Pemain Asia Di Liga Champions

Park Ji-Sung adalah satu-satunya pemain Asia yang mentas di final Liga Champions, tapi kebanyakan dari koloninya pulang ke negara asal.

Sekian detik saja ketika Park Ji-Sung nyaris mencatatkan sejarah di final Liga Champions 2008/09, setengah penduduk Korea Selatan tentu berpikir: "Dia harus mencetak gol!"

Kiper Barcelona, Victor Valdes, gagal menangkap bola hasil sepakan bebas Cristiano Ronaldo. Ia menepis bola tepat ke arah Park Ji-Sung, dan pemain Korsel itu tinggal melakukan satu sentuhan saja untuk menceploskan bola ke jala Barca. Sayang seribu sayang, ternyata Gerard Pique bergerak lebih cepat untuk mendapatkan bola. Pemain yang kini jadi pasangan hidup Shakira itu baru saja melenyapkan suatu peristiwa, yang bisa jadi catatan terbesar sepakbola Asia.

Ya, tapi setidaknya Park sudah bermain di partai prestis itu dan mengulanginya di Wembley pada 2011. Pengalaman itu memberikan penghargaan tersendiri bagi mantan pemain PSV Eindhoven tersebut. Sebelum dirinya, tak pernah ada pemain Asia yang bisa mentas di final Liga Champions.

Park sejatinya bisa mentas tiga kali dan jadi juara sejati, andai dirinya diturunkan pada final 2007/08 di Moskwa. "Salah satu keputusan tersulit yang pernah saya buat," tutur manajer legendaris United, Sir Alex Ferguson. Namun performanya yang terus meningkat membawanya masuk dalam sebelas awal pada final di Olimpico Roma, semusim berselang.

Park merupakan pujaan publik Korea, sejak dirinya bersinar di Piala Dunia 2002 dan salah satu pemain yang paling difavoritkan fans Manchester United. Dirinya juga dikenang dengan kesuksesannya membatasi pergerakan Andrea Pirlo. Pada 2013, setahun selepas Park meninggalkan United, Pirlo bahkan sampai mengeluarkan komentar khusus untuk Park dalam buku otobiografinya. "Dia pasti pemain pertama bertenaga nuklir dalam sejarah Korea Selatan. Pergerakannya begitu gesit di lapangan, dengan kecepatan elektron," sanjung Il Maestro.

Kini, siapa yang pantas jadi Park Ji-Sung berikutnya? Seorang Asia yang akan kembali mentas di final kejuaraan antarklub paling bergengsi. Para pandit kami dari Goal di seluruh Asia telah dimintai pendapatnya. Dari lebih 70 pesepakbola Asia yang mentas di Eropa, nama yang teratas tetap berasal dari Korsel, yakni Son Heung-Min.

Striker Bayer Leverkusen berusia 22 tahun itu merupakan fans Manchester United, katika Park masih berkarier di Old Trafford. Di Bay Arena, Son dipanggil dengan nama 'Sonaldo'. Musim ini dirinya sudah mencetak 14 gol bagi Bayer dan performanya amat menjanjikan. Liverpool dan Tottenham Hotspur meminatinya, tapi jika ingin menyamai prestasi Park, ia jelas harus pergi ke klub yang lebih prestis.

Son sangat cepat, berbakat dan petualang. Ia menandai kebesaran namanya di Jerman, layaknya legenda Korsel di medio 1980-an, Cha Bum-Kum. Cha merupakan pesepakbola Asia pertama yang bermain di final turnamen Eropa, manakala Eintracht Frankfurt menjuarai Piala UEFA 1979/80. Delapan musim berselang, ia menjuarainya lagi. Tandukan emasnya membuat Leverkusen memaksa Espanyol mengakhiri laga lewat adu penalti, karena agregat berakhir imbang 3-3. Die Lowen pun keluar sebagai kampiun.

Talenta Korea Lainnya adalah Ki Sung-Yeung, gelandang yang jadi pemain terbaik Swansea City musim ini. Melihat masa depan, masih ada tiga remaja Korsel yang kini tergabung dalam akademi Barcelona, mereka adalah Lee Seung-Woo, Bak Seung-Hoo, dan Jang Gyeol-Hee.

Dari Jepang, Shinji Kagawa telah kembali ke Borussia Dortmund setelah melalu petualangan kelam di United. Sayangnya ia tak akan mentas di Liga Champions musim depan. Ia masih 26 tahun dan masih memiliki kesempatan lainnya. Sementara itu, Yoshinori Muto, yang diinginkan Chelsea lebih memilih hijrah ke Mainz musim depan. Ia merupakan salah satu masa depan Asia. Yuto Nagatomo, juga merupakan talenta Negeri Sakura lainnya, yang kini membela FC Internazionale.

Takashi Usami pernah mengenyam pendidikan di Bayern Munich, tapi tak berkembang dan akhirnya kembali ke Jepang. Ia kemudian bersinar bersama Gamba Osaka. Budaya dan kendalah bahasa adalah sedikit dari banyak alasan mengapa orang Asia urung bertahan di Eropa. Itulah yang diungkap salah satu tokoh terkemuka sepakbola, Peter Velappan.

"Setelah Park Ji-Sung, saya kecewa karena tak lagi melihat talenta Asia di kompetisi tertinggi sepakbola Eropa," ungkap Velappan, yang merupakan sekretaris umum AFC, tempat di mana ia bekerja selama 40 tahun lamanya.

"Beberapa dari mereka pergi dan kembali, Masih banyak di antara mereka yang layak berkompetisi di Eropa. Namun pemain Asia lebih mencintai rumah mereka dan mendapatkan gaji layak di sini. Terdapat masalah bahasa dan budaya yang benar-benar berbeda.

"Pemain dari Amerika Selatan dan Afrika lebih punya jiwa petualang, tapi saya optimistis jika di masa depan akan ada banyak pemain Asia yang hijrah ke Eropa. Tiongkok mulai memproduksi pemain berkelas, klub-klub top di Eropa juga mulai membangun ulang akademi di India, Tiongkok, dan Indonesia. Mereka mungkin bisa jadi masa depan kita. Liga profesional mereka mungkin tak terstruktur dengan baik, tapi pemain mereka memiliki bakat yang sangat termasyhur. Sedikit mirip dengan talenta Amerika Selatan."

Tiongkok bisa berharap pada gelandang serang berusia 24 tahun, Zhang Xizhe. Konferensi persnya ditonton oleh 40 juta warga Tiongkok kala bergabung ke VfL Wolfsburg pada Desember lalu, meski hingga kini dirinya belum masuk tim utama.

Uni Emirat Arab juga memiliki playmaker brilian dalam diri Omar Abdulrahman. Namun pemain Al-Ain yang jadi pelayan Asamoah Gyan ini, tampaknya lebih memilih untuk bertahan di sekitaran Teluk.

Bakat lainnya juga muncul dalam diri Sardar Azmoun, yang dijuluki "Messi dari Iran". Pemain berusia 20 tahun itu kini sedang menjalani pinjaman di FC Rostov dari Rubin Kazan. Pelatih timnas Iran, Carlos Queiroz, sudah mengakui kualitas hebatnya.

Iran sendiri sebenarnya nyaris mengirim wakilnya jadi pemain Asia pertama yang mentas di final Liga Champions, pada musim 1998/99. Sayang, Ali Daei kala itu hanya jadi cadangan Bayern Munich tanpa diturunkan, saat kalah dari Manchester United.