Paulinho Yang Penuh Keraguan

Melihat kualitas, perjalanan karier, dan usianya, keputusan Barcelona merekrut Paulinho diselimuti banyak tanda tanya.

Barcelona resmi mendatangkan rekrutan keempatnya di bursa musim panas ini, dalam diri Paulinho. Gelandang internasional Brasil itu jadi rekrutan termahal mereka di jendela transfer kali ini, lewat banderol €40 juta dari Guangzhou Evergrande.

Banyak dari Anda mungkin tak begitu mengenal siapa Paulinho, tapi dia sebenarnya tidak seasing itu. Pertama kali nama Paulinho terdengar dunia terjadi tatkala dirinya tampil brilian bersama Timnas Brasil di Piala Konfederasi 2013.

Paulinho jadi pilar Brasil di lini tengah sebagai gelandang box to box. Dia mungkin tak berteknik tinggi seperti para pemain Samba kebanyakan, tapi dirinya punya stamina luar biasa, kejelian dalam melepas tekel, serta tembakan geledek yang akurat.

Kesuksesannya membawa Seleccao jadi kampiun Piala Konfederasi 2013, menerbangkannya ke Eropa bersama Tottenham Hotspur. Sayang petualangannya tak berjalan sesuai eksepktasi hingga kemudian 'menghilang' ke Tiongkok, sebelum kembali lagi ke Benua Biru dengan Barca.

Kehadiran Paulinho membawa dimensi baru di lini tengah Barca. Untuk pertama kali setelah sekian lama, Blaugrana kembali mempunyai  pemain yang lebih mengandalkan otot dibanding skill. Sejauh mata memandang, mereka terakhir memilikinya dalam diri Emmanuel Petit.

Dalam skema 4-3-3 khas Barca yang bakal dipertahankan Ernesto Valverde, Paulinho bisa memerankan semua posisi di lini tengah. Entah sebagai pendamping, jangkar, bahkan gelandang serang. Namun posisi idealnya adalah sebagai pendamping, yang bertugas merebut bola.

Logikanya Paulinho ideal mengisi peran Ivan Rakitic, yang biasanya jadi penamping Andres Iniesta dan Sergio Busquets di lini tengah. Namun melihat kebutuhan Barca sekarang, eks Corinthians tersebut diproyeksikan sebagai gelandang jangkar, bersaing kompetitif dengan Sergio Busquets.

Dibekali stamina tinggi, kejelian dalam melancarkan tekel, dan tendangan geledek, kelebihan lain Paulinho yang tak dimiliki mayoritas gelandang Barca adalah insting mencetak gol-nya. Sepanjang karier dia sudah mengukir 99 gol di level klub. Sangat tinggi untuk ukuran gelandang perebut bola. Di level Timnas, baru-baru ini dirinya juga torehkan hat-trick dalam duel sulit hadapi Uruguay.

Namun harus diakui jika kehadiran Paulinho di Barca lebih terasa beraura negatif ketimbang positif. Di samping segala kelebihan yang dimilikinya, terdapat keraguan besar akan kapabilitasnya membela tim sebesar Los Cules. 

Paulinho bisa jadi blunder lain untuk Barca di lini tengah selayaknya Alexander Hleb, Alex Song, hingga yang terbaru Andre Gomes. Dibeli dengan harga tinggi, tapi tak dipandang sebagai bintang dan tampak tak sesuai dengan filosofi tiki-taka Barca.

Paulinho mungkin mampu mencuri perhatian di Tiongkok dan bangkit bersama Timnas Brasil, tapi fakta itu tak lantas membuatnya jadi bintang besar. Dia cuma punya pengalaman satu setengah musim berkarier di Eropa -- yang berlangsung buruk -- dan usianya sudah menginjak 29 tahun.

Barca juga salah besar jika memang benar berencana menempatkan Paulinho sebagai jangkar pembagi bola. Dia mampu, tapi minim skill, dan visi permainannya tak seluas ekspektasi Tim Catalan. Gaya bermainnya cenderung pragmatis jika dibandingkan filosofi klub.

Pertanyaan besar lainnya adalah kesediaan Barca menggelontorkan dana hingga €40 juta, untuk pemain berusia 29 tahun. Selain jadi pembelian termahal mereka di bursa musim panas ini, banderol tersebut jadi termahal keempat sepanjang sejarah klub.

Padahal sebelumnya Barca menjanjikan gelandang yang secara nama maupun kualitas lebih besar dan ideal dengan filosofi klub, seperti Marco Verratti dan Jean Michael Seri. Keduanya bahkan sempat terang-terangan menyatakan minat hijrah ke Camp Nou.

Namun usaha Barca dinilai kurang keras untuk mendapatkan mereka, kendati miliki modal transfer sebesar €222 juta dari hasil penjualan Neymar. Terutama Seri, yang usianya masih 26 tahun, dijuluki "Xavi dari Prancis", dan 'hanya' dibanderol €40 juta.

Ya, begitu besar keraguan yang hinggap pada Paulinho karena klub yang dibelanya adalah Barca. Sebuah tim yang di setiap musimnya selalu jadi unggulan raih semua trofi, baik di Spanyol maupun Eropa. Kini segalanya tergantung pada Paulinho dan bagaimana Valverde memaksimalkan potensi putra asli Sao Paulo tersebut.

Topics