Panen Raya AS Monaco

Monaco ibarat ladang subur bagi bibit-bibit muda untuk dirawat, dipanen, lalu dijual, namun tanpa harus mengorbankan prestasi klub.

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali bursa transfer dibuka, AS Monaco menjadi rujukan utama bagi klub-klub top Eropa untuk memenuhi hasrat mereka akan belanja pemain. Monaco, harus diakui, selalu mampu memproduksi pemain muda berkualitas.

Padahal empat tahun lalu, klub di wilayah Kerajaan Monako itu mencanangkan revolusi setelah promosi ke Ligue 1 Prancis 2013/14 dengan menghabiskan €150 juta untuk memboyong pemain baru, di antaranya Radamel Falcao dan James Rodriguez. Hasilnya memuaskan karena Monaco langsung finis sebagai runner-up di musim itu.

Namun sang pemilik klub Dmitry Rybolovlev dan wakil presiden Vadim Vasilyev tiba-tiba mengubah haluan klub di musim panas 2014. Kebijakan "Galaticos" ini dinilai berisiko lantaran Monaco akan selalu dibayangi sanksi Financial Fair Play -- yang kala itu baru diperkenalkan oleh UEFA -- dan juga masalah pajak mengingat mereka adalah klub yang berbasis di negara suaka pajak.

“Ada dua cara [untuk membuat klub sukses]. Yang pertama menginvestasikan banyak uang lalu meraih hasil instan. Yang kedua adalah membangun proyek cerdas di mana Anda bergantung pada akademi Anda dan memiliki sistem scouting yang terstruktur. Dan kami memilih yang kedua ini,” kata Vasilyev.

Singkat kata, kebijakan yang dimaksud Vasilyev adalah mengembangkan pemain muda lalu membiarkan mereka hengkang di waktu yang tepat. Dimulailah proyek baru nan cerdas dari Monaco.

Akademi klub, La Turbie, berkembang pesat. Pelatih Leonardo Jardim berani mempromosikan youngster seperti Layvin Kurzawa, Yannick Ferreira Carrasco, dan yang paling sensasional, Kylian Mbappe. Suporter Monaco seperti dibawa ke masa lalu ketika menelurkan talenta terbaik macam Lilian Thuram, Emmanuel Petit, Thierry Henry, yang menjadi tulang punggung timnas Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Namun yang lebih patut diacungi jempol adalah kinerja para scout alias pemandu bakat Monaco. Mereka mampu “mencuri” bibit-bibit unggul dari klub lain, lalu setelah satu-dua tahun berkarier di Monaco, harga pemain tersebut melonjak tajam. Simak dana yang dikeluarkan Monaco ketika membeli sejumlah pemain muda seperti Anthony Martial (€5 juta), Geoffrey Kondogbia (€20 juta), Tiemoue Bakayoko (€8 juta), Bernardo Silva (€15 juta), dan Benjamin Mendy (€13 juta).

Faktanya, Monaco hampir selalu “panen raya” tiap tahun karena semua pemain yang dibeli dengan banderol relatif murah tersebut kemudian dijual ke klub lain dengan harga berkali-kali lipat! Memang Monaco tidak gencar menjual pemain di musim panas 2016, namun setahun sebelumnya dan setahun berikutnya Monaco seperti berada dalam periode puncak panen.

Di musim panas ini, Monaco sudah meraup lebih dari €150 juta hanya dengan menjual empat pemain saja. Jumlah ini bakal terus membengkak jika klub bersedia menjual pemain lain seperti Mbappe, Thomas Lemar, dan Fabinho. Mbappe menjadi yang paling mencuri perhatian, mengingat penyerang yang masih berusia 18 tahun itu punya market value fantastis senilai €180 juta.

Menariknya, penjualan demi penjualan tersebut tidak membuat Monaco kehilangan cengkramannya di rumput hijau. Di musim 2014/15 dan 2015/16 mereka mampu finis ketiga di Ligue 1. Semusim kemudian, Monaco meledak dengan berhasil meruntuhkan hegemoni PSG di Ligue 1 dan bahkan melaju ke semi-final Liga Champions.

Menjadi klub penjual sembari tetap mempertahankan prestasi di atas lapangan tentu bukan perkara mudah, namun Monaco melakukannya secara mulus. Publik sepakbola tentu akan setia menanti panen raya-panen raya berikutnya dari Les Rouges et Blancs.

Topics