PROFIL: Dirk Kuyt Persembahkan Rekor Untuk Mendiang Ayah

Dirk Kuyt menjadi pemain Belanda ketujuh yang mengukir rekor 100 caps.

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter
Dirk Kuyt mengukir 100 penampilan bersama timnas Belanda secara mengesankan ketika menundukkan perlawanan Meksiko 2-1 pada babak 16 besar Piala Dunia 2014 di Estadio Castelao, Fortaleza, Minggu (29/6) lalu.

Bermain di bawah terik matahari, Belanda bermain buruk. Mereka harus mengejar gol penyama kedudukan setelah Giovani dos Santos menjebol gawang Jasper Cillessen tiga menit babak kedua berjalan. Belanda pelan-pelan bangkit dan menguasai pertandingan sehingga sukses membalikkan kedudukan di akhir laga.

Banyak yang mengalamatkan pujian kepada Arjen Robben, Klaas-Jan Huntelaar, atau Wesley Sneijder, tapi peran Kuyt tidak boleh ditepikan. Sebagai pemain tertua dalam skuat, pengalaman Kuyt sangat dibutuhkan tim. Belum lagi kemampuannya bermain di banyak posisi. Sepanjang 90 menit pertandingan melawan Meksiko, Kuyt bermain di tiga posisi yang berbeda-beda!

Kuyt dimainkan sebagai bek sayap kiri, tugas yang juga dijalaninya pada pertandingan terakhir Grup B melawan Cili, dalam tim inti Belanda. Ketika Belanda tertinggal, pelatih Louis van Gaal memasukkan Memphis Depay dan menarik keluar Paul Verhaegh. Kuyt diinstruksikan untuk menjadi bek kanan dalam formasi 4-3-3.

Setelah cooling break pada menit ke-75, Kuyt bahkan didorong menemani Huntelaar sebagai duet ujung tombak Belanda. Sebuah sundulan Kuyt nyaris menciptakan gol balasan Belanda sebelum Huntelaar dinilai sudah berada dalam posisi off-side. Kemunculan Kuyