Prediksi Redaksi Goal Indonesia: The Most Energized Player

Redaksi Goal Indonesia memprediksi dan menganalisis peluang siapa saja yang pantas menjadi pemain terbaik, pemain muda terbaik, dan top skor turnamen!

Tiga gelar individual, tiga nominator favorit.

Piala Dunia 2018 mulai terasa semarak dengan pertandingan pembukaan Rusia versus Arab Saudi akan digelar Kamis (14/6). Setelah melakukan prediksi tim favorit juara dan kejutan serta analisis kekuatan setiap grup, kali ini redaksi Goal Indonesia membeberkan pilihan favorit peraih tiga gelar individual, yaitu topskor, pemain muda terbaik, dan pemain terbaik turnamen.

Siapa saja? Simak paparan kami berikut ini!


TOPSKOR


NEYMAR. Cedera lutut pada akhir Februari lalu sempat ditakutkan bakal menamatkan kiprah Neymar di Piala Dunia 2018. Untungnya, semua ketakutan tersebut seketika sirna begitu ia menandai comeback-nya kontra Kroasia dan Austria dengan membikin gol.

Performa apik di laga pemanasan itu tentu tidak serta merta menggaransi Neymar akan meledak di Rusia. Tapi setidaknya Neymar sudah membunyikan alarm peringatan kepada lawan-lawannya bahwa ia sudah siap tempur kendati kondisinya belum 100 persen. Menurut Tite, Neymar baru akan mencapai level terbaik jika sudah bermain di lima pertandingan.

Menghadapi Kosta Rika, Swiss, dan Serbia di Grup E yang relatif empuk, penyerang Paris Saint-Germain itu seperti dibukakan pintu untuk mencetak gol sebanyak mungkin sembari terus menggenjot fisiknya. Kelar dari fase grup, Neymar diyakini sudah memiliki “bahan bakar” yang pas untuk meledak kapan pun.  

"Neymar sungguh luar biasa, saya bahkan tidak tahu sampai di mana batas kemampuannya. Ketika mendapati Neymar ada di sepertiga akhir lapangan musuh, tidak diragukan dia sangat mematikan!" kata Tite, mengevaluasi performa striker andalannya itu selepas duel melawan Austria.

Narasi Neymar menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2018 juga didukung dengan fakta bahwa ia memiliki tim yang lebih kompetitif ketimbang kandidat topskor lain macam Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Harry Kane. Harus diakui, lualitas skuat Brasil memang lebih merata ketimbang Argentina, Portugal, dan Inggris.

Di tangan Tite, Selecao menjelma menjadi tim yang amat menakutkan. Tidak hanya mempersolid sektor defensif, Tite turut mempertahankan sepakbola seksi khas Brasil. Dari 21 laga yang dipimpinnya, mereka cuma kalah sekali, meraup 17 kemenangan sembari mengukir catatan gol impresif: 47-5. Tak heran apabila Brasil menjadi tim pertama yang lolos ke Rusia 2018 dan otomatis menjadi favorit juara.

Brasil era Tite juga sudah menemukan formula jitu untuk tetap kompetitif di saat Neymar absen, sesuatu yang tidak dimiliki Brasil 2014. Seperti diketahui, saat menggelar Piala Dunia di rumah sendiri, Brasil tampak amat bergantung dengan Neymar. Kala Neymar dihantam cedera punggung, Brasil minus figur inspiratifnya itu pun langsung kolaps 7-1 di tangan Jerman.

Kini, penyerang berlabel €222 juta ini termotivasi untuk menebus tragedi kelam tersebut dengan tampil habis-habisan di Rusia. Syukur-syukur, gol-gol Neymar bisa mengantar Tim Samba pada gelar keenam, seperti halnya Pele, Romario, dan Ronaldo yang sudah lebih dulu menerjemahkan gol-golnya dengan trofi Piala Dunia. (Sandy Mariatna)


PEMAIN MUDA TERBAIK


KYLIAN MBAPPE. Menempatkan Mbappe sebagai favorit pemain muda terbaik Piala Dunia 2018 tentu bukan hal yang sulit, mengingat dengan kualitasnya ia juga bisa disebut sebagai calon pemain terbaik secara keseluruhan pada ajang paling prestisius dalam dunia olahraga tersebut.

"Dia bisa bermain di kanan atau kiri, tetapi dia adalah penyerang tengah. Dia Michel Platini kita, Zinedine Zidane kita," ujar Christophe Dugarry tentang sosok Mbappe.

Pernyataan bombastis mantan striker AC Milan dan Barcelona itu bisa saja dinilai berlebihan, tetapi itu adalah penggambaran yang paling tepat bagaimana potensi Mbappe di atas lapangan hijau.

Jika kebanyakan pemain muda masih dalam fase pengembangan diri, maka Mbappe sudah jauh lebih dari itu. Performanya sudah sangat istimewa dan hanya butuh polesan pengalaman untuk membuat sosok berusia 19 tahun itu menjelma menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa.

Kemampuannya sudah terbukti dalam dua musim terakhir, pada 2017 ia membantu Monaco menciptakan keajaiban dengan menyegel titel Ligue 1 Prancis yang sudah dikuasai Paris Saint-Germain selama empat tahun secara beruntun. Dengan total 26 gol sepanjang musim 2016/17 (top skor kedua klub setelah Radamel Falcao - 30 gol), ia juga membantu Les Monégasques menembus empat besar Liga Champions.

Krusialnya peran Mbappe dalam kedigdayaan Monaco memaksa PSG mengeluarkan dana raksasa untuk membajak sang bintang muda ke Parc des Princes, meski karena aturan FFP mereka harus mengakali transfer dengan memboyong Mbappe melalui status pinjaman terlebih dahulu.

Di ibukota, sinar Mbappe tidak meredup meski harus bersanding dengan bintang-bintang lain, terutama Neymar. Ia masih menjadi pemain yang penuh dengan kreativitas, berani, dan juga buas di depan gawang. Tak heran bila ia sukses menjaringkan total 21 gol pada musim debutnya - jumlah gol terbanyak ketiga klub setelah Edinson Cavani (38) dan Neymar (28) - untuk membantu tim meraih Treble Winners domestik.

Modal positif dalam dua musim terakhir akan membuat Mbappe dalam kondisi puncak saat memperkuat Les Bleus di Rusia. Terlebih lagi, ia diperkirakan akan menjadi poros kreativitas skuat besutan Didier Deschamps, mengingat Paul Pogba yang diharapkan kejeniusan visinya masih mengalami inkonsistensi performa. 

Sementara rekannya di lini depan tidak ada lagi sumber kreativitas hebat lain seperti dalam diri Neymar ataupun Angel Di Maria di PSG. Meski ada sosok Ousmane Dembele dan Thomas Lemar, namun Olivier Giroud dan Antoine Griezmann diprediksi bakal menghuni skuat utama dan mereka lebih bertipe sebagai finisher. Oleh karena itu, panggung Piala Dunia 2018 seolah sudah dipersiapkan Les Bleus untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dalam diri Mbappe. (Tegar Paramartha)


PEMAIN TERBAIK


LIONEL MESSI. “Sepakbola berhutang Piala Dunia kepada Messi,” begitu ungkapan Jorge Sampaoli setelah Messi mencetak hat-trick di laga versus Ekuador untuk meloloskan Argentina ke Rusia.

Laga terakhir penyisihan Piala Dunia zona Conmebol kala itu menjadi pertandingan krusial buat Albiceleste. Mereka butuh kemenangan untuk bisa ikut meramaikan turnamen akbar di Rusia, dan La Pulga keluar sebagai pahlawan dengan lesakkan tiga golnya.

Sejak kalah dari Jerman di final edisi 2014, tuntutan supaya Messi menyempurnakan statusnya sebagai pemain terbaik dunia dengan merebut Piala Dunia makin kencang. Dan, beban tersebut kian terasa setelah Messi kembali gagal membuktikan kelasnya bersama timnas setelah mereka dua kali kalah beruntun di final Copa America. 

Setelah tiga kali beruntun membawa Tim Tango mentas di final turnamen besar -- yang ujung-ujungnya berakhir dengan kegagalan -- Rusia 2018 menjadi momen terbaik – dan bisa jadi terakhir – buat Messi akhirnya merengkuh gelar mayor di level internasional.

Ada dua faktor utama yang bisa menjadi penentu, kenapa ini akan menjadi tahunnya Messi. Dari segi statistik dan non-statistik.

