Neymar, Tragedi Pahlawan Brasil

Sosok Neymar yang diharapkan menjadi pahlawan Brasil hanya tampil cameo dalam Copa America tahun ini.

Neymar adalah superhero. Bersama Lionel Messi dan Luis Suarez, mereka membentuk tiga sekawan yang sukses mengantarkan Barcelona merebut triplete musim lalu. Trio penggempur asal Amerika Latin ini total menjaringkan 122 gol dalam perjalanan Barcelona merengkuh gelar juara La Liga Spanyol, Copa Del Rey, dan puncaknya, Liga Champions.

Neymar melesakkan 39 gol dalam total 51 penampilan di semua ajang bersama Barcelona musim lalu. Rekor yang impresif setelah melalui kritik yang menimpanya usai beradaptasi dengan lingkungan dan ekspektasi baru saat baru pindah musim sebelumnya. Neymar bahkan menutup musim Barcelona dengan gol pamungkas ke gawang Juventus di Stadion Olimpiade Berlin, 6 Juni lalu. Anda selalu membutuhkan figur pahlawan yang bersorak penuh kemenangan dalam klimaks setiap cerita, bukan?

Dengan gol tersebut, Neymar sekaligus menjadi topskor Liga Champions bersama Messi dan Cristiano Ronaldo dengan sepuluh gol dalam 12 penampilan. Catatan Neymar bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan dua pemenang Ballon d'Or itu karena dia membukukan menit penampilan yang lebih sedikit.

Sukses di level klub dan individual tersebut niscaya kian gemilang jika Neymar juga sukses membawa Brasil merengkuh trofi Copa America 2015. Apalagi Brasil bertekad mengembalikan supremasi di ajang regional itu. Dalam enam penyelenggaraan Copa America terakhir, empat kali Brasil sukses menjadi juara.

Bersama Selecao, rekor Neymar sama memukaunya. Usai Piala Dunia 2014 dan sejak ditangani Carlos Dunga, Neymar diangkat menjadi kapten tim. Dengan peran barunya, Neymar membuka periode kepelatihan Dunga melalui gol kemenangan Brasil atas Kolombia dalam uji coba, 6 September lalu. 

Total dalam tujuh laga uji coba Neymar sukses mengemas delapan gol. Empat di antaranya disarangkan ke gawang Jepang dalam laga uji coba di Singapura, 14 Oktober.

Brasil, Dunga, dan Neymar menatap pagelaran Copa America di Cile dengan pandangan penuh optimisme. Selecao sukses melalui hadangan pertama yang disajikan Peru, 2-1, dan Neymar lagi-lagi menjadi protagonis pertandingan dengan menyarangkan satu gol serta menyumbangkan satu assist.

"Neymar memberikan perbedaan," puji Dunga usai pertandingan. Sang pahlawan siap memenuhi janji menjadi yang terbaik di turnamen ini.

Neymar membuka Copa America dengan satu gol dan satu assist ke gawang Peru.

Tapi lantas ada kryptonite yang meledak dalam diri Neymar. Sang superhero menunjukkan sisi kerentanan yang dimilikinya dalam laga kedua Grup C, Rabu (17/6) malam lalu. Kembali menghadapi Kolombia di ajang kompetitif setelah laga perempat-final Piala Dunia tahun lalu, serta dihantui trauma cedera akibat terjangan Juan Zuniga, Neymar lepas kendali.

Kolombia, yang dikalahkan Venezuela 1-0 di laga pembuka, memberikan perlawanan sengit. Kolombia sanggup mengimbangi permainan Brasil. Kedua tim sama-sama menerapkan permainan pressing dan memperketat penjagaan di wilayah kotak penalti masing-masing. Bedanya, Kolombia lebih sering sukses merebut bola di area tengah.

Neymar tidak berkutik. Apalagi Kolombia tampil lebih kolektif daripada Brasil. Seperti tidak ada dukungan yang diberikan kepada Neymar seperti yang dirasakannya jika tampil bersama Barcelona. Rasa frustrasi pun kian memuncak. Sebuah kartu kuning dilayangkan wasit Enrique Osses kepadanya setelah dianggap melakukan handball dengan sengaja.

Brasil harus mengakui keunggulan Kolombia lewat gol semata wayang Jeison Murillo. Neymar rupanya belum puas. Kapten dan superhero Brasil ini memicu keributan dengan Murillo dan Carlos Bacca usai peluit panjang dibunyikan. Alih-alih sportivitas antartim, penonton disuguhkan adegan laga di akhir pertandingan.

Osses tanpa ampun mencabut kartu merah dari sakunya untuk Neymar dan Bacca. Belakangan terungkap pula Neymar mengeluarkan sumpah serapah kepada pengadil serta pemain lawan. Keributan di atas lapangan berlanjut hingga ke kamar ganti stadion.

Conmebol pun bertindak tegas dengan menjatuhkan sanksi empat pertandingan kepada Neymar plus denda sebesar USD 10 ribu. Praktis, Neymar tak bisa lagi dimainkan hingga turnamen selesai. Dia dipersilakan mengepak barang dan menyusul Suarez liburan. Tragis, sang pahlawan yang diharapkan memegang peran utama malah tampil cameo.

Simpati, dan juga ledekan, mengalir untuk Neymar.

Neymar kedapatan memaki wasit di lorong stadion ketika pertandingan berakhir.

"Yang saya tahu kartu kuning pertama tampak tidak adil karena handball Neymar tidak disengaja. Dia kehilangan keseimbangan setelah menyundul bola dan malah menghantam tangannya. Buat saya, itu bukan kartu kuning," ujar mantan pelatih Neymar di musim pertamanya di Barcelona, Gerardo Martino, yang kini menukangi Argentina.

"Wasit harus berhenti berpikir kalau mereka bertindak sebagai pahlawan," raung Dani Alves. "Pahlawannya bukan mereka. Mereka di lapangan untuk mengendalikan pertandingan. Kami sudah terbiasa di Amerika Selatan sini, semua orang tidak berpihak pada Brasil."

Faustino Asprilla, legenda Kolombia, tak mau ketinggalan pesta. "Neymar adalah kebohongan dalam sepakbola. Sudah Neymar, pindah saja ke Hollywood!" bilangnya.

Kini Dunga harus memikirkan taktik Selecao tanpa Neymar. Persis menghadapi lawan yang sama tahun lalu, Brasil kehilangan mojo di Piala Dunia setelah Neymar absen dan tersingkir di babak semi-final menghadapi Jerman. Kekalahan dari Jerman adalah noda besar dalam sepakbola Brasil - kalah 7-1 dalam bencana "Mineirazo".

"Itulah sepakbola. Neymar adalah representasi sepakbola dunia. Perhatian kepadanya sungguh besar. Semua pecinta sepakbola senang menyaksikannya di atas lapangan seperti halnya Messi, Angel Di Maria, Alexis Sanchez... Pertandingan akan menjadi lebih baik dan berkualitas," ujar Dunga setengah menyesal.

"Tidak masalah soal jabatan ban kapten, kami punya banyak pemimpin. Kami takkan lupa kekalahan 7-1, kami juga tidak lupa kekalahan pada 1950. Sekarang kami menghadapi situasi ini dan harus mengatasinya. Luka ini akan terus membekas sepanjang sisa hidup kami."

"Mereka memberi 20 tendangan kepada Neymar dan dalam sebuah situasi saat badannya tidak stabil, tangannya menyentuh bola dan dia menerima kartu kuning. Jadi saya punya pertanyaan, siapa yang lebih pantas diberi kartu kuning, pemain yang kehilangan keseimbangan atau mereka yang menendangnya?"

Beda peran No.10 antara Kolombia dan Brasil.

Brasil menghadapi Venezuela dalam laga pamungkas Grup C, Minggu malam atau Senin pagi WIB. Persaingan grup ini sungguh sengit dengan empat tim sama-sama mengantungi tiga poin. Menjadi tim peringkat ketiga grup berarti menantang tuan rumah Cile atau juara Grup B, yang kemungkinan besar diisi Argentina, di babak perempat-final.

Kolektivitas yang diperkenalkan Dunga sebenarnya pantas dipuji. Selecao ala Dunga tidak mengenal kebintangan meski kepiawaian individual para pemainnya, seperti Neymar, kerap menjadi pemecah kebuntuan. Namun, Kolombia memberikan Dunga pelajaran yang berharga.

Kolombia tampil lebih baik daripada Brasil karena memiliki pemain bernomor punggung 10 (James Rodriguez) di belakang para penyerang. Sementara, pemain nomor 10 Brasil (Neymar) langsung berhadapan dengan lini belakang lawan. Skuat Brasil saat ini sayangnya tidak memiliki pemain kreatif lain dalam membantu peran Neymar.

Philippe Coutinho atau Douglas Costa? Dua pemain ini punya keterampilan individu yang mumpuni, tapi belum memiliki mojo yang cukup dalam menentukan nasib Brasil di pentas internasional. Mereka bukan lah superhero seperti Neymar.

Segala keputusan di tangan Dunga dalam melanjutkan cerita petualangan Brasil di Copa America tahun ini tanpa pahlawan utamanya. 

 
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.