Mengulang Dosa Lama, Sebab Kejatuhan FC Internazionale

Begitu diunggulkan jadi kandidat kuat peraih Scudetto pada putaran pertama lalu, di putaran kedua FC Internazionale malah terancam keluar dari zona Eropa.

Bergerak begitu aktif di bursa musim panas lalu dan sukses mewujudkan beberapa transfer impian, FC Internazionale dipandang serius sebagai kandidat kuat Scudetto Serie A Italia 2015/16.

Di bawah kepemimpinan Erick Thohir, dana sebesar €90,25 juta digelontorkan untuk membentuk skuat Inter yang bahkan bisa dikatakan hanya kalah dari Juventus.

Di sana bercokol nama juara La Liga Spanyol, Joao Miranda, salah satu bakat terbaik Prancis bernilai €40 juta, Geoffrey Kondogbia, hingga striker kampiun Liga Primer Inggris, Stevan Jovetic. Nama-nama baru itu disinergikan dengan kiper yang punya rasio penyelamatan fantastis, Samir Handanovic, juara Copa America, Gary Medel, dan Capocannoniere Serie A musim lalu, Mauro Icardi.

Inter lantas menjawab ekpektasi itu dengan cara terbaik pada putaran pertama kompetisi. Mereka menang di lima giornata perdana, mencatat 15 clean sheet yang jadi statistik terbaik di lima liga teratas Eropa, dan mampu menyematkan status Capolista di 10 giornata yang musim ini masih jadi catatan terbaik sepanjang konstelasi klasemen.

Sayang situasi kondusif itu hanya berjalan di paruh pertama. Inter kolaps sejak kegagalan dramatis mereka keluar sebagai Campione d'Inverno (juara paruh musim). Sejak saat itu, dalam 10 giornata lanjutan La Beneamata hanya sanggup menang tiga kali, seri tiga kali, dan menelan empat kekalahan.

Ritiro yang digelar Mancini tidak tampakkan hasil

Kekalahan yang terakhir ditelan dari musuh bebuyutan yang tinggal selangkah lagi memupus harapan Inter juara Coppa Italia, Juve, pada Senin (29/2) dini hari WIB, bahkan membuat Si Ular Besar terancam tergusur dari persaingan ketat di zona Eropa.

Dengan kini bercokol di peringkat lima klasemen sementara lewat koleksi 48 poin, Inter hanya unggul sebiji poin saja dari saudaranya, AC Milan, yang menempel ketat di peringkat enam, batas akhir zona Eropa. I Nerazzurri memang masih unggul tujuh poin dari Sassuolo di peringkat tujuh, tapi menilik tren performa belakangan ini bukan tak mungkin mimpi buruk tersingkir dari zona Eropa jadi kenyataan. Sungguh ironis bagaimana mereka kini juga terbentang jarak hingga 13 poin dari pemuncak klasemen.

Sejatinya tim kepelatihan yang dikepalai Roberto Mancini, sudah coba mengantisipasi kejatuhan lebih dalam timnya dua pekan lalu. Ritiro atau pengkondisian di mana seluruh skuat dikumpulkan pada satu tempat selama beberapa hari guna fokus pada hasil positif tim, digelar. Hasilnya memang terlihat dalam kemenangan melawan Sampdoria, tapi tak berlaku menghadapi musuh yang levelnya lebih tinggi, Juve.

Melihat cara Inter bermain, sejatinya mereka bisa saja memetik setidaknya satu poin dari Juve. Namun seperti diungkapkan oleh direktur olahraganya, Piero Ausilio, Felipe Melo cs layak kalah karena tak punya mental. "Juventus pantas menang, tetapi jika kita melihat pada insiden-insiden yang ada maka gol-gol mereka tercipta oleh momen terpeleset, salah umpan, dan tekel-tekel konyol [oleh Inter]," ungkapnya.

Ya, ritiro yang digelar Inter sudah gagal memenuhi tujuan awalnya, yakni pembenahan mental. Seperti diungkapkan, masih tampak kekonyolan salah umpan yang jadi awal mula serangan lawan, pelanggaran konyol di area terlarang, dan semua itu terjadi karena para penggawanya tidak fokus. Gol Leonardo Bonucci berkat assist cantik Danilo D'Ambrosio jadi representasi terbaik.

Mental memang jadi masalah, sehingga taktik apapun yang diterapkan tak akan berjalan sesuai rencana. Namun jika dikorek lebih dalam, kita bisa menyimpulkan bahwa keterpurukan paten Inter pasca raih treble winners 2010 lalu terjadi karena mereka kehilangan "faktor x".

Faktor x itu adalah playmaker handal atau di Italia biasa di sebut trequartista. Dalam bentuk yang lebih modern sekarang ini, peran tersebut bisa dilakukan oleh gelandang tengah atau biasa disebut regista. Sosok handal macam itulah yang tak dimiliki Inter dalam beberapa musim terakhir.

