Pelatih 757 Kepri Jaya Tak Menyangka Singkirkan PSMS Medan

Sementara Suharto menilai pemain PSMS masih belum lepas dari kesedihan terdegradasi ke Liga 2.

Pelatih 757 Kepri Jaya Slamet Bachtiar mengaku tidak menyangka tim besutannya mampu menyingkirkan PSMS Medan di babak 64 Besar Piala Indonesia 2018 lewat kemenangan adu penalti 4-3 di Stadion Gelora Citra Mas, Batam, Kamis (13/12).

Pertandingan harus diselesaikan melalui adu penalti, karena kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 90 menit. PSMS sempat unggul lebih dulu melalui Erwin Ramdani di menit ke-11, namun Kepri membalasnya lewat Nanang Sufrianto pada menit ke-51.

“Saya cukup senang dengan hasil ini. Sebelum pertandingan, saya sudah bicara untuk bisa memaksimalkan permainan, dan hanya menargetkan minimal bisa mengimbangi mereka. Ternyata kami diberikan kemenangan, ini bonus bagi tim,” ujar pelatih Slamet Bachtiar.

“Saya sangat berterima kasih banyak kepada para pemain dan manajemen yang bisa memberikan motivasi lebih kepada tim.”

Sementara itu, asisten pelatih PSMS Suharto AD mengakui performa timnya jauh di bawah harapan. Beban mental setelah terdegradasi ke Liga 2 membuat timnya bermain tidak bergairah.

“Yang pasti sangat kecewa. Kalahnya dengan adu penalti ini. Apalagi yang mengalahkan kami tim dari Liga 3. Persoalan terlalu berat di beban mental. Cara mereka bermain sama sekali kurang konsentrasi dan kurang semangat. Mungkin setelah gagal di Liga 1, kekecewaan itu masih terasa,” tutur Suharto.

Pada laga ini, Suharto memainkan Dio Doni Hasibuan sebagai starter. Performa pemain muda tersebut dianggap tidak mengecewakan, meski gagal menjalani tugasnya sebagai algojo penalti. Suharto menyatakan Dio berpotensi menjadi bagian PSMS di musim depan.

“Dio cukup punya prospek. Pemain muda dan memiliki teknik yang baik. Saya pikir dia cukup berpotensi untuk pemain PSMS musim depan,” puji Suharto. (gk-71)

 



View this post on Instagram


Komisi disiplin (Komdis) konfederasi sepakbola Asia (AFC) menjatuhkan sanksi denda kepada PSSI setelah dianggap lalai meminta pemain timnas Indonesia U-19 berjabat tangan di Piala Asia U-19 Oktober lalu. . Komdis AFC menilai PSSI telah melanggar pasal 50 kode disiplin dan etik terkait jabat tangan pascalaga antara Indonesia dan Qatar pada 21 Oktober. Kala itu, Qatar memetik kemenangan 6-5. Akibat kelalaian tersebut, AFC menjatuhkan denda sebesar 1.000 dollar AS, atau sekitar Rp14 juta. . “Terdakwa gagal memastikan semua pemainnya melakukan jabat tangan fair play setelah pertandingan,” demikian pernyataan Komdis melalui laman resmi AFC. . Selain kepada PSSI, AFC juga menjatuhkan denda serupa kepada Thailand dan Qatar. Tim terakhir mendapat denda dua kali, karena pemain mereka juga tidak berjabat tangan saat melawan Thailand. . Sementara itu, pelatih Tajikistan Ergashev Mubin dikenakan denda sebesar 5.000 dollar AS, atau sekitar Rp71,5 juta, karena memberikan komentar yang buruk saat menghadapi Korea Selatan di laga perempat-final.

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Agenda Sepakbola Nasional 2019
2. Pemain Indonesia Jadi Starter Di Kompetisi Muda Spanyol
3. Cristiano Ronaldo: Datanglah Ke Serie A, Messi!
4. Laga Piala Indonesia PS TIRA Versus PSIM Rusuh
5. Peserta 16 Besar Liga Champions
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

 

Footer - Liga 1