Persijap Jepara Kritik Kinerja Tim Transisi

Manajemen Laskar Kalinyamat mempertanyakan keuntungan yang diperoleh peserta Piala Kemerdekaan.

CEO Persijap Jepara Aris Isnandar mengkritik kinerja tim transisi bentukan kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora) dalam mempersiapkan turnamen Piala Kemerdekaan yang digelar awal Agustus.

Menurut Aris, ia menilai tim transisi kurang serius menggarap Piala Kemerdekaan. Ia mencontohkan undangan kepada tim peserta yang dikirim melalui surat elektronik (surel).

Aris menyatakan, bila turnamen ini di bawah langsung Kemenpora, seharusnya surat undangan yang dikirimkan tidak melalui surel, melainkan lewat surat yang ditujukan langsung ke sekretariat masing-masing tim.

“Sampai pekan lalu, kami belum terima e-mail [surel]. Katanya sudah dikirim ke Persijap, tapi di alamat e-mail mana. Kami menerima e-mail pada Sabtu [4/7], itu pun setelah Persijap mencari info, dan bertanya ke panitia langsung. Kalau kita tidak tanya, ya mungkin sampai kompetisi jalan, kita tidak tahu,” cetus Aris kepada Goal Indonesia.

Manajemen Persijap akhirnya memutuskan tidak mengikuti turnamen tersebut, mengingat mepetnya waktu persiapan tim, dan penggalian dana.

“Rapat internal manajemen memutuskan Persijap tak ikut Piala Kemerdekaan. Seharusnya Menpora dan timnya lebih serius membuat turnamen seperti yang dilakukan tim Divisi Utama di Jawa Tengah lewat Piala Polda Jateng 2015,” jelasnya.

Aris menambahkan, turnamen Piala Polda Jateng terbukti bisa memberikan pemasukan bagi klub dan pemain, kendati nilainya tak sebesar kompetisi resmi. Apalagi tim Persijap juga sudah dibubarkan usai gagal melangkah ke semi-final Piala Polda Jateng.

“Turnamen ini keuntungan bagi tim-tim apa? Bagaimana pembagian keuntungan untuk tim? Kalau sistem home-away, tim-tim bisa ambil keuntungan dari pemasukan tiket,” imbuhnya.

“Untuk mengikuti Piala Kemerdekaan, waktu kami tidak cukup. Perekrutan pemain, penggalian dana, dan lainnya, kami tidak siap. Sementara deadline pendaftaran terakhir besok Senin [hari ini].” (gk-18)