Menilik Manuver Transfer Monchi Di AS Roma

Menjual pilar top dan menggantinya dengan pemain yang tak punya nama besar – Monchi sepertinya memang sengaja membuat tifosi Roma gelisah.

Pesimisme sedang melanda para pencinta AS Roma setelah menyaksikan aktivitas transfer musim panas tim kesayangan mereka sejauh ini. Maklum, sejumlah pemain pilar Tim Serigala pergi satu per satu meninggalkan Olimpico.

Mohamed Salah, Antonio Rudiger, Leandro Paredes, dan yang terbaru, Mario Rui, telah hengkang, tentu dengan nilai transfer yang lumayan besar. Yang menjadi masalah, para penggantinya -- Rick Karsdorp, Hector Moreno, Lorenzo Pellegrini, dan Maxime Gonalons -- dianggap tidak memiliki kualitas sepadan dengan mereka yang pergi.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Sportmediaset pada pekan lalu, sebanyak 83 persen pendukung Roma merasa jika kekuatan Giallorossi melemah setelah transaksi jual-beli di lantai bursa. Lantas siapa yang bertanggung jawab atas kegelisahan Romanisti ini?

Sosok yang dimaksud adalah direktur olahraga baru Roma, Ramon Rodriguez Verdejo, atau lebih populer dipanggil Monchi. Ia didatangkan dari Sevilla setelah 17 tahun membangun reputasinya sebagai Raja Midas di klub Spanyol itu.

Sepanjang bertugas di Andalusia, Monchi sinonim dengan membeli pemain tak dikenal lalu menjualnya dengan margin signifikan dari harga belinya, namun tetap mempertahankan kesuksesan di lapangan hijau. Lima trofi Liga Europa dan dua gelar Copa del Rey adalah bukti paling kasatmata.

Menurut catatan Marca, Monchi telah mendatangkan lebih dari 500 pemain di Sevilla dan membuat keuntungan sekitar €200 juta. Julio Baptista, Dani Alves, Carlos Bacca, Ivan Rakitic, Alvaro Negredo, Kevin Gameiro adalah beberapa pemain yang menghasilkan profit besar bagi Sevilla kendati dibeli dengan harga miring. Itu belum termasuk penjualan pemain akademi seperti Sergio Ramos, Alberto Moreno, Jesus Navas, dan Jose Antonio Reyes.

Sejarah sepertinya bakal terulang di Roma. Monchi tengah membangun tim dengan ide dan filosofinya sendiri, dibantu oleh pelatih anyar Eusebio Di Francesco dan presiden James Pallotta yang selalu berada di belakangnya. “Kami yakin sedang membangun Roma yang lebih kuat," kata Pallotta kepada Il Tempo, menanggapi banyaknya protes dari tifosi Roma terkait kebijakan transfer Monchi.

Monchi sendiri sudah berjanji bahwa mulai pekan ini “supermarket Roma” sudah ditutup dan akan fokus untuk mengejar pemain baru. “Masalahnya bukan tentang menjual pemain, melainkan keliru dalam membeli pemain,” kata pria berusia 48 tahun itu seperti dikutip Football Italia.

“Saya lebih suka membeli pemain mendekati penutupan bursa transfer ketimbang membeli pemain secara terburu-buru. Ini seperti halnya sebuah kompetisi liga, yang tidak dimenangkan di bulan September, melainkan Mei. Bursa transfer tidak ditutup pada bulan Juli, melainkan Agustus,” terangnya.

Dengan demikian, pendukung Roma bisa sedikit lebih tenang karena pemain andalan lain seperti Radja Nainggolan, Kostas Manolas, dan Edin Dzeko sudah dijamin untuk tidak minggat. Kini tinggal menunggu bagaimana manuver Monchi selanjutnya dalam memboyong pemain baru.

“Kami menginginkan satu bek tengah. Satu target lagi adalah seorang winger,” beber Monchi. Hingga kini, Roma dikaitkan dengan Matija Nastasic (Schalke), Jose Gimenez (Atletico Madrid), Anthony Martial (Manchester United), Domenico Berardi (Sassuolo), dan Rachid Ghezzal (Olympique Lyon).

Bersama Monchi, Roma akan memasuki era baru. Perpisahan dengan ikon klub Francesco Totti di akhir musim lalu memperkuat hal itu. Di masa mendatang, jangan kaget jika Roma membeli pemain di luar dugaan. Namun, Monchi harus paham bahwa target jangka pendek Roma adalah mendongkel dominasi Juventus, sehingga tidak cukup untuk sebatas menjadi tim pengganggu dari tahun ke tahun.   

Topics