Bicara soal statistik, Argentina tak bisa berbuat banyak tanpa Messi di lapangan, setidaknya itulah yang terjadi sepanjang babak kualifikasi. Di delapan pertandingan kualifikasi tanpa La Pulga, Argentina cuma mengoleksi tujuh poin, sementara dalam sepuluh kali tampil, mereka mengakumulasi 21 poin, termasuk hat-trick bersejarah di laga terakhir.

Tak heran jika Argentina harus kembali berharap megabintang Barcelona ini kembali menyuguhkan performa ciamiknya selama turnamen di Rusia. 

Namun statistik di lapangan saja tidak cukup. Ada hal non-teknis yang ikut memengaruhi perjalanan seorang pemain di pentas internasional. Dalam hal ini, soal bagaimana musim berakhir sebelum Piala Dunia diyakini turut andil menggiring mood sang pemain, Messi.

Masih ingat bagaimana Barcelona menutup kampanye 2013/14? Saat itu mereka gigit jari di La Liga setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Atletico Madrid di laga terakhir, dan gelar pun jatuh ke tangan Los Rojiblancos. Kegagalan juga dialami Blaugrana di ajang Copa del Rey dan Liga Champions musim tersebut.

Messi disebut dalam kondisi kurang bergairah di Jerman lantaran musimnya bersama Barcelona tak berjalan mulus.  

Lain halnya dengan musim 2017/18. Barcelona begitu dominan di La Liga dan sukses mememastikan titel juara saat kompetisi menyisakan empat pertandingan dengan kemenangan 4-2 atas Deportivo La Coruna pada 29 April, ketika Messi menampilkan performa eksepsional via tiga golnya.

Sepekan sebelumnya, Messi dkk sudah lebih dulu mengamankan gelar Copa del Rey ke-30 dengan membekuk Sevilla lewat skor telak 5-0. Satu-satunya noda yang mencoreng kedigdayan Blaugrana adalah mereka kalah 5-4 dari Levante, yang menggagalkan misi invisibles tim Ernesto Valverde.

Messi akan genap berusia 31 pada 24 Juni saat turnamen, yang mungkin menjadi pentas internasional terakhirnya, masih berlangsung. 

Dan jika Messi berencana pensiun, ia tentu ingin melakukannya dengan cara terbaik, menjadi juara dunia yang sekaligus sebagai kado ulang tahun terindah sepanjang kariernya. (Dewi Agreniawati)


PEMAIN PILIHAN REDAKSI


  PEMAIN
TERBAIK
PEMAIN MUDA
TERBAIK
TOPSKOR
TURNAMEN
Agung Harsya  Andres Iniesta Marcus Rashford Neymar
Abi Yazid Lionel Messi Kylian Mbappe Thomas Muller
Moh Ridwan Widiyana Thomas Muller Kylian Mbappe Timo Werner
Tegar Paramartha Neymar Kylian Mbappe Robert Lewandowski
Dede Sugita Lionel Messi Julian Brandt Thomas Muller
Yudha Danujatmika Lionel Messi Kylian Mbappe Antoine Griezmann
Eric Noveanto Antoine Griezmann Kylian Mbappe Antoine Griezmann
Adhe Makayasa Eden Hazard Gabriel Jesus Romelu Lukaku
Sandy Mariatna Lionel Messi Timo Werner Neymar
Farabi Firdausy Neymar Kylian Mbappe Neymar
Reza Hikmatyar Luis Suarez Rodrigo Bentancur Edinson Cavani
Gunawan Widyantara Neymar Timo Werner Harry Kane
Dewi Agreniawati Lionel Messi Kylian Mbappe Antoine Griezmann
Pandu Persada Neymar Goncalo Guedes Harry Kane
Rais Adnan Lionel Messi Kylian Mbappe Lionel Messi
Dhonazan Syahputra Lionel Messi Sergej Milinkovic-Savic Neymar
Muhammad Ridwan Lionel Messi Timo Werner Lionel Messi
Donny Afroni Thomas Muller Timo Werner Neymar
Happy Susanto Lionel Messi Kylian Mbappe Lionel Messi
Bima Said Paul Pogba Marcus Rashford Neymar

 

 

Topics