Obituari: Achmad Kurniawan, Loyalitas Tanpa Batas

Sosok berjulukan AK47 ini rela menanggalkan status PNS demi sepakbola, dan menghembuskan nafas terakhir saat masih aktif di dunia olahraga yang dicintainya.

Persepakbolaan Malang menerima kabar duka dalam dua tahun terakhir di saat salah satu personel mereka masih membela tim. Setelah pelatih Suharno pada Agustus 2015, kemarin sore Arema FC kehilangan penjaga gawang Achmad Kurniawan yang menghembuskan nafas terakhir akibat sakit.

Sosok yang dijuluki AK47 itu mengawali karier bersama Persita Tangerang pada 2001. Selama enam tahun, AK mampu membawa Persita menjadi runner-up Liga Indonesia musim 2002. Prestasinya itu membuat AK diganjar status sebagai pegawai negeri sipil pemerintah kabupaten (Pemkab) Tangerang.

Kecintaannya terhadap sepakbola membuat dia rela melepas atribut yang diidamkan banyak orang, karena dia memilih pergi ke Arema di tahun 2006. Dua tahun di Singo Edan, kiper yang punya refleks bagus itu mampu membawa klubnya mendapatkan gelar Copa Indonesia 2006. Memasuki musim 2008/2009, AK harus terdepak, karena kebijakan peremajaan tim.

Namun itu hanya berlangsung selama dua musim. Peruntungan AK tidak bagus, dan Persik Kediri terdegradasi di musim 2008/09. Kiper kelahiran Jakarta ini selanjutnya hijrah ke Semen Padang, dan sukses membawa tim Kabar Sirah promosi ke Indonesia Super League (ISL) pada 2009/10. AK akhirnya memutuskan kembali ke Arema, karena ingin bermain bersama sang adik, Kurnia Meiga.

Dilahirkan 37 tahun silam, AK mengabdikan diri kepada Singo Edan di usia senja. Menjadi pilihan ketiga, AK tidak tergoda hijrah ke klub lain, meskipun di saat itu banyak tawaran. Kepada manajer umum Ruddy Widodo, ia mengaku akan mengakhiri karier di Arema sekaligus ingin menjadi pelatih kiper Singo Edan. Sayang, sebelum sempat dia menjadi pelatih kiper, Tuhan nampaknya lebih sayang dengan memanggilnya terlebih dahulu.

“Saya kembali ke Arema, karena memang saya selalu ingin bermain di sini, mungkin masa depan saya akan di sini,” kata penggemar motor sport ini. Masa depan itu kemudian terjawab, yaitu menikahi perempuan asal Malang Femmy Chintia pada 2015.

AK membuktikan loyalitasnya, dia bahkan ada di Singo Edan dalam keadaan tersulit sekalipun. Utamanya saat musim 2011/12, ketika Arema dalam kondisi berjuang di papan bawah, dan keadaan tim yang mengalami kesulitan keuangan. Dia mengakui ada hal-hal yang tidak bisa dia ungkapkan sebagai bukti kecintaannya kepada Arema.

Ketika dipercaya berdiri di bawah mistar di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 akibat cederanya Meiga dan I Made Wardhana, tak sedikit yang meragukan kemampuan AK, karena ia jarang dimainkan, dan postur tubuhnya mulai terlihat gemuk. Namun itu tidak mengurangi kepercayaan yang diberikan pelatih Milomir Seslija.

“AK mempunyai penempatan posisi yang bagus. Kami tidak ragu memainkan dirinya, karena dia sangat percaya diri. Dia adalah salah satu kiper terbaik yang dimiliki Arema, bahkan di saat tubuhnya dalam kondisi yang tidak ideal (gemuk),” kata Milo tentang alasan pemilihan AK ketimbang Made.

AK memainkan pertandingan sebanyak 16 kali, dua diantaranya sebagai pemain pengganti. Hal yang cukup dikenang adalah ketika dia menahan tendangan penalti Edilson Tavarez di menit akhir saat Arema menahan tuan rumah Pusamania Borneo FC. 

Di pertandingan terakhir melawan Persib, AK juga menjadi pahlawan. Berdasarkan catatan, AK melakukan tujuh penyalamatan untuk menjaga gawang Singo Edan dari gempuran penggawa Maung Bandung.

“AK dimata saya adalah kiper ajaib. Dia sejak menjadi penjaga gawang pertama, kemudian tergeser kedua, geser ketiga tidak pernah komplain sama sekali. Kita ingat saat Arema butuh penjaga gawang, orang yang siap secara mental adalah AK. Kita lihat pada pertarungan terakhir, dia adalah penjaga gawang terbaik dalam usianya yang pernah saya lihat di sepakbola Indonesia,” tutur Ovan Tobing, salah satu pendiri Arema.

“Sebagai penjaga gawang ketiga siap memberikan performa seperti penjaga gawang nomor satu di Arema. Loyalnya AK kepada Arema luar biasa, dan saya merasakan akrabnya dengan AK itu. Kalau tim tidak mengeluarkan karakter Malangan, dia selalu bicara kepada saya, 'Oom marahi pemain oom, ini bukan kita, ini bukan Arema'.”

“Jadi dengan caranya, AK itu lebih dari Arema yang ada di Malang. AK sudah melalui perjuangan keras untuk gawangnya Arema, tetapi dia ternyata harus berjuang untuk mempertahankan nyawanya. Yang Maha Kuasa Allah telah menentukan garisnya, terima kasih untuk AK.”