Merci, "Paman Pat" Patrice Evra!

Patrice Evra akhirnya meninggalkan Juventus, setelah dua setengah musim tak terlupakannya di J Stadium.

#MerciPatrice jadi hashtag sekaligus penanda Juventus melepas kepergian bek kiri seniornya, Patrice Evra, ke Olympique Marseille, Kamis (26/1).

Periode pemain berusia 35 tahun membela panji Hitam-Putih memang tergolong singkat, lewat durasi dua setengah musim. Namun sosoknya yang jenaka, easy going, dan bermental juara, membuat klub, pemain, hingga seluruh Juventini sedih melepas kepergiannya.

Didatangkan lewat banderol £1,62 juta dari Manchester United pada musim panas 2014, Evra memang sudah berada di pengujung karier. Namun dirinya ternyata sanggup membuktikan bahwa kualitas juaranya belum lenyap

Hal itu terjawantahkan dari total 82 penampilan, dengan sumbangsih tiga gol dan tujuh assist. Dari jumlah tersebut, Evra sukses mempersembahkan dua Scudetto, sepasang Piala Italia, dan satu Piala Super Italia. Ia juga punya andil besar dalam kesuksesan Juve menembus final Liga Champions 2014/15.

Waktu berjalan dan usia tak bisa berbohong. Usai lalui kampanye yang luar biasa di musim perdana, kualitas permainan Evra terus terkikis. Waktu bermainnya semakin terbatas, seiring perlu diorbitkannya bek kiri muda sarat kualitas, Alex Sandro.

Meski begitu, sosok Evra tetap tak tergantikan di ruang ganti. Lewat berbagai leluconnya, pemain yang punya panggilan "Paman Evra" ini selalu sanggup mencairkan suasana di lingkungan I Bianconeri.

Evra dikenal jadi raja dansa bersama Paul Pogba dan Juan Cuadrado. Dirinya berjasa besar atas julukan baru Mario Mandzukic, sebaga "Mr No Good". Selain itu hashtag #Ilovethisgame di akun Instagram resminya, selalu jadi viral yang membahagiakan Juventini.

Namun Evra bukan hanya jadi pelawak di ruang ganti. Hasrat alaminya yang selalu haus kemenangan, kadang membuat Paulo Dybala cs tercengang dan tersengat. Momen paling dikenang tentu saja ketika dirinya beridiri mengamuk, usai kekalahan atas Sassuolo musim lalu.

Kala itu sang Prancis berseru, "Kalian harus hormati jersey [Juve] ini! Apa yang kita tunjukkan di laga tadi sungguh tak pantas buat Juventini!" serunya, seperti dilaporkan Tuttosport.

"Evra adalah salah satu pemain yang mampu memotivasi tim di ruang ganti sekaligus mencairkan suasana. Dia berlatih seperti yang biasa dilakukannya, dengan kerja keras. Dia adalah seorang pemain yang sangat profesional. Evra penting untuk kami," tutur Andrea Barzagli, seperti dikutip Corrie dello Sport.

Sayang, Evra pada akhirnya menyudahi kisahnya bersama Juve sebelum kontraknya kadaluwarsa di pengujung musim ini. Alasan teknis jadi penyebab utama Si Nyonya Tua membiarkannya pergi.

Rumor menyebut bahwa Evra tak bisa menerima pencoretan dirinya dari skuat babak gugur Liga Champions, untuk digantikan Stephan Lichtsteiner. Satu alasan lazim bagi seorang juara sepertinya dan Juve pun tak bisa disalahkan, karena inginkan hasil terbaik di turnamen.

"Evra selalu membawa senyum kepada para Juventini dan seluruh awak klub ini. Dia juga menunjukkan jiwa kepemimpinan yang agung, ketika mampu serius di waktu yang tepat. Kepergian pemain bernomor 33 kami, ditandai dengan statusnya sebagai juara sejati," rilis laman resmi La Vecchia Signora.

Merci, "Uncle Pat" Patrice Evra!