"Mengapa Inter tak pernah jadi kampiun Serie A? Jawabannya mudah, karena mereka tak memiliki playmaker bagus. Atau lebih mudah, mereka tak punya sutradara permainan," ungkap Gianluca Vialli dalam analisisnya untuk Sky Sport pada 2005 lalu. Ingat, ketika itu Inter hanya sanggup meraih sebiji Scudetto dalam kurun 25 tahun terakhir!

Tanda-tanda serupa mulai tampak musim ini. Melihat skuat Inter saat ini, Anda tentu dibuat bingung bagaimana mungkin Mancini menumpuk tipe gelandang bertipe nyaris serupa untuk mengisi lini tengahnya.

Di sana ada Felipe Melo, Gary Medel, Marcelo Brozovic, dan Geoffrey Kondogbia. Tak ada satu pun dari deretan nama tersebut yang bisa mengatur tempo permainan, melepaskan umpan-umpan tak terduga, dan menampakan egoisme brilian untuk membawa perbedaan dalam tim. Sebaliknya, mereka lebih mengandalkan fisik ketimbang teknik, dan lebih berguna dalam memutus aliran bola lawan, bukan menyambung aliran bola timnya sendiri.

Hilangnya sosok sutradara pemainan dalam skuat Inter begitu tegas diterjemahkan dalam statistik mereka musim ini. Di Serie A, peraih tiga gelar Liga Champions itu hanya sanggup mengkreasikan 265 kans mencetak gol atau rerata 8,81 peluang per partainya.

Jumlah itu secara mengenaskan menempatkan Inter di posisi delapan, peringkat Serie A untuk urusan menciptakan peluang. Selain kalah jauh dari Napoli dan Juve yang menembus 300 kans, mereka juga berada di bawah Torino, Milan, sampai Empoli!

Segalanya diperburuk dengan rasio buruk konversi gol Inter yang hanya mencapai 13 persen. Angka itu bahkan nyaris mengeluarkan I Nerazzurri dari sepuluh besar tim dengan rasio terbaik mencetak gol di Serie A.

"Kenapa saya jarang mencetak gol? Itu karena saya tak mendapat asupan bola yang cukup di kotak penalti," ungkap Icardi, menegaskan minimnya kemampuan Inter menciptakan kans.

Torehan kemenangan 1-0 yang dipetik sampai 10 kali musim ini (jadi yang terbanyak di enam liga teratas Eropa), jadi penegas lain akan kelemahan tersebut. Hal itu jelas terjadi lantaran Inter tak punya sosok yang cukup baik untuk mengalirkan bola ke depan dan melepaskan umpan-umpan akurat.

Inter rindukan figur Sneijder

Musim ini Inter tak lagi memiliki trequartista melegenda macam Sandro Mazzola, Lothar Matthaus, hingga Wesley Sneijder. Interisti di seluruh dunia tentu merindukan kehadiran kembali figur macam itu.

Memang dalam proses nir Scudetto layaknya sekarang, Inter sempat mendatangkan playmaker berkelas mulai dari Pietro Anastasi, Roberto Baggio, Andrea Pirlo, Juan Sebastian Veron, hingga yang terbaru Mateo Kovacic. Tapi mereka datang di saat yang salah, entah sudah melewati puncak kariernya atau masih terlalu hijau.

Inter sebenarnya juga pernah melalui masa emas tanpa dirijen lapangan, dalam kurun 2005 hingga 2009 yang kebetulan diarsiteki oleh Mancini. Tapi ayolah, periode itu dilalui karena Serie A tengah lesu dan terpuruk akibat Calciopoli, sehingga mereka tak punya pesaing kompetitif.

Musim ini peran trequartista beberapa kali sempat dilakoni oleh Ivan Perisic, Adem Ljajic, hingga Stevan Jovetic. Namun, itu bukan posisi asli mereka sehingga tugas berat yang ditimpakan tak mampu dilaksanakan dengan seharusnya. Pada bursa musim dingin, Inter malah memboyong Eder Citadin, yang makin memadatkan lini depan.

Menanggapi situasi ini, Thohir beserta anak buahnya yang terstruktur hingga Mancini harus segera sadar. Mereka harus belajar dari kesalahan pemilik sekaligus presiden lawas Inter, Massimo Moratti, yang untungnya diselamatkan Jose Mourinho dengan meminta sutradara berkelas macam Sneijder.

Karenanya, tak usahlah lagi mengulang dosa masa lalu untuk meraih kesia-siaan. Inter kini sudah memiliki skuat yang sangat baik dan kompetitif seperti biasanya, tapi jelas bahwa Il Biscone butuh sosok pembeda di lapangan untuk menyempurnakannya.