" Baru Dari Venezuela

Peran "Guerrero" milik Arturo Vidal yang lenyap selama setahun lebih di Juventus, tampak bakal terisi lagi berkat kedatangan Tomas Rincon.

Gencar dikatikan dengan sederet gelandang papan atas Eropa di bursa musim dingin ini, Juventus justru membuat kejutan dengan gaet nama yang terdengar asing.

Adalah Tomas Rincon, yang diboyong dari Genoa lewat banderol €8 juta plus tambahan €1 juta tergantung performa.

Pemain yang dikontrak hingga musim panas 2020 itu tentu saja membuat mayoritas khalayak sepakbola mengernyitkan dahi. Terutama bagi mereka yang tak mengikuti sepakbola Italia. Siapa Rincon ini? Mengapa Juve yang targetkan gelar Liga Champions mau memboyongnya?

Satu hal yang terdengar wajar karena di usia Rincon yang sudah menginjak 28 tahun, kariernya bisa dikatakan lamban. Sebelum berlabuh ke Juve, mayoritas waktunya di sepakbola dihabiskan bersama klub-klub medioker.

Rincon masih berkutat di liga lokal negaranya, Venezuela, hingga usia 21 tahun. Ia kemudian hijrah ke Hamburg SV yang kini sudah jadi tim papan bawah Bundesliga Jerman, sebelum dikenal bersama klub medioker Serie A Italia, Genoa.

Padahal sebelum khalayak sepakbola ngeh dengan eksistensinya yang membuat Juve tergoda, Rincon merupakan sosok populer di Amerika Selatan.

Tatkala masih berkarier di Venezuela, Rincon muda gemilang bersama timnas junior dan mampu menarik hati tim-tim top Latin semacam San Lorenzo, Corinthians, hingga Boca Juniors.

Puncaknya adalah ketika Rincon terpilih sebagai pemain terbaik Copa America 2011 versi Adidas, usai membawa negaranya jadi semi-finalis. Dirinya meraih 65 persen suara dari para panelis, mengalahkan nama-nama beken macam Robinho, Lionel Messi, dan pemain terbaik turnamen sesungguhnya, Luis Suarez. Satu alasan yang kemudian membuatnya kini jadi kapten timnas Venezuela.

Penggemar Bundesliga juga pasti mengenal betul daya jual kualitas Rincon. Empat setengah musim di Hamburg, dirinyalah idola utama publik kota terbesar kedua di Jerman tersebut, mengalahkan pesona Rafael Van der Vaart.

Jurnalis setempat, Daniel Busch, punya penjelasan lebih detail. "Rincon begitu cepat jadi idola publik Hamburg, berkat dedikasi dan totalitasnya untuk klub ini. Dia adalah satu dari sedikit pemain paling profesional di Hamburg dalam beberapa tahun terakhir. Dia tidak pernah tidak memberikan segalanya," tuturnya, seperti dikutip Bleacher Report.

Berbicara posisi, Rincon merupakan pemain versatil yang khas dengan sepakbola masa kini. Posisi aslinya memang sebagai gelandang bertahan, tapi dirinya juga bisa diminta lebih menyerang hingga jadi bek kanan.

Menyoal gaya bermain, Rincon layak diidentikan dengan eks pujaan Juventini, Arturo Vidal, lewat versi yang lebih defensif. Ya, dia adalah tipe gelandang box to box, tapi tak kaku dengan balutan skill mencolok ala pesepakbola Latin.

Staminanya luar biasa dan semangat juangnya selama 90 menit laga tak perlu dipertanyakan, seperti sudah diungkap oleh Busch. Karenanya tak heran bila Rincon punya julukan yang sama dengan Vidal, yakni "Il Guerrero" yang memiliki arti "Sang Pejuang". Pandangan lain diberikan Tuttosport, yang menyebutnya sebagai "Edgar Davids Baru".

Kehadirannya bisa jadi solusi kurangnya gairah permainan Juve dalam setahun terakhir. Hilangnya karakter gelandang pejuang yang skillful jadi alasan utama. Claudio Marchisio, Sami Khedira, Anderson Hernanes, Miralem Pjanic, Kwadwo Asamoah, dan Mario Lemina bagus secara skill, tapi tidak secara fisik. Sementara figur spartan macam Stefano Sturaro, punya kualitas teknis yang memprihatinkan.

Dengan situasi yang ada plus karakter spesial Rincon, bukan tak mungkin dirinya berpotensi langsung menembus starting XI. Ia bisa mengisi pos Marchisio sebagai jangkar, untuk menggeser sang Pangeran Turin ke posisi asli di pos gelandang pendamping. Sementara Miralem Pjanic bisa menahbiskan peran barunya sebagai trequartista.

Kemungkinan itu tak tak mengada-ada bila menilik statistik Rincon di Serie A musim ini. Menyinggung sisi defensif terlebih dahulu, seperti dilansir Opta dan Whoscored, dirinya unggul segalanya dari seluruh gelandang Juve. Mulai dari tekel sukses (1,9 per partai), duel area (1,2 per partai), hingga sapuan bola (1,4 per partai).

Beranjak ke distribusi bola, Rincon kembali mengejutkan karena punya rerata umpan yang jauh lebih banyak dari gelandang Juve lewat angka 50,8 per partai. Akurasinya juga istimewa sebesar 83,6 persen, menyamai Marchisio dan hanya kalah dari Pjanic.

Rincon bahkan punya statistik brilian di sektor penyerangan. Jika dihitung sejak awal musim lalu, akurasi dribble-nya menjadi yang terbaik di Serie A untuk koleksi di atas 75 percobaan, lewat persentaes 74,4 persen! Rerata umpan kuncinya musim ini juga tak mengecewakan, dengan 1,11 per partai. Angka itu hanya kalah dari Khedira (1,5 per partai) dan Pjanic (2,2 per partai).

Dari paparan di atas, jelas bahwa Juve membeli Rincon karena kualitasnya. Bukan lantaran panik akibat gagal dapatkan gelandang lain dengan nama mentereng, yang lebih memilih uang seperti Axel Witsel.

Kini segalanya bergantung pada sang pelatih, Massimiliano Allegri, yang diberi tantangan baru memaksimalkan kualitas Rincon untuk buat permainan Juve lebih garang. Karena soal loyalitas dan totalitas, tak ada yang perlu diragukan lagi dari Il Guerrero asal Venezuela ini.