Pertaruhan Pamungkas Pep Guardiola Demi Keabadian

Nama Pep Guardiola bakal terpatri abadi bersama Bayern Munich jika trofi Liga Champions berhasil digenggam, dan musim ini adalah kesempatan terakhir baginya.

"Barang tentu dia adalah pelatih kelas dunia. Namun sekarang dia harus membuktikan hal itu dengan mempersembahkan gelar Liga Champions bersama skuat ini. Bayern mengharapkannya bisa memberikan gelar tersebut karena untuk itulah dia berada di sini.”

Legenda dan eks kapten Bayern Munich Stefan Effenberg melontarkan kalimat tersebut ketika membahas apakah kinerja Pep Guardiola di Bavaria layak disebut berhasil atau tidak. Barangkali, itulah komentar paling jujur yang mungkin turut mewakili aspirasi kebanyakan fans Bayern terkait isu Guardiola.

Ya, masih ada satu beban berat yang dipikulnya: menjadi kampiun di Liga Champions. Target berjaya di Eropa itu urung dicapai Guardiola dalam dua musim terakhir. Tentu semua sudah mafhum, untuk tim sekelas Bayern, menjadi raja di Jerman saja tidak cukup.

Bagi Bayern, Liga Champions dan Guardiola haruslah satu paket. Sebab dia adalah Guardiola, sosok genius peraih trofi Eropa dua kali dan bergaji €17 juta per musim, dikombinasikan dengan skuat bertabur bintang di sebuah klub dengan sejarah panjang. Maka, hanya trofi platinum berkuping lebar yang sepadan untuk kualitas semacam itu.

Sayang, waktu bagi Guardiola untuk melunasi utang tersebut kian menipis, sebab musim ini adalah musim terakhirnya di Allianz Arena. Guardiola dipastikan akan lengser dari jabatannya sebagai trainer Bayern setelah tergoda dengan ingar-bingar sepakbola Inggris. Klub kaya Liga Primer Inggris, Manchester City, bakal menjadi pelabuhan berikut bagi nahkoda berusia 45 tahun itu mulai musim 2016/17.

Keputusan itu tak pelak menimbulkan kritik. Banyak yang menilai, Guardiola ibarat melarikan diri dari kenyataan, tak punya komitmen, hanya mengejar ambisi pribadi, dan sebagainya. Klaim Zlatan Ibrahimovic bahwa Guardiola adalah sosok yang pengecut lama-kelamaan ada benarnya. Meski demikian, Guardiola sudah menegaskan, ia akan fokus dan total di musim pamungkasnya bersama Bayern.

Kamis (14/4) dini hari WIB, Bayern secara susah payah menyingkirkan Benfica di perempat-final Liga Champions usai meraih hasil imbang 2-2 di leg kedua. Tiket ke semi-final pun diamankan, mengingat Bayern unggul skor agregat 3-2. Itu adalah kelolosan Bayern ke babak empat besar Liga Champions untuk kelima kalinya secara beruntun sekaligus menjaga harapan Guardiola untuk mengejar satu gelar yang belum kesampaian itu.

Kontra Benfica, yang di atas kertas sebetulnya bukan lawan yang menyulitkan, Bayern justru dibuat was-was. Beruntung, Guardiola memiliki pahlawan tak terduga dalam diri Arturo Vidal. Sebuah gol tandukan semata wayang di leg pertama dan sepakan setengah volinya yang menyamakan skor di Estadio da Luz menyalakan kembali harapan Bayern untuk mengulangi treble di musim 2012/13.

Padahal, gelandang Cile itu secara taktik kerap tidak satu pikiran dengan Guardiola. Vidal adalah gelandang petarung, sering melakukan tekel tanpa ragu, dan berani mengambil risiko. Tentu berbeda dengan gaya possesion ala Guardiola yang mengagungkan kontrol bola dan umpan-umpan pendek untuk meminimalkan risiko. “Vidal tidak cocok dengan filosofi Pep Guardiola,” kata kiper legendaris klub Oliver Kahn ketika menyambut kedatangan Vidal senilai €37 juta dari Juventus.

Pernyataan Kahn itu seperti menjadi kenyataan ketika Bayern bertamu ke Stuttgart pada Sabtu (9/2) lalu. Vidal, yang sudah mengantongi kartu kuning, nyaris diusir ketika ia melanggar Emiliano Insua untuk kali kedua hanya dalam selang beberapa menit. Beruntung wasit tidak mencabut kartu kuning kedua untuknya. Namun, Guardiola sudah keburu geram sehingga Vidal langsung ditarik keluar di pertengahan babak pertama.

Kenyataannya, mentalitas pembangkang Vidal tetap diperlukan. Pasalnya, Bayern tidak selamanya bisa mencetak gol dengan hanya melulu mengandalkan insting tajam Robert Lewandowski, penempatan posisi Thomas Muller, kecepatan Douglas Costa, atau visi Thiago Alcantara. Lewat permainan ngototnya, Vidal menghadirkan dimensi baru bagi lini serang Bayern, meski itu harus melabrak taktik Guardiola yang dikenal sangat sistematis dan rapi.

Tiki-taka ala Guardiola tidak bisa dibantah merupakan sebuah revolusi dalam sepakbola. Dengan taktik itu, Guardiola mengantarkan Barcelona menjadi klub dengan permainan elegan sekaligus memanjakan mata. Taktik ini lantas diadopsi Guardiola ke Bayern. Meski tidak persis plek, tetap saja cetak biru Bayern adalah tiki-taka Guardiola garis miring Barcelona.

