Mengevaluasi Setengah Musim Pep Guardiola Di Manchester City

Ekspektasi tinggi menyertai kedatangan Pep Guardiola ke Etihad, namun sejauh ini ia kesulitan menancapkan kukunya di Liga Primer Inggris.

Start impian Manchester City pada awal era Pep Guardiola kini terasa seperti itu. Tak lebih dari sebuah mimpi indah, sebelum Guardiola dipaksa bangun oleh alarm nyaring berwujud persaingan keras di Liga Primer Inggris.

Sepuluh kemenangan berturut-turut menjadi rekor terbaik klub memulai musim. Namun, begitu laju tersebut terhenti seturut hasil 3-3 di kandang Celtic pada partai Liga Champions, performa City kolaps dan mereka tak kunjung memulihkan kembali konsistensi seperti sedia kala.

Dari selalu menang, City kemudian malah melewati enam pertandingan berikutnya tanpa sekali pun mencicipi kemenangan, termasuk dihantam Tottenham Hotspur 2-0 (EPL), Barcelona 4-0 (Liga Champions), dan Manchester United 1-0 (Piala Liga).

Pucuk klasemen lepas, dan anak-anak Guardiola bahkan sempat terlempar keluar dari empat besar setelah ditekuk Liverpool 1-0 di Anfield pada malam Tahun Baru kemarin. Itu adalah kekalahan liga keempat Pep di 2016/17, sudah dua kali lipat ketimbang yang dideritanya sebagai nakhoda Bayern Munich di Bundesliga musim lalu.

Kritikan pun menerjang deras pria Catalan tersebut. Reputasi masyhurnya digugat. Metodenya tak bekerja di Inggris dan ia dicap pelatih medioker yang tak bisa apa-apa tanpa amunisi kakap sekelas Lionel Messi di Barcelona atau Robert Lewandowski di Bayern.

“Apa menurutmu saya spesial atau berbeda? Tentu saja tidak,” ujar Guardiola dalam wawancara dengan Thierry Henry, mantan anak asuhnya yang kini berperan sebagai pandit Sky Sports.

“Tetapi mereka bilang kami beruntung, kami beruntung memiliki pemain-pemain sepertimu [Henry], seperti Messi, seperti Philipp Lahm, seperti Xabi Alonso, seperti Lewandowski, dan itulah kenapa saya meraih sukses.”

“Saat saya meraih banyak prestasi di Barcelona, saya sering sekali mengatakan dalam konferensi pers, ‘Kami menang karena saya memiliki pemain-pemain luar biasa’. Klub megah, pemain-pemain istimewa. Dan orang-orang bilang, ‘Ah dia rendah hati. Dia pura-pura rendah hati’.”

“Sekarang [mereka bilang begitu], ‘Dia dulu menang karena punya pemain-pemain luar biasa’. Ya, itu benar! Saya sudah katakan itu bertahun-tahun lalu, itu normal!”

Ya, rupanya Guardiola sendiri tak sungkan mengakui ia membutuhkan penggawa-penggawa hebat di lapangan untuk mengejawantahkan filosofi permainannya.

Yang jadi masalah, terlepas dari belanja jorjoran yang dilakukan klub pada jendela transfer musim panas – City menghabiskan lebih dari £170 juta untuk delapan personel baru – level pemain-pemain ini tidak atau tepatnya belum semengilap skuat Barcelona atau Bayern.

John Stones digadang-gadang merepresentasikan Gerard Pique atau Jerome Boateng sebagai bek tengah yang bertugas mengawali serangan dari belakang, namun ia masih sering grogi sehingga performanya banyak diwarnai blunder.

Kiper anyar Claudio Bravo… well, ia tak memberikan jaminan rasa aman di bawah mistar dengan kebiasaan riskannya memamerkan footwork yang begitu dipuja Pep. Tidak heran sebagian publik Etihad masih meratapi keputusan sang manajer mempersilakan Joe Hart pergi.

Raheem Sterling masih labil setelah sebelumnya sempat sajikan permainan impresif di awal rezim Guardiola. Yang dapat diandalkan konsistensinya barangkali hanya Sergio Aguero, Kevin De Bruyne, serta David Silva. Ilkay Gundogan ideal untuk gaya Guardiola, namun eks Borussia Dortmund ini harus diparkir hingga akhir musim akibat cedera ligamen lutut serius.

Memiliki cukup banyak waktu untuk meninjau kekurangan skuat Eastlands sejak diumumkan sebagai calon suksesor Manuel Pellegrini pada Februari silam, Guardiola anehnya tidak mencomot full-back baru.

Lihatlah stok bek sayap Citizens. Dari Pablo Zabaleta, Gael Clichy, Bacary Sagna, sampai Aleksandar Kolarov (yang kerap diplot mengawal jantung pertahanan oleh Guardiola), semua sudah di atas kepala tiga. Dengan usia gaek, para pemain ini lebih susah menerima ide-ide baru yang dituangkan Pep, belum lagi kecepatan mereka tak lagi prima. Berkali-kali Zabaleta tampak kewalahan menjalankan peran full-back/gelandang sentral ala David Alaba atau Lahm di Sabener Strasse.

Skema tiga pemain belakang yang diterapkan Guardiola dalam beberapa kesempatan tidak selalu berjalan mulus, malah cenderung mengkhawatirkan.

"City belum mencapai permainan terbaik," kata Clichy kepada Sky Sports usai kemenangan 2-1 atas Arsenal, bulan lalu. "Guardiola masih beradaptasi."

“Menguasai bola itu bagus, tetapi tidak cukup," tambah si pemain Prancis.

"Saya pikir Guardiola telah melihat betapa sulitnya liga ini yang sangat mengedepankan kekuatan fisik, tapi dia sangat pintar, dan sangat memahami sepakbola," timpal gelandang Yaya Toure, yang kini telah kembali ke tim usai menyelesaikan konflik antara agennya dan sang pelatih.

"Dia selalu ingin menang, menaklukkan sebuah liga, tapi sekarang dia Inggris, situasi lebih rumit. Di Inggris Anda harus sangat kuat menghadapi bola-bola kedua. Sang manajer ingin tim bermain seperti Barcelona. Akan sangat sulit tapi kami akan terus berupaya melakukannya."

Problem terbesar Guardiola mungkin adalah ambisinya untuk terlalu cepat mentransformasi City menjadi sesuai keinginannya. Frekuensi tingginya dalam melakukan utak-atik taktik menjadi pedang bermata dua.

Alih-alih membikin pusing lawan, tinkering Guardiola tak jarang malah membuat bingung anak buahnya sendiri, terlebih dengan laga demi laga di Inggris yang terus bergulir seakan tak pernah ada habisnya.

Keteguhan – boleh juga dibilang kekeraskepalaan – manajer plontos ini berpegang pada metodenya juga dapat berakibat buruk untuk tim.

“Saya tidak melatih tekel. Saya tidak melatih demi tekel… apa itu tekel?” responsnya ketus setelah pasukannya tidak melancarkan satu pun tekel di babak pertama dalam kekalahan 4-2 di kandang Leicester City.

Padahal tekel adalah bagian tak terpisahkan dari sepakbola Inggris, dan para pemain City faktanya memang perlu belajar melakukan tekel akurat. Mereka adalah klub dengan rekor kedisiplinan terburuk di EPL musim ini, sudah mengantongi 46 kartu kuning dan empat kartu merah.

Dalam semua kompetisi City telah diganjar total enam kartu merah, separuhnya untuk Fernandinho yang kembali diusir saat menjamu Burnley, Senin (2/1) kemarin, dan akan melewatkan empat laga berikut.

Pun begitu, selalu ada harapan di balik prahara. Lagi pula kinerja Guardiola di Etihad tidak buruk-buruk amat, dan ia hanya menerima sorotan jauh lebih tajam dikarenakan nama besarnya. Dalam laga terakhir, City mampu merengkuh kemenangan 2-1 dengan kekuatan hanya sepuluh orang usai kartu merah Fernandinho di medio babak pertama. Tetap hasil yang impresif meski lawan mereka “cuma” Burnley – ini adalah tim yang pernah mengalahkan Liverpool dan mengimbangi Manchester United musim ini.

Momen-momen manis lainnya mencakup kemenangan dalam derby Manchester di Old Trafford, performa komprehensif kala melibas Barcelona 3-1 di Etihad, dan kesuksesan membekap Arsenal 2-1 dari posisi tertinggal.

Tak bisa diabaikan pula faktor dewi fortuna. Hasil kontra Chelsea (City menyerah 3-1) akan jauh berbeda apabila tembakan Kevin De Bruyne tidak menabrak mistar. Tiga angka juga kemungkinan dibungkus City menjamu Everton (1-1) andai salah satu eksekusi penalti Aguero dan De Bruyne masuk.

“Laga tak terduga di Inggris sini, itulah yang menjadikannya sangat menarik bagi fans, karena Anda tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Selalu ada sebuah kans terakhir untuk satu tim, yang menjadikan laga sangat indah, tetapi untuk berusaha mengontrolnya adalah jauh lebih sulit dan kami akan membutuhkan waktu lebih,” ucap Guardiola.

“Ini simpel. Saya ingin menyudahi musim dengan tim bermain sesuai yang saya inginkan. Selalu saya berada di sana, di bench, dan kami adalah penonton. Saat saya duduk di sana, saya ingin berdiri, melihat tim saya, dan yang saya lihat adalah yang saya inginkan.”

“Yang akan menjadi rasa frustrasi terbesar saya adalah menuntaskan periode di City dan tim tidak bermain sesuai yang saya inginkan.”