Pieter Huistra: Jangan Lupakan Pembinaan Usia Muda

Huistra menilai pemangku kepentingan sepakbola Indonesia cenderung lebih fokus di kasta tertinggi.

Mantan direktur teknik PSSI Pieter Huistra mengingatkan organisasi sepakbola Indonesia itu tidak melupakan pembinaan usia muda bila ingin berbicara banyak di pentas internasional pada masa mendatang.

Huistra yang kini menangani klub amatir Jepang Iwaki FC mengatakan, selama ini pembinaan usia muda kerap dilupakan. Ia berharap program yang sudah dirancang tetap dilanjutkan.

Pria asal Belanda ini sempat menjalankan program pembinaan pemain muda. Namun program itu tidak berlanjut akibat adanya sanksi pembekuan dari pemerintah pascapemilihan ketua umum PSSI April 2015. Intervensi pemerintah ini berujung penangguhan keanggotan Indonesia di FIFA.

“Jika Indonesia tidak menggulirkan kompetisi usia muda, tak akan ada yang berubah. Jujur saja, ketika saya memulainya, itu terlihat bagus, mereka [PSSI] sudah mengawali langkah baru,” ujar Huistra kepada FourFourTwo.

“Mereka punya ambisi dengan perencanaan empat atau lima tahun. Mereka juga mendatangkan orang asing untuk membangun struktur pengembangan sepakbola. Kami punya ide jelas mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang harus dibangun.”

Huistra mengakui, tantangan terbesar di negara yang gila sepakbola adalah meyakinkan pemilik kepentingan mengenai pentingnya pembangunan pemain muda. Huistra menyebutkan, selama ini PSSI lebih memperhatikan kasta teratas.

“Sangat sulit untuk meyakinkan orang, untuk membangun rumah, Anda harus memulainya dari fondasi. Sebab, jika Anda memulainya dari atap, sedikit angin dan hujan kecil saja yang masuk dari sisi rumah, sudah membuat lantai basah,” imbuh Huistra.

“Anda tidak akan mendapatkan apa pun, dan di Indonesia mereka hanya memikirkan atap – tentang liga profesional, tentang tim nasional – dan itu tidak bagus untuk jangka panjang.”

Huistra pun meyakini PSSI akan melanjutkan program yang sudah disusun. Namun jika itu tidak dilakukan, Indonesia akan makin tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, terutama Thailand.

“Jika mereka tidak bisa [melanjutkan program yang sudah disusun], itu akan membutuhkan waktu banya, mereka akan sering kalah, dan negara-negara di sekitar mereka akan bisa melewatinya,” kata Huistra.

“Sejauh yang saya lihat di kawasan Asia Tenggara, struktur di Thailand merupakan yang terbaik, punya sistem terbaik, dukungan bagus dari pemerintah dan sponsor, dan mereka memimpin di kawasan Asia Tenggara.”

“Jika mereka [PSSI] bisa memulainya lagi, saya yakin tidak lebih dari lima tahun - bukan satu tahun, sembilan bulan, atau enam bulan - Anda bisa mendapatkan sesuatu. Tapi Anda harus punya program jangka panjang, dan itu menjadi permasalahan utama di negara Asia Tenggara.”

BACA WAWANCARA SELENGKAPNYA DI SINI