Persipura Jayapura Menangis

Persipura Jayapura merasa tidak mendapat dukungan dalam mencapai target menembus final Piala AFC musim ini.

Ketua umum Persipura Jayapura Benhur Tomi Mano mengaku sedih karena masalah yang menimpa penyelenggaraan babak 16 besar Piala AFC.

Seperti yang diketahui, Pahang FA memilih kembali ke Malaysia, Minggu (24/5) pagi, setelah para pemain asing mereka tidak mendapat visa masuk Indonesia. Pihak keimigrasian tidak mendapatkan invitation letter untuk delegasi tim tamu. Setelah menginap satu malam di bandara, Pahang FC memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Jayapura dan mereka mengeluhkan pelayanan yang diberikan PSSI.

Masalah ini kemudian menjadi polemik yang hangat dibicarakan publik sepakbola tanah air. PSSI mengatakan telah menerima surat resmi dari AFC perihal kemungkinan sanksi tegas terhadap Persipura, tapi otoritas sepakbola nasional ini juga mengatakan tak bisa berbuat banyak usai pembekuan yang dilakukan Kemenpora.

Akibat adanya pembekuan, pengurusan visa dan invitation letter sebagai rekomendasi diurus oleh BOPI. Sementara, dalam pernyataan resminya BOPI menyatakan sudah mengurus surat rekomendasi sebagaimana mestinya meski mengaku sempat mengirim surat yang belum ditandatangani. BOPI menyatakan prosedur setelah pengiriman rekomendasi tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab manajemen Persipura.

Apapun, Persipura menjadi korban polemik.

"Kami sudah mengerjakan apa yang harus kami lakukan," ujar Tomi Mano.

"Kami sudah berkirim surat kepada BOPI dan Keimigrasian. BOPI sudah memberikan rekomendasi walaupun awalnya mereka kirim yang belum ditandatangani. Belum ada tanggal dan momor surat. Setelah kami pertanyakan via e-mail barulah mereka mengirim yang lengkap, tapi BOPI menulis tertanggal 22 Mei, padahal surat di e-mail tertanggal 23 Mei."

"Saya sedih dan menangis. Kami ini berjuang atas nama Indonesia, tapi kenapa kami dipersulit. Tahun lalu kami masuk semi-final Piala AFC dan tahun ini kami menargetkan final. Tapi sepertinya kami tidak didukung dalam mencapainya. Kami menangis." (gk-58)

Topics