Perburuan Gelar Juara Sudah Selesai Buat Arsenal?

Marcus Rashford jadi idola instan, tetapi sorotan pascalaga seharusnya terletak pada semakin jauhnya Arsenal dari puncak klasifika.

Arsenal ternyata masih sama seperti dulu. Same old Arsenal, begitu kata pepatah yang berkembang untuk menyindir “stabilitas” The Gunners dalam lebih dari satu dekade terakhir, terutama di kompetisi Liga Primer Inggris.

INKONSISTENSI ARSENAL

FEBRUARI 2016 - SEMUA KOMPETISI
2-3 Manchester United
0-2 Barcelona
0-0 Hull City
2-1 Leicester City
2-0 Bournemouth
0-0 Southampton

Minggu (28/2) kemarin, Arsenal baru saja mendapat pelajaran berharga dari musuh lawas mereka, Manchester United.

Arsenal takluk 3-2 sekaligus membuat mereka tertahan di posisi ketiga dan sudah tertinggal lima poin dari pemuncak klasemen Leicester City dan terpaut tiga poin dari peringkat kedua sekaligus rival sengit Tottenham Hotspur.

Dengan 11 laga tersisa, secara matematis peluang juara Arsenal memang masih terbuka. Akan tetapi, partai di Old Trafford tersebut menunjukkan sekali lagi bahwa pasukan Arsene Wenger belum layak untuk menyebut diri sebagai kandidat kuat juara Liga Primer, persis seperti yang kita saksikan dalam beberapa tahun terakhir.

Yang lebih menyakitkan, kekalahan itu sesungguhnya bisa dihindari. United kehilangan 14 pemain pilarnya yang absen karena cedera sehingga terpaksa memanggil banyak pemain junior ke skuat utama. Praktis, Arsenal pun diunggulkan untuk mendulang tiga poin di markas United.

Manajer United Louis van Gaal sebelum kick-off sempat berujar, “Arsenal adalah satu-satunya tim yang bisa mengalahkan kami 3-0 [dalam pertemuan pertama musim ini]. Mereka berada di level yang berbeda ketimbang kami.” Namun Van Gaal menambahkan, “Arsenal adalah salah satu tim terbaik di Liga Primer, namun mereka tidak selalu konsisten.”

Kenyataannya, justru kalimat terakhir Van Gaal yang berlaku. Arsenal dipermalukan oleh tim anak bawang United. Mereka tidak mampu mencegah remaja debutan Marcus Rashford untuk mencatatkan dua gol dan satu assist ke gawang Petr Cech, sosok kiper sarat pengalaman dengan rekor clean sheet terbanyak sepanjang sejarah Liga Primer.

Rashford, 18 tahun, menjadi idola instan selepas laga tersebut. Namun diskusi pascalaga seharusnya berkisar pada ketidakmampuan Arsenal mendulang poin di Old Trafford. Jadi, apa penyebab Arsenal lagi-lagi tersandung pada penyakit lama bernama inkonsistensi?

Kecerobohan di lini belakang menjadi alasan paling kentara. Arsenal seperti memberi kado tiga gol kepada United, tim yang hampir sepanjang musim ini kesulitan mencetak gol. Bek sentral Arsenal, Gabriel Paulista, pantas disebut sebagai pemain terburuk di laga ini dengan dua gol Rashford tercipta karena kesalahannya.

Pertama, Gabriel melakukan clearence tak sempurna terhadap crossing Guillermo Varela sehingga Rashford dengan mudah menyambarnya. Kedua, Gabriel membiarkan Rashford tak terkawal saat menanduk bebas umpan tarik Jesse Lingard. Dua gol itu tercipta hanya dalam selang lima menit yang bisa mengacaukan ambisi juara Arsenal di sepanjang musim ini.

Gol ketiga United juga tidak lepas dari kegagalan pertahanan Arsenal membaca pergerakan Ander Herrera yang benar-benar terbebas di lini kedua. Akibatnya, ketika menerima umpan Rashford, Herrera leluasa melepaskan tembakan keras yang berbelok arah mengecoh Cech usai membentur tubuh Laurent Koscielny.

Di sepanjang laga, gelandang bertahan Francis Coquelin yang biasanya jago menyaring serangan-serangan lawan justru terlihat kewalahan menghadapi gempuran anak muda United. Coquelin pun ditarik keluar dan diganti rekrutan anyar Mohamed Elneny.

Arsenal juga terlihat sangat kepayahan dalam membangun serangan kendati kualitas lini depan Arsenal di atas kertas unggul jauh ketimbang lini belakang Setan Merah. Bayangkan, United menempatkan dua gelandang sentral sebagai duet bek tengah (Michael Carrick dan Daley Blind), seorang bek kanan yang baru dua kali berlaga di Liga Primer (Varela), dan bek kiri yang baru melakoni comeback sejak November (Marcos Rojo).

Satu debutan lagi dimunculkan di posisi bek kiri, Timothy Fosu-Mensah, untuk menggantikan Rojo yang cedera di awal babak kedua. Namun Arsenal tetap gagal mengeksploitasi pertahanan United. Theo Walcott tak berkutik di depan, Alexis Sanchez terlalu sering menjemput bola di lini tengah, dan Aaron Ramsey bermain kurang tenang dan bahkan sempat memicu keributan di lapangan dengan Herrera. Arsenal tampak frustrasi.

Beruntung, Arsenal memiliki Mesut Ozil sehingga membuat kekalahan tersebut tidak terasa telak. Ozil sempat menghadirkan harapan lewat satu assist kepada Danny Welbeck sebelum playmaker Jerman itu sendiri mencetak gol untuk membuat Arsenal dua kali mengejar ketertinggalan dari United menjadi satu margin.

Skor akhir di Manchester boleh terasa tipis, tetapi Wenger dan pasukannya dipastikan memiliki catatan pekerjaan rumah yang tebal. Hingga Mei mendatang, tedapat sejumlah laga berat menanti, di antaranya menghadapi Tottenham Hotspur (5 Maret), Everton (19 Maret), West Ham United (12 April) dan Manchester City (7 Mei).

"Gelar juara masih mungkin diraih. Kami akan memberi jawaban dengan cepat dan kuat,” janji Wenger untuk langsung merespons kekalahan itu ketika menjamu Swansea City, Rabu (2/3) mendatang.

Bagaimana pun, sulit untuk menutupi fakta bahwa penyakit lama Arsenal kini mulai kambuh tepat di saat memasuki fase krusial musim 2015/16, musim yang disebut-sebut menghadirkankans terbaik Arsenal untuk menjuarai liga sejak 2004. Ya, loyalis Arsenal punya hak untuk takut bahwa musim ini akan berakhir sama seperti musim-musim sebelumnya.

Sayonara sekali lagi, Arsenal?