Napoli Capolista, Tapi FC Internazonale Pentaskan Mental Juara

Napoli kini boleh saja berjaya di puncak, tapi lewat sikap heroiknya FC Internazionale siap merebut kembali tahta capolista Serie A Italia.

"Ini malam yang luar biasa!" seru Gonzalo Higuain, selepas membawa Napoli menang 2-1 atas FC Internazionale. Harus diakui jika kalimat itu merupakan representasi sempurna bentrok kedua tim, Selasa (1/12) dini hari WIB.

Anda yang menyaksikan pertandingan itu, baik secara langsung di stadion maupun layar kaca, baik sebagai tifosi salah satu tim maupun netral, tentu dibuat berdebar hebat akan apa yang ditunjukkan oleh Napoli dan Inter.

Serie A Italia yang dikenal rumit taktik, keras, sehingga membuat tempo pertandingan berjalan lambat dan membosankan seakan sirna dalam duel tersebut. I Partenopei dan I Nerazzurri menampilkan bentrok kelas atas yang mewakili status mereka di klasemen saat ini, plus level kompetitif Serie A yang mulai mengetat.

Hasilnya memang sesuai prediksi, dengan Napoli berjaya di depan 58 ribu publik stadion San Paolo. Kemenangan tersebut membawa Higuain cs duduk di puncak klasemen untuk kali pertama sejak 1990, tapi melihat apa yang terpapar di atas lapangan, Inter tampaknya siap merebut kembali tahta capolista.

Grande partita ini dibuka dengan koreo luar biasa tifosi Napoli, yang jumlahnya tak kurang dari 58 ribu penonton. Atmosfer panas sontak terasa, seiring puncak klasemen Serie A yang jadi pertaruhannya.

Para penggawa Napoli pun menyambutnya lewat cara yang luar biasa, dengan membuka keunggulan ketika pertandingan baru berjalan 64 detik! Adalah Higuain yang memaksimalkan miskoordinasi Jeison Murillo dan Joao Miranda terhadap umpan dada Jose Callejon, untuk kemudian menjebol jala Samir Handanovic.

Inter mencoba bangkit mengejar ketertinggalan, tapi skema dasar mereka yang memang dirancang untuk bertahan membuat usaha menyerang jadi amat sulit. Situasi makin rumit ketika Yuto Nagatomo mendapat kartu kuning kedua, akibat tekel telatnya pada Allan satu menit jelang turun minum.

Di babak kedua, pelatih Inter, Roberto Mancini, bereaksi dengan mengganti sang ujung tombak, Mauro Icardi, untuk Alex Telles guna menutup kekosongan Nagatomo di sisi kiri pertahanan Inter. Mudah ditebak, sang tamu bakal semakin bertahan dan pertandingan akan berjalan satu arah.

Segalanya tampak bakal jadi kenyataan, ketika dentuman kedua Higuain mengoyak jala Handanovic pada menit ke-62. Skor 2-0 untuk Napoli memberi kesan pertandingan sudah berakhir. Namun apa yang terpapar kemudian, sungguh bertolak belakang dengan kesimpulan dangkal tersebut.
Kuncinya sejatinya muncul beberapa detik sebelum gol kedua El Pipita. Meski berjuang dengan sepuluh orang, Mancini dengan jelas menunjukkan keinginannya untuk mencuri poin di San Paolo dengan menarik Fredy Guarin yang seorang gelandang tengah, dengan pemain berposisi winger, Jonathan Biabiany.

Otomatis, formasi Inter pun berubah menjadi 4-2-3, super menyerang! Keberadaan Biabiany membuat konsentrasi para bek Napoli yang sudah menurun terpecah. Hal itu membuat Ivan Perisic dan Adem Ljajic memiliki ruang lebih untuk bergerak dan bertukar posisi. Dengan diperlukan sedikit keberanian memainkan bola, boom! Gol yang diharapkan pun terjadi di menit ke-67.

Adalah Ljajic yang jadi pelakunya. Bergerak di sisi kanan pertahanan tuan rumah dengan sedikit menggocek bola, tembakan kencang dilepaskan pemain Serbia ini dari pinggri kotak penalti. Bola pun melesat manis ke gawang Napoli, tanpa mampu dihalau Pepe Reina.

Di titik itulah mental juara Inter muncul. I Nerazzurri tak lagi menampakkan mental medioker seperti saat hadapi Fiorentina lalu, dengan situasi yang nyaris serupa. Hanya bermodalkan sepuluh pemain, Tim Ular Kobra secara mengejutkan mampu mengurung pertahanan Napoli di sisa pertandingan.

Statistik membuktikan bahwa permainan di wilayah pertahanan Napoli terus bertambah di babak kedua. Persentasenya bahkan meningkat drastis di sepuluh menit akhir laga. Sang pencetak gol, Ljajic jadi insipirasi permainan. Nyaris seluruh serangan Inter yang membuat tim asuhan Maurizio Sarri kalang kabut, berporos padanya.

Puncaknya terjadi pada 30 detik akhir masa injury time. Secara sial tandukan beruntun Stefan Jovetic dan Miranda membentur mistar gawang Napoli! Peluit panjang tanda berakhirnya laga dibunyikan pasca drama itu dan Inter pun harus mengakui keunggulan 2-1 milik I Vesuviani.

Hasil tersebut jelas jadi kabar buruk, karena memaksa Inter harus menyerahkan status capolista pada Napoli. Namun di sisi lain, para penggawa La Beneamata malah bisa semakin termotivasi, untuk makin menyempurnakan performa apiknya sepanjang musim ini. Setidaknya hal itulah yang ditunjukkan Ljajic, mewakili perasaan rekan-rekannya.

"Saya pikir semua pemain bermain dengan maksimal dan kami sudah menunjukkan bahwa kami adalah tim yang bagus. Kami melakukan segalanya, tapi kami hanya kurang beruntung karena serangan kami membentur mistar dua kali. Jika kami terus bermain seperti ini, Kami yakin bisa mengalahkan siapapun!" seru Ljajic pasca laga.

Sanjungan pun diberikan oleh presiden klub, Erick Thohir, yang dibuat tersanjung oleh perjuangan timnya. "Saya ingin berterima kasih pada Mancini dan para pemain. Inter telah menunjukkan pada tifosi bahwa mereka tak pernah berhenti bertarung dan itu penting. Kami minta maaf karena kalah, tapi di babak kedua kami menunjukkan seberapa bagus tim ini," sanjung Thohir, seperti dikutip laman resmi Inter.

Ya, Il Biscione memang tumbang dan Manicini hanya bisa meringis meratapi ketidakberuntungan luar biasa timnya. Tapi, siapapun pasti setuju bahwa mereka kalah secara terhormat dan dengan angan-angan scudetto yang masih terpelihara kuat.