Nathaniel Clyne, Solusi Kebocoran Lini Belakang Liverpool?

Sektor kanan pertahanan memang sudah jadi masalah Liverpool di beberapa musim terakhir, tapi kedatangan Clyne bakal jadi angin segar setelah kepergian Johnson.

Liverpool bergerak sangat cepat di bursa transfer musim panas ini. Belum genap dua hari sejak bursa transfer dibuka, mereka sudah mendatangkan enam pemain anyar, termasuk Nathaniel Clyne sebagai pembelian terkini dari Southampton .

Bek kanan berusia 24 tahun tersebut menyusul kedatangan James Milner, Danny Ings, Roberto Firmino, Joe Gomez, dan Adam Bogdan ke Anfield . Brendan Rodgers, setidaknya, menunjukkan intensi untuk membenahi klubnya setelah performa memilukan di musim 2014/15 dan Clyne bakal jadi salah satu kunci menuju kesuksesan setelah kepergian Glen Johnson.

Namun, apakah transfer kali ini terbilang tepat dan sesuai kebutuhan The Reds ? Atau malah bek Inggris itu bakal jadi transfer gagal setelah Dejan Lovren dan penggawa The Saints lainnya?

Dejan Lovren menjadi salah satu transfer buruk dari Southampton.

Rodgers memang tak dianugerahi nasib baik kalau bicara soal sektor kanan pertahanan musim lalu. The Reds tak punya bek kanan berkualitas yang mampu membenahi pertahanan mereka di musim 2013/14. Glen Johnson sudah habis masanya dan aksi overlap yang ia lakukan kerap kali terlalu berisiko – dan jadi sasaran empuk setiap lawan The Reds. Ia sering membantu serangan, tapi lebih sering kehilangan bola dan meninggalkan celah di lini belakang.

Sementara itu sosok lain di peran bek kanan, John Flanagan, tampil cemerlang di musim sukses 2013/14, Ia bahkan mencetak gol pertamanya bagi The Reds dan sering tampil sebagai starter . Adapun masalah cedera membuatnya absen semusim penuh. Musim depan pun kiranya ia masih harus berkutat di meja operasi karena cedera lututnya kembali menghantui.

Kedatangan anyar dari Sevilla, Javi Manquillo, pun tak bisa terlalu diharapkan. Bek muda berkebangsaan Spanyol itu memang menunjukkan penampilan impresif di beberapa waktu, tapi kurangnya jam terbang membuat konsistensinya dipertanyakan. Manquillo masih terlalu muda dan masih harus mengasah dirinya lebih jauh.

The Reds benar-benar kehabisan sosok bek kanan berkualitas, bahkan sampai harus memasang Emre Can untuk mengisi posisi tersebut. Melihat kondisi ini, patutlah Rodgers memboyong bek kanan dan hal akhirnya termanifestasi dalam sosok Nathaniel Clyne.

Solusikah? Memang terlalu dini untuk berpesta karena performa Clyne di Liverpool belum terbukti sepenuhnya, tapi bek kanan itu punya statistsik dan karakter yang bakal meng- upgrade pertahanan The Reds .

Hal pertama yang patut disorot tentu saja menit bermain sang bek Inggris. Ia tampil 3.147 menit di Liga Primer Inggris 2014/15 – total 35 laga – dan kiranya hal itu sudah cukup menjelaskan, betapa pentingnya peran Clyne dalam rancangan Ronald Koeman. Dibandingkan dengan bek kanan lain, hanya Branislav Ivanovic (3.420), Kieran Trippier (3.146), dan Ahmed Elmohamady (3.330) yang tampil lebih sering. Clyne bisa jadi pilihan utama, sementara Manquillo jadi pelapisnya sembari menimba ilmu.

Selain pengalaman, Clyne juga memberikan apa yang tak dimiliki oleh Rodgers di sisi kanan: pertahanan ciamik. Clyne memiliki rerata tekel yang cukup tinggi musim lalu. Total 3,3 tekel per laga ia lakukan dan ini jelas merupakan kemajuan besar jika dibandingkan dengan torehan Johnson (1,6 tekel per laga). Akurasi tekelnya pun terbilang tinggi, 64%, dan ia menjadi salah satu bek kanan dengan tekel tertinggi di Liga Primer, hanya tertinggal dari Billy Jones (3,4) dan Pablo Zabaleta (3,7).

Tekel bukan jadi satu-satunya hal yang bakal memberikan pertahanan ciamik bagi The Reds . Perlu diingat, Clyne merupakan salah satu bek kanan yang punya disiplin tinggi. Terbukti dari empat kartu kuning yang ia terima musim lalu – angka yang rendah bagi pemain yang mencatatkan 35 penampilan. Sebagai bandingannya, Martin Skrtel mendapat delapan kartu merah dalam 33 laga musim lalu.

Lebih asyiknya lagi, Clyne hanya mencatatkan 0,5 pelanggaran per laga. Dalam konteks bek kanan di 8 besar Liga Primer, ia merupakan bek dengan rerata pelanggaran paling sedikit. The Reds patut berbahagia karena bakal diperkuat oleh tukang tekel handal nan cerdas.

Adapun pesona Clyne tak hanya sampai di situ. Bek kanan Inggris ini juga punya kemampuan menyerang yang impresif. Ia memiliki gaya bermain yang bertolak belakang dengan Johnson. Clyne suka menyergap maju dan menyerang dengan kecepatan lari yang mumpuni. Stamina pun tak perlu diragukan, Clyne punya kapasitas untuk naik-turun garis pertahanan selama 90 menit.

Statistik turut menunjukkan angka fantastis kalau bicara soal daya gedor Clyne. Total 22 peluang (0,63 per laga) ia ciptakan dan 21 tembakan ke gawang (0,6) ia lancarkan. Angka ini jelas melampaui semua bek kanan Liverpool dan di delapan besar, torehan Clyne hanya tertinggal dari Ivanovic. Hebatnya lagi – sangat berkebalikan dengan Johnson – Clyne jarang kehilangan bola ketika menyerang. Setidaknya ia hanya kehilangan 0,5 kali per 90 menit, sebuah catatan tinggi kalau mengingat ia telah melakukan 1.468 operan musim lalu.

Fans Liverpool berhak untuk optimistis musim depan, apalagi jika menyaksikan statistik dan karakter yang telah ditunjukkan oleh Nathaniel Clyne musim lalu. Tetapi kiranya tak semua hal bakal berjalan lancar. Clyne mampu bersinar di Southampton musim lalu karena ia didukung oleh bek tengah berkualitas plus dua gelandang bertahan yang tangguh (Morgan Schneiderlin dan Vincent Wanyama). Tak heran kalau ia bisa menyerang sesuka hati, ia punya pelapis yang tangguh dan yakin pertahanannya bakal aman.

Kemewahan tersebut tentunya tak tersedia di Liverpool. The Reds hanya punya Lucas Leiva sebagai sosok gelandang bertahan murni dan cukup tangguh. Itu pun kalau sang gelandang Brasil tak dibekap cedera seperti musim lalu. Apalagi bicara soal bek tengah, satu posisi yang masih diragukan karena kiranya Liverpool tak punya duet andalan yang bebas cedera.

Ada kemungkinan Clyne bakal menyesuaikan diri dan mengubah gaya mainnya. Ada pula peluang Clyne bakal gagal bersinar karena selalu khawatir pada lini belakang yang ia tinggalkan (saat melakukan overlap ). Kemungkinan gagal karena terbebani oleh ekspektasi besar Liverpool juga tak tertutup.

Apapun itu, satu masalah pertahanan Liverpool sudah selesai. Mereka telah mendatangkan salah satu bek kanan berkualitas di Liga Primer Inggris dan menambal satu kebocoran dalam pertahanan mereka. Tapi Clyne tak bisa bekerja sendiri ketika bertahan. The Reds masih punya pekerjaan rumah untuk membenahi bagian lain pertahanan, yakni dari sektor tengah (Skrtel, Mamadou Sakho, Dejan Lovren) dan sektor kiri (Alberto Moreno) yang juga jadi sasaran empuk lawan.

Liverpool – dan Nathaniel Clyne – masih punya jalan panjang yang harus dilalui untuk menuju kesuksesan.