PREVIEW Serie A Musim 2014/15: Juventus

Juventus berusaha mempertahankan gelar juara yang diraih dalam tiga tahun berturut-turut bersama Conte, namun kini dengan pelatih yang berbeda.

OLEH HAPPY SUSANTO Ikuti di twitter
Juventus masih diunggulkan untuk kembali meraih scudetto untuk yang keempat kalinya secara berturut-turut sejak musim 2011/12.

Musim lalu, Bianconeri sukses meraih hat-trick scudetto dengan mengumpulkan rekor 102 poin. Gelar itu menyempurkan kesuksesan raihan 30 trofi mereka di kompetisi terakbar di Italia.

Antonio Conte sukses mempersembahkan tiga gelar itu. Namun, pelatih yang kini mengarsiteki timnas Italia itu sudah tidak di Turin lagi. 15 Juli 2014, ia resmi mengundurkan diri setelah dikabarkan tidak memiliki satu pandangan dengan manajemen klub dalam transfer pemain.

Conte kemudian digantikan oleh mantan pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri. Ada pro-kontra menyertai penunjukan ini, terutama yang datangnya dari fans sendiri. Namun, sang kapten, Gianluigi Buffon, menegaskan kalau Allegri adalah bagian dari grup, yang perlu mendapat dukungan penuh dari semua pihak.

Juventus tidak banyak mendatangkan pemain baru pada bursa transfer musim panas ini. Di sektor belakang, ada Romulo yang dipinjamkan dari Verona selama satu musim dan Patrice Evra dari Manchester United dengan kontrak permanen berdurasi dua tahun. Di sektor tengah, Kingsley Coman ditransfer dari Paris Saint-Germain dan Luca Marrone dari Sassuolo dengan sama-sama kontrak berdurasi lima tahun. Sementara itu, Roberto Pereyra dipinjam dari Udinese selama satu tahun. Hanya ada satu pemain di sektor depan yang direkrut, yakni Alvaro Morata dengan status permanen dari Real Madrid dan kontrak lima tahun.

Ada empat Juventus yang hengkang, ditambah satu pemain yang pulang dari masa peminjaman di musim lalu. Federico Peluso dijual ke Sassuolo dengan nilai transfer €4,5 juta, Mirko Vucinic ke Al-Jazair (€6,3 juta), dan Fabio Quagliarella ke Torino (€3,5 juta). Mauricio Isla dipinjamkan ke Queens Park Ranges (€3,5 juta), sementara itu Dani Osvaldo pulang dari peminjaman.

Dengan skuat yang ada, Juventus menggelar sejumlah pertandingan persahabatan. Mereka menang 5-0 atas Singapore Selection, menang 3-2 atas A-League All-Stars, menang 8-1 atas ISL All-Stars, dan imbang 0-0 kontra Cesena. Dengan lawan-lawan yang kualitasnya masih di bawah Juventus, hasil-hasil tersebut memang belum bisa menjadi ukuran kesiapan mereka.

Juventus akan mengawali kompetisi Serie A dengan bertandang ke markas Chievo, Sabtu (30/8) malam WIB. Laga di pekan ketiga akan menjadi sebuah pertandingan yang spesial bagi Allegri karena ia akan menghadapi mantan klubnya, Rossoneri.

Di bawah mistar gawang, posisi Buffon sebagai kiper utama tak tergantikan. Meski sudah berusia 36 tahun, kemampuannya dalam menghentikan tembakan lawan masih teruji. Ia juga mampu mengorganisir pertahanan di depan dirinya dengan cukup baik.

Centre-back merupakan salah satu kekuatan Juventus di musim lalu. Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini memang bisa mengisi posisi ini dengan baik. Dengan adanya transformasi skema ke 3-5-2, maka ketiganya diharapkan mampu menjaga pertahanan tengah dengan baik, meski Chiellini dan Barzagli bisa bermain sedikit melebar.

Chiellini layak mendapat kepercayaan sebagai komando di sektor pertahanan karena ia merupakan perpaduan antara keuletan Claudio Gentile dan kesadaran serta teknik Pabio Cannavaro. Sementara Barzagli punya pengalaman dan taktik yang fantastis dan Bonucci kian meningkat permainannya dari musim ke musim sebagai bek tengah.

Dengan skema 3-5-2, maka Stephan Lichtsteiner memerankan posisi sebagai gelandang bertahan. Trio gelandang serang yang sangat kreatif tetap dipercayakan kepada Arturo Vidal, Andrea Pirlo, dan Paul Pogba. Sementara Kwadwo Asamoah bisa bermain sebagai winger kiri.

Duet penyerang tetap dipercayakan kepada Carlos Tevez dan Fernando Llorente. Pemain asal Argentina itu sebenarnya bisa saja bermain sebagai winger kanan, namun itu bukan posisi terbaiknya. Dengan bermain di depan, ia akan menerima bola dari rekannya dalam melakukan driblling dengan melewati pertahanan lawan. Sementara duetnya dikenal cukup memastikan ketika ada di kotak penalti lawan.

Memenangi scudetto bersama AC Milan pada musim 2010/11 dan meraih penghargaan Panchina d'Oro ketika menangani Cagliari, memang membuat Allegri layak masuk jajaran pelatih elite di Italia. Pelatih berusia 47 tahun itu bisa menjaga AC Milan tetap bersaing, meski kehilangan sejumlah pemain kuncinya. Namun, apakah ia mampu meneruskan kesuksesan Conte di Juventus? Kita tunggu saja kiprahnya di musim ini.

Allegri sudah melakukan eksperimen di laga-laga pramusim untuk menentukan formasi yang ingin digunakan pada kompetisi musim ini. Blueprint Conte, 3-5-2, yang bersifat agresif, memang bukan formasi yang lebih diinginkannya. 4-4-2, dengan gelandang jangkar, atau versi 4-3-3 juga pernah dilakukan tes.

Untuk memenuhi empat bek berjajar, Patrice Evra didatangkan dari Manchester United. Sang full-back memang sudah sangat berpengalaman dan ia bisa saja bermain di posisi winger kiri, menggantikan Asamoah. Besar kemungkinan Allegri justru akan menggunakan formasi 3-5-2 agar permainan tim lebih agresif.

Giorgio Chiellini

Bek berusia 30 tahun itu merupakan salah satu pemain yang berjasa mengantarkan Juventus meraih tiga scudetto berturut-turut karena ia sangat lugas dalam mengawal pertahanan tim dengan cukup. Tidak jarang ia ikut membantu ke depan ketika dalam situasi bola-bola mati karena ia punya sundulan yang cukup akurat.

Andrea Pirlo

Meski sudah tidak muda lagi, 35 tahun, sang playmaker masih sangat diandalkan di dalam skuat Juventus musim ini. Pemain yang mendapat julukan il Professore (sang profesor) dan Mozart itu dikenal memiliki tendangan bebas yang akurat. Ia juga memiliki umpan-umpan yang sangat matang sehingga memanjakan barisan striker di depan.

Carlos Tevez

Tidak diragukan lagi kalau pemain kelahiran Buenos Aires, Argentina, ini layak disebut sebagai pembuat perbedaan. Ia selalu ingin meraih sukses di Turin, dan itu dibuktikan dengan sumbangan 21 gol dari 48 penampilan untuk Juve di musim lalu.

Juventus tetap difavoritkan untuk kembali meraih scudetto untuk keempat kalinya secara berturut-turut, meski AS Roma dan Napoli berpeluang menjadi pesaing utama.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics