Paulo Dybala & Sejarah Nomor 10 Juventus

Selegendaris apakah nomor punggung 10 di Juventus, sehingga begitu pilih-pilih menentukan siapa yang berhak memakainya?

Alih-alih memberikan pada rekrutan barunya, Federico Bernardeschi, Juventus akhirnya memutuskan untuk mewariskan nomor keramat 10 pada bintang utamanya, Paulo Dybala. Sesuatu yang sebenarnya sudah bisa ditebak.

Dua musim membela Juve, Dybala yang datang sebagai seorang bocah bertalenta menjelma jadi idola baru Juventini. Dia memiliki teknik yang tinggi, visi bermain yang luas, dan tentu saja jadi pembeda di atas lapangan. Ups satu alasan lagi, La Joya juga merupakan calon fenomena.

Keputusan tersebut sekali lagi menegaskan bahwa nomor 10 di Juve bukan untuk pemain sembarangan. Harus ada usaha untuk menggapainya. Hal itu pernah ditegaskan dengan sangat lantang oleh presidennya, Andrea Agnelli. 

"Nomor di balik seragam itu lebih kepada usaha ketimbang kelayakan. Nomor 10 selalu menjadi mimpi bagi setiap pemain, ini adalah seragam yang anak-anak inginkan. Kami harus menemukan seorang pemain dengan karakteristik khusus dan dia adalah seorang yang fenomenal," terangnya, seperti dikutip La Stampa.

Sejarah emas yang melekat pada para penyandang nomor 10 di Juve, jadi alasan terbesar mengapa pihak klub begitu pilih-pilih dalam mewariskannya. Mari menilik siapa saja sosok-sosok yang membuat nomor 10 di I Bianconeri jadi begitu legendaris.

GIAMPIERO BONIPERTI (1946-1961)

Jika menyebut siapa saja legenda terbesar Juventus, Giampiero Boniperti pasti muncul sebagai salah satunya. "Un uomo del club" jadi julukannya. Memulai karier profesional bersama Si Nyonya Tua di usia 16 tahun, dia pensiun 15 tahun kemudian di klub yang sama.

Selama periodenya, Boniperti dikenal kerap menggunakan nomor punggung 10. Patut diingat, Serie A Italia baru menetapkan nomor punggung secara permanen untuk satu musim penuh di musim 1995/96. Jadi sebelum itu, nomor punggung ditentukan ulang setiap kali berlaga.

Berposisi sebagai penyerang, Boniperti sempat memegang rekor sebagai penampil dan top skor sepanjang masa Juve lewat 459 penampilan dan 182 gol. Dia punya peran krusial membawa Juve raih lima Scudetto dan sepasang Coppa Italia.

OMAR SIVORI (1957-1965)

Sebelum ada David Trezeguet, Omar Sivori selalu dikenang Juventini sebagai pemain asing terbaik yang pernah mereka miliki. Datang dari Argentina pada 1957, pemain yang berposisi sebagai penyerang lubang ini mencatatkan 215 penampilan dan 135 gol dalam delapan musim masa edarnya.

Sivori yang hanya berpostur 163 centimeter dikenal sebagai pemain yang cepat, punya gocekan maut, dan tendangan geledek. Duetnya bersama John Charles di lini depan, menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah emas La Vecchia Signora.

Salah satu momen terbaiknya di Juve adalah kala mencetak enam gol dalam kemenangan 9-1 Juve di Derby d'Italia, pada musim dingin 1961. Tiga Scudetto dan sepasang Coppa Italia, jadi persembahan terbaik Sivori untuk Tim Hitam Putih.

MICHEL PLATINI (1982-1987)

Salah satu pemain terbaik dalam sejarah Prancis dan Juventus. Michel Platini merupakan playmaker terbaik yang pernah ada di sepakbola. Kelebihan utamanya terletak pada kecerdasannya membuat keputusan, ke mana bola akan bergerak.

Lima musim bepetualang di Juve, Platini hanya membuat nomor punggung 10 semakin besar. Dia merupakan serpihan paling penting, dalam salah satu periode paling membanggakan La Vecchia Omcidi, yang memenangkan semua gelar domestik maupun internasional dalam rentang 1983 hingga 1985.

Penaltinya ke gawang Liverpool di final Liga Champions 1985, terpatri abadi dalam benak Juventini di seluruh dunia. Platoche juga jadi satu-satunya pemain Juve yang sanggup memenangkan Ballon d'Or tiga musim beruntun.

ROBERTO BAGGIO (1990-1995)

"Il Divin Codino" merupakan salah satu seniman sepakbola terbaik yang pernah ada. Memilik gaya eksentrik dengan kuncir kudanya, Roberto Baggio punya segala atribut untuk jadi sosok yang fenomenal. Sebagai playmaker, dia punya dribel maut, teknik tinggi, tendangan mematikan, dan visi bermain yang brilian.

Tak heran bila kepindahannya dari tim rival, Fiorentina, dengan banderol termahal dunia pada 1990 menuai begitu banyak polemik. Baggio memang sespesial itu. Dengan nomor 10 di punggungnya, dia memenuhi segala ekspektasi yang dibebankan. Tiga gelar bergengsi dipersembahkan, termasuk saat jadi pemain terbaik dunia pad 1993.

Sayangnya tragedi kegagalan penalti di final Piala Dnia 1994, mempengaruhi permainan Baggio. Dia tak pernah lagi jadi pemain yang sama, meski masih memesona. Juve lantas melepasnya pada 1995 dan kariernya terus menurun.

ALESSANDRO DEL PIERO (1995-2012)

Salah satu alasan pemain sebesar Roberto Baggio bisa tergusur dari Juventus adalah karena kehadiran Alessandro Del Piero. Diibeli dari Padova dengan status bocah ajaib, Del Piero menjelma jadi legenda terbesar yang pernah dimiliki La Fidanzaa d'Italia.

Del Piero mulai menggunakan nomor 10 di musim 1995/96 atau musim perdana kala Serie A menetapkan nomor punggung secarapermanen. Sejatinya nomor itu sempat digunakan Vladimir Jugovic, tapi pihak Juve merasa Il Pinturichio lebih layak mewarisi nomor peninggala Baggio tersebut.

Bertahan hingga 19 musim lamanya, tak heran bila kemudian Del Piero memegang berbagai rekor klub. Dia merupakan pemain dengan penampilan, gol, dan jumlah gelar terbanyak untuk Juve. Momen yang takkan dilupakan Juventini darinya tentu saja saat memutuskan bertahan bersama Le Zebre, yang didegradasi paksa ke Serie B Italia akibat calciopoli.

Selama periodenya, sempat muncul pandangan bahwa Juve adalah Del Piero dan sebaliknya. Nomor 10 di Juve juga semakin besar artinya, karena sosoknya.

PENYANDANG NOMOR 10 LAINNYA

Topics