Menguak Ambisi Besar Tiongkok Di Sepakbola

Transfer mahal Oscar hanyalah bagian kecil dari ambisi raksasa Tiongkok untuk membangun negara adidaya di dunia sepakbola.

Jumat (23/12), Shanghai Shenhua mengumumkan peresmian transfer Oscar dari Chelsea. Playmaker Brasil itu didatangkan dengan harga €70 juta dan menjadi pemain termahal dalam sejarah Liga Super Tiongkok (CSL). Tak sampai setahun, rekor transfer yang sebelumnya dipegang oleh Hulk pecah begitu saja.

Melihat perkembangan yang dialami Tiongkok dalam tiga tahun terakhir, fenomena ini mungkin mulai dianggap wajar. Konglomerat Tiongkok mulai mengambil alih saham klub-klub besar Eropa dan membanjirinya dengan dana masif. Di liga domestik Tiongkok, pemain-pemain bintang dengan harga mahal pun datang satu demi satu.

Januari 2016, Ramires jadi pemain termahal CSL setelah Chelsea melepasnya ke Jiangsu Suning dengan banderol €28 juta. Awal Februari di tahun yang sama, rekor tersebut langsung dipecahkan oleh kedatangan dua pemain secara berurutan, yakni Jackson Martinez dan Alex Teixeira. Martinez datang dari Atletico Madrid dengan banderol €42 juta, sementara Teixeira sebesar €50 juta.

Rekor Teixeira ternyata tidak bertahan lama juga. Di bursa transfer musim panas, Hulk datang dari Zenit St Petersburg ke Shanghai dengan tebusan €55,8 juta. Rekor inilah yang dipecahkan oleh Oscar kemarin dan hanya dalam setahun, rekor transfer CSL pecah lima kali. Catatan yang tentu luar biasa karena di Eropa, rekor transfer bahkan bisa bertahan hingga sepuluh tahun lebih.

Transfer-transfer itu tentu tidak hanya berfungsi sebagai penegasan kekayaan investor Tiongkok. Guangzhou Evergrande yang menjuarai Liga Champions AFC menunjukkan bahwa para investor menyimpan ambisi juara. Tak hanya Guangzhou, Shanghai dan Shandong Luneng pelan-pelan memamerkan potensinya di kancah Asia.

Adapun transfer-transfer raksasa tersebut hanyalah sebagian kecil dari ambisi Tiongkok di dunia sepakbola. Para konglomerat, pemerintah, hingga federasi sepakbola sejatinya sudah menyusun rencana yang lebih mengagumkan: menguasai sepakbola dunia.

Ini bukan sekadar sarkasme. Tahun lalu, federasi sepakbola Tiongkok merilis 50 poin yang mengungkap rancangan transformasi kultur sepakbola. Di dalamnya ada termuat detail-detail reformasi dan pengembangan sepakbola. Tidak hanya mendatangkan pemain bintang, sepakbola Tiongkok berencana untuk membangun sistem manajemen yang kredibel dan profesional – bahkan sampai menanamkan budaya sepakbola di masyarakat.

Kedatangan pemain bintang ke Tiongkok pun sejatinya hanya ditujukan untuk menambah pengalaman di sepakbola domestik. Prinsipnya adalah kombinasi situasi domestik dan pengalaman internasional akan memberikan jalur perkembangan yang baik untuk sepakbola Tiongkok. Karenanya, penting untuk memulai dari situasi Tiongkok dan belajar dari para pemain berpengalaman yang pernah berlaga di liga-liga top dunia.

Marcello Lippi ikut ambil bagian dalam perkembangan sepakbola Tiongkok.

Di samping mendatangkan pemain bintang, revolusi sejatinya juga merambah Eropa. Presiden Tiongkok Xi Jinping turut ambil bagian dalam pengembangan sepakbola di negaranya. Sang presiden bahkan sampai terbang ke Eropa untuk meminta bantuan guna memenuhi ambisinya.

Faktanya, beberapa klub-klub raksasa Eropa mulai dimasuki oleh investor Tiongkok. Pergerakan ini menunjukkan bagaimana Tiongkok berusaha untuk menyelipkan diri dalam pasa sepakbola Eropa. Tujuannya adalah belajar dari sistem pasar sepakbola Eropa, terutama dari sektor komersial, dan menerjemahkannya sesuai dengan konteks sepakbola di negara mereka.

Selain menyapa klub-klub raksasa Eropa, presiden Xi juga berusaha menanamkan kultur sepakbola sejak dini. Sejak 2015, sepakbola ternyata menjadi salah satu mata pelajaran wajib di Tiongkok. Mulai 2017, Tiongkok bahkan berencana untuk membangun sekolah khusus untuk para pesepakbola. Proyek ini sendiri sudah direncanakan sejak kemunculan akademi sepakbola pertama di Evergrande dua tahun lalu.

Jangka panjang, total sekolah sepakbola ditarget sebesar  50.000, menyiapkan Tiongkok dengan kualitas yang cukup untuk bersaing di level dunia. Menjadi tuan rumah dan juara Piala Dunia 15 tahun mendatang adalah ambisi terbesar sang presiden.

Potensi perkembangan di Tiongkok memang bukan main. Dari 1,3 milyar penduduk, Tiongkok sebenarnya tidak punya timnas sepakbola yang bisa dibanggakan. Olahraga yang menjadi kebanggaan di sana adalah tenis meja dan badminton. Keduanya merupakan olahraga yang populer walau menjadi olahraga individu.

Terlepas dari itu, Tiongkok punya hasrat menonton sepakbola yang cukup tinggi. Bahkan sebanyak 350 juta fans sepakbola menonton Liga Primer Inggris dari saluran televisi Tiongkok. Di kancah domestik, rata-rata penonton yang hadir di CSL mengalami peningkatan drastis sejak lima tahun terakhir dan mencapai 22.000 penonton per pertandingan. Hak siar CSL bahkan mengalami kenaikan drastis dalam setahun. Seperti dilansir The Guardian, jika pada 2015 hak siar CSL hanya $9 juta per musim, maka mulai 2016 angka itu akan naik super siginifkan sebesar $250 juta per musim! Jumlah itu merupakan bagian dari kontrak senilai $1,5 triliun untuk lima tahun ke depan.

Melihat rencana hebat, dukungan politik, serta ambisi besar Tiongkok, transfer Oscar hanyalah batu lompatan yang kecil. Boleh saja mendatangkan pemain bintang untuk rencana jangka pendek, tapi investasi di level akar rumput dengan menanamkan kultur sepakbola dalam sistem edukasi, bahkan belajar dari raksasa-raksasa Eropa untuk membangun sistem pasar, menunjukkan seberapa serius Tiongkok dalam sepakbola. Di masa depan, mereka bakal mendapat keuntungan besar dari sudut pandang komersial dan olahraga.

Karena itu, mungkin Anda tidak perlu kaget jika melihat Tiongkok bicara banyak di Piala Dunia 2026 atau 2030 - revolusi itu sudah dimulai sejak sekarang.

Topics