Periode Termajal Thomas Muller

Hanya mengemas satu gol di Bundesliga musim ini membuat Muller menjadi sorotan tajam di Jerman. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang Raumdeuter?

Sebanyak 32 gol mampu dicetak Thomas Muller di musim 2015/16, 20 gol di antaranya tercipta di Bundesliga Jerman. Tidak diragukan lagi, musim lalu adalah musim tersubur di sepanjang karier Muller.

Akan tetapi, melihat apa yang terjadi di musim berikutnya -- musim 2016/17 -- sulit untuk percaya bahwa kita sedang membicarakan seorang pemain yang sama.

Tercatat hingga Februari 2017, Muller baru mengemas empat gol dari 25 penampilan di semua ajang musim ini. Yang lebih mengecewakan, penyerang internasional Jerman itu ternyata baru membungkus satu gol di Bundesliga.

Satu-satunya gol itu tercipta di pekan ke-14 pada pertengahan Desember lalu saat Bayern melibas Wolfsburg 5-0. Gol tersebut menyudahi periode 999 menit tanpa gol Muller di Bundesliga. Namun sampai menjelang Spieltag 20 akhir pekan ini, catatan gol Muller masih tidak beranjak.

Tidak biasanya Muller seperti ini. Sejak diorbitkan oleh Louis van Gaal menjadi pemain inti Die Roten di musim 2009/10, Muller tidak pernah mengalami kebuntuan gol seperti saat ini.

Dalam empat musim terakhir, menit per gol Muller mampu konsisten berada di bawah 200. Bahkan di musim lalu, Muller berhasil menyentuh angka 117, yang artinya ia mampu mencetak satu gol di setiap 117 menit.

Hanya di musim 2011/12, Muller menunjukkan statistik terburuknya dengan 386 menit per gol dan hanya mengemas tujuh gol Bundesliga (tidak tercantum dalam infografik). Catatan itu ternyata masih jauh lebih baik ketimbang di musim ini, yang hanya mencapai 1162 menit per satu gol!

Tak pelak, Muller saat ini sedang menjalani periode termandul sepanjang kariernya. Lantas, apa yang menyebabkan produktivitas gol Muller merosot begitu signifikan?

Pergantian pelatih dari Pep Guardiola ke Carlo Ancelotti barangkali bisa dijadikan kambing hitam. Muller selama ini terbiasa dengan taktik Guardiola yang berbasis penguasaan bola dan penempatan posisi antarpemain yang saklek. Di sinilah Muller, seorang pemain dengan skill rata-rata namun jago dalam membaca permainan, menjadi kunci.

Muller pun disebut-sebut sebagai pemain yang memunculkan posisi baru, yakni raumdeuter atau penerjemah ruang. Ia selalu mampu berada di tempat dan waktu yang tepat untuk membantu alur serangan timnya hingga sekadar mencocor bola di mulut gawang. Sayang, peran raumdeuter seperti tak punya tempat di skema Bayern musim ini.

Ancelotti beberapa kali mencadangkan Muller dan lebih suka menurunkan Thiago Alcantara, gelandang kreatif dan berteknik tinggi, di belakang Robert Lewandowski. Pelatih Italia itu juga gemar memanfaatkan pinggir lapangan untuk memulai serangan, dengan mengandalkan pemain sayap ber-skill mumpuni yang berlimpah di skuatnya seperti Arjen Robben, Franck Ribery, dan Douglas Costa.

Thomas Müller 11192016

Gaya bermain seperti ini tentu menyulitkan Muller sebagaimana diakui sendiri olehnya. “Ketika kami lebih banyak memainkan bola di tanah dan menyerang dari tengah, maka saya akan merasa lebih nyaman,” ungkapnya seperi dikutip ESPN.

“Saya bukanlah pemain yang suka mengambil bola dari tengah lapangan kemudian melewati enam pemain. Ketika alur bola, umpan, dan penempatan posisi di tim berjalan tidak maksimal, maka performa saya ikut terkena imbasnya,” jelas pemain berusia 27 tahun itu.

Muller boleh saja menyalahkan taktik Ancelotti, namun performanya sejak awal tahun 2016 sejatinya tidak terlalu memuaskan. Kegagalannya mengeksekusi penalti krusial kontra Atletico Madrid di semi-final Liga Champions musim lalu menjadi salah satu noda besar. Puncaknya, Muller gagal mencetak satu gol pun bagi Jerman di Euro 2016.

Sayangnya, paceklik gol itu terus berlanjut sampai hari ini.