Persatu Tuban Gagal Bendung Persepam Madura Utama

Jaya Hartono mengkritik kepemimpinan wasit yang dinilai tidak memahami aturan permainan.

Persatu Tuban gagal mempertahankan keunggulan, dan terpaksa menelan kekalahan ketika dibekap Persepam Madura Utama 2-1 dalam lanjutan Grup D Piala Kemerdekaan 2015 di Stadion Wilis, Madiun, Rabu (19/8) malam WIB.

Persepam dan Persatu memperagakan permainan terbuka. Namun Persatu mampu membuka keunggulan di menit ke-24 lewat tendangan bebas Mari siswanto. Keputusan wasit I Dewa Komang Santika memberikan hadiah tendangan bebas diprotes Persepam, dan membuat laga sempat terhenti beberapa menit.

Setelah peluang Qischil Gandrum Minny hanya menerap tiang gawang di menit ke-38, Persepam akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjelang babak pertama berakhir lewat eksekusi penalti Srivi Arvani. Hadiah penalti diberikan wasit menyusul pelanggaran handsball pemain Persatu.

Tensi pertandingan makin meninggi di babak kedua. Sejumlah benturan keras yang diperlihatkan kedua tim terkesan diabaikan wasit. Kendati demikian, Persepam akhirnya sukses membalikkan keadaan, dan menutup laga dengan kemenangan 2-1 melalui tendangan bebas Rossy Noprihanis.

Pelatih Persepam Jaya Hartono mengaku kecewa terhadap performa pengadil lapangan yang dinilai kurang mengerti tugasnya. Menurut Jaya, wasit memberikan keputusan yang justru merugikan salah satu tim.

“Wasit seperti tidak tahu yang mana advantage, dan mana yang tidak. Seperti saat Sirvi menerima bola dari Qischil, wasit lebih meniup peluit, meskipun Sirvi mendapatkan keuntungan. Juga pelanggaran Waluyo yang berbuah gol, seharusnya tidak perlu, karena dia memenangi duel udara, dan tidak ada melakukan sikutan kepada pemain lawan,” cetus Jaya.

“Kalau memang tidak mampu, serahkan kepada yang lain. Jangan buat malu Piala Kemerdekaan, jangan merusak sepakbola kita. Hakim garis juga sempat saya dekati, karena dia tidak menjaga orang terakhir dari tim bertahan. Mengapa pelatih saja tahu sedangkan wasit tidak? Padahal ini kesehariannya dia [hakim garis].”

Sedangkan bek Persepam Chairul Rifan menyebutkan, mereka sempat mendapat kesulitan di babak pertama, karena tiupan angin kencang ke arah Laskar Sapeh Ngamok.

“Babak pertama anginnya kencang. Kita di belakang kesulitan mengantisipasi bola-bola atas. Arah bola jadi sulit ditebak,” ujar Rifan.

Sementara itu, pelatih Persatu Suparji Karjan mengungkapkan, strategi menutup setiap ruang gerak pemain Persepam tidak mampu diaplikasikan anak asuhnya dengan baik.

“Strategi yang saya instruksikan kepada para pemain dengan menutup setiap serangan Persepam tidak berjalan, sehingga kita harus kecolongan gol. Kita berharap bisa mengimbangi, namun tidak terjadi,” kata Suparji. (gk-62)

Topics