Obituari Ayi Beutik, Sang Panglima Viking Persib Club

"Jika menghitung untung-rugi, dukungan tak murni lagi" - Ayi Beutik

OLEH GUNAWAN WIDYANTARA Ikuti di twitter
Duel antara Persib Bandung dan Persija Jakarta baru dimulai, Bobotoh yang tidak kebagian tiket masuk stadion Siliwangi Bandung mulai berulah, mencoba memaksa masuk untuk menyaksikan pertarungan klasik sarat gengsi Indonesia Super League (ISL).
Magnet pertandingan ini memang luar biasa, Siliwangi tak kuasa menampung puluhan ribu Bobotoh yang datang berbondong-bondong dari segala penjuru Jawa Barat dan pada akhirnya pintu itu pun jebol hingga bentrokan antara suporter dan pihak keamanan tidak bisa dihindari.
Situasi semakin memanas, sejumlah wartawan foto yang mencoba mengabadikan peristiwa turut menjadi korban. Tidak lama seorang petugas datang menghampiri area tengah tribun Timur, meminta Beutik membantu turun tangan langsung menetralkan situasi. Dengan gaya rambut eksentrik plus coretan berwarna biru di area mata, Beutik berjalan menuju tempat keributan dan tidak butuh lama, massa yang mencoba merangsek ke dalam area stadion mundur. Situasi terkendali dan laga kemudian berlanjut.
20 Juli 2008, Maung kontra Macan di Siliwangi dimenangkan tim tamu dengan skor 3-2. Akhir dari duel ini tidak mulus memang, karena kerusuhan suporter tetap mewarnai namun sekelumit cerita di atas sedikit banyak bisa mewakili betapa sang panglima begitu dihormati dan disegani pasukannya.

Urakan! Mungkin kesan ini muncul bagi orang-orang yang mengenal Beutik melalui media atau hanya mendengar cerita yang bersambung dari mulut ke mulut. Beutik memang punya gaya lain dari yang lain, tetapi sejatinya tidak demikian; Beutik adalah Beutik, panglima Viking yang gemar berkelakar namun sulit ditebak maksud di balik setiap perkataannya.
Satu komentar Beutik bisa menggetarkan hati fans sepakbola dan jadi bahan renungan semua suporter. "Jika menghitung untung-rugi, dukungan tak murni lagi." Dalam pandangan Beutik yang juga menggemari Newcastle United, kemurnian dalam memberi dukungan terhadap tim kesayangan adalah mutlak; tidak tercampur urusan lain termasuk bisnis apalagi politik yang sarat kepentingan. Baginya, sekali urusan dukung mendukung tercampur hal-hal yang disebutkan tadi, tidak akan pernah bisa kekal pergerakannya. "Tidak pakai hati, tidak akan lama," celotehnya lagi.
Komentar ini bisa diartikan independensi sang panglima tidak bisa diganggu-gugat, melebur sempurna dengan kecintaannya terhadap Persib. Di kalangan Bobotoh, Beutik memang terkenal paling anti didekati urusan politik atau kelompok tertentu, tidak heran dia dengan bebas bergerak dan mengeluarkan komentar sesuka hati karena tanpa ikatan artinya tidak ada beban apapun. Hanya satu dalam pikirannya yaitu Persib, tidak melacur intelektual.
Ketika prestasi Persib menukik tajam, sang panglima cepat bergerak. Bukti paling menghebohkan terjadi pada pertengahan Januari 2006, Maung terkapar dua kali beruntun di kandang sendiri. Stadion Siliwangi tak lagi anke dan tidak terima dengan hasil negatif Pangeran Biru, Beutik secara spontan menyerukan masa Viking dan Bobotoh untuk bergerak ke arah luar tribun Barat stadion untuk menuntut mundurnya pelatih Risnandar Soendoro. Hasilnya? Bahkan seorang legenda Persib tidak kuasa menahan tekanan yang digagas sang panglima.
Suatu saat Beutik pernah disodori kuisioner yang salah satunya berisi pertanyaan status anggota Viking dan Beutik menjawab 'bukan.' Sontak sang pemberi pertanyaan balik bertanya namun hanya dibalas senyuman. Ah benar... Anda memang bukan anggota, tetapi panglima, panglima organisasi terbesar Bobotoh, Viking Persib Club.
Tidak ada jabatan panglima dalam struktur organisasi Viking, tetapi kiprahnya selama memberi dukungan terhadap Persib membuat status tersebut akan melekat dan akan terus melekat pada diri Beutik di hati semua Bobotoh.

Selamat jalan Panglima! pic.twitter.com/lY3ZlaqGW4
— VikingPersib Club (@officialvpc) August 10, 2014