Philipp Lahm: Chelsea Telah Membantu Bayern Menjuarai Liga Champions

Philipp Lahm

Philipp Lahm mengatakan kepada FourFourTwo bahwa Bayern Munich memanfaatkan rasa sakit hati karena kalah dari Chelsea di final Liga Champions 2012 untuk bangkit dan merebut trigelar yang luar biasa di musim berikutnya.

The Blues secara mengejutkan berhasil menjuarai Liga Champions lima tahun yang lalu lewat adu penalti, dan mengalahkan Bayern Muenchen di kandang mereka sendiri setelah Didier Drogba mampu membuat skor imbang di akhir pertandingan. Arjen Robben kemudian gagal mengeksekusi penalti di babak tambahan.

Tetapi Bayern bangkit dan menyapu bersih tiga trofi yang bisa mereka dapatkan di musim 2012/13 - termasuk dengan mengalahkan rival mereka di Bundesliga, Borussia Dortmund, di final Liga Champions di Wembley - dan Lahm yakin, kekalahan dari Chelsea membuat mereka begitu fokus di musim berikutnya.

Jika dilihat kembali, saya bisa katakan itu adalah momen yang luar biasa, namun hasil akhirnya tak sesuai yang kami harapkan

- Philipp Lahm

Berbicara untuk dokumenter terbaru dari FourFourTwo Films, How to win the Champions League by the men who have done it, Lahm berkata, “(Kekalahan) itu jelas memberikan kami motivasi untuk tahun berikutnya. Itulah pertanyaannya: apakah tim ini akan hancur setelah kekalahan itu atau justru akan membantu kami memenangkannya?"

“Final 2012 membuat kami tumbuh dewasa bersama - laga itu adalah sebuah garis start kami untuk musim berikutnya. Itu memberikan kami motivasi yang kuat dan memberikan efek yang impresif, karena kami mampu memenangkan trigelar."

“Jika dilihat kembali, saya bisa katakan itu adalah momen yang luar biasa, namun hasil akhirnya tak sesuai yang kami harapkan.”

Anda bisa menonton filmnya di akhir artikel ini

Bayern terlihat unggul atas Chelsea di sepanjang pertandingan dan ada perasaan bahwa mereka akhirnya berhasil mematahkan semangat tim asuhan Roberto Di Matteo itu ketika Thomas Muller mencetak gol sundulan dengan tujuh menit tersisa di akhir pertandingan.

Tetapi setelah Drogba mencetak gol penyeimbang beberapa menit kemudian, segalanya berjalan semakin buruk bagi Bayern setelah penalti Robben berhasil digagalkan Petr Cech di babak tambahan. Penderitaan mereka bertambah ketika Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger pun gagal mengeksekusi penalti di babak adu penalti. Lahm mampu mencetak gol dalam babak tos-tosan itu.

Walau begitu, meski musim berikutnya mereka benar-benar berpesta, kenangan akan pertandingan final 2012 tetap memberikan rasa pedih bagi pemain berusia 33 tahun ini, yang menjalani pertandingan terakhirnya untuk sang juara Bundesliga pada hari Sabtu lalu.

Kami adalah favorit dan kami bermain seperti tim favorit. Kami mendominasi pertandingan, performa kami bagus, tetapi kami kurang beruntung dengan situasi bola mati

- Philipp Lahm

“Kenangan saya (akan laga itu) tidak bagus," katanya kepada FourFourTwo. “Kami bermain di kandang sendiri di Munich - fakta itu tertulis di sepatu saya: 'Mir san dohoam' (kami bermain di rumah sendiri dalam bahasa slang Bavaria)."

“[Tetapi] laga itu memberikan pengalaman yang luar biasa karena kami bisa memainkan final Liga Champions di kota kami sendiri, di stadion kami sendiri."

"Kami adalah favorit dan kami bermain seperti tim favorit. Kami mendominasi pertandingan, performa kami bagus, tetapi kami kurang beruntung dengan situasi bola mati."

"Chelsea mencetak gol penyeimbang dan kami harus menjalani babak tambahan. Kemudian kami gagal mengeksekusi penalti dan akhirnya benar-benar kalah setelah adu penalti."

Memenangkan Liga Champions adalah impian setiap pemain, tetapi hanya sedikit yang pada akhirnya bisa mengangkat Si Cuping Besar tinggi-tinggi. Mengapa? dan, yang paling penting, bagaimana mereka melakukannya? FFT bertanya kepada pemain-pemain seperti Lionel Messi, Javier Zanetti, dan Xabi Alonso untuk menjelaskan kesuksesan mereka. Saksikan di bawah ini