Thierry Henry pernah membeberkan formula rahasia Guardiola ketika keduanya masih di Barcelona. “Dia menyebutnya sebagai 3P – play (bermain), possesion (penguasaan bola), dan position (posisi). Posisi menjadi yang terpenting, bahwa setiap pemain harus tetap berada di posisinya, percayakan bola kepada rekan setim, dan tunggu bola datang kepada Anda,” terangnya.

Penuturan Henry ini menjelaskan mengapa Guardiola sering sekali tampak begitu emosional di pinggir lapangan. Ia selalu mengingatkan setiap pemain untuk disiplin berada di posisinya. Secara bersamaan, kebebasan juga bisa diraih karena si pemain diberi kepercayaan penuh untuk melakukan apa pun yang dia suka asalkan tetap pada areanya.

Namun, para rival akhirnya mengetahui cara meredam strategi tersebut dan membuat Guardiola sulit mengelak bahwa taktiknya hanya bervisi satu dimensi, minim alternatif, dan mudah ditebak. Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti adalah pelatih yang sukses membuat Guardiola garuk-garuk kepala kala Internazionale menumpas Barcelona 3-2 di semi-final 2009/10 dan ketika Real Madrid menghajar Bayern 5-0 di semi-final 2013/14.

Beruntung, Guardiola merupakan seorang pembelajar yang hebat. Ia tidak segan untuk mengurung diri di kamar, menganalisis lawan dan video pertandingan selama berjam-jam, bahkan ketika jam tidur tiba. "Dia sosok maniak. Dia sering menelepon kami jam tiga dini hari hanya untuk membicarakan taktik. Dia selalu memikirkan sistem baru. Tapi karena itu, dia telah membuat kami berkembang dan sulit diprediksi," kata Arjen Robben mengenai pelatihnya.

Kemauan Guardiola untuk mengoreksi diri terlihat begitu nyata di musim ini. Masih ingat ketika Bayern takluk 2-0 dari Arsenal di Emirates dalam fase grup Liga Champions pada Oktober lalu? Guardiola lantas belajar dari kesalahannya dan pada saat pertemuan kedua di Allianz Arena tiba, Arsenal dipermak habis 5-1.

Bahkan di leg kedua babak 16 besar melawan jawara Italia dan finalis musim lalu, Juventus, Guardiola melakukannya dengan cara yang lebih mengesankan. Tertinggal 2-0 di babak pertama, ia melakukan pergantian formasi dan pemain di babak kedua. Simsalabim, Bayern mengejar dan membalikkan keadaan menjadi 4-2 via perpanjangan waktu.

Kini, The Bavarians adalah satu-satunya tim di Eropa yang berpeluang merengkuh treble dan Guardiola layak mendapat kredit tertinggi. Meski demikian, di tengah optimisme itu, beberapa lubang masih terasa, terutama di lini pertahanan dan cedera pemain. Dua titik lemah ini memang berkelindan erat mengingat trio bek sentral Jerome Boateng, Holger Badstuber, dan Medhi Benatia sedang dibekap cedera.

Javi Martinez, Joshua Kimmich, David Alaba, dan Xabi Alonso secara bergiliran mengisi pos bek tengah, namun itu jelas bukan proteksi sempurna untuk Manuel Neuer. Terbukti dari enam gol yang bersarang di gawang Neuer selama babak knock-out. Ini bisa sangat berbahaya, mengingat Bayern di semi-final bukan cuma menghadapi penyerang mematikan dalam diri Antoine Griezmann, namun juga menghadapi Atletico Madrid secara keseluruhan yang punya keuletan tinggi di segala lini.

Kabar baiknya, kondisi Boateng sudah membaik dan berpeluang comeback pada pertengahan April. Itu artinya, bek andalan Bayern itu sudah bisa bermain beberapa pekan sebelum kick-off kontra Atletico, yakni pada 27 April (leg pertama) dan 3 Mei (leg kedua). Seiring Boateng pulih, maka Guardiola boleh berharap bisa menyalin prestasi serupa yang ditorehkan pendahulunya, Jupp Heynckes.

Pada akhirnya, Guardiola masih harus bekerja keras untuk memburu 'cawan suci'-nya. Kalimat “Hanya Liga Champions yang Masuk Hitungan” yang tertera pada headline media-media Jerman -- saat Die Roten tersisih di dua semi-final terkini oleh Madrid dan Barcelona -- memang terasa begitu kejam. Namun itulah kenyataannya. Pengultusan Liga Champions adalah sebuah keniscayaan bagi klub sebesar Bayern. Tanpa trofi sakral itu, jerih payah Guardiola di Sabener Strasse selama tiga tahun terakhir bakal mudah dilupakan.

Pujangga besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menyaksikan begitu keramatnya Si Kuping Lebar bagi Bayern, kalimat itu kiranya bisa dibelokkan sedikit menjadi: memenangi Liga Champions adalah bekerja untuk keabadian. Dan itulah kredo yang harus diamini Guardiola.

Setelah mengetahui hasil undian semi-final Liga Champions, tim mana yang menurut Anda paling berpeluang menjadi kampiun musim ini? Berikan pilihan pada polling di bawah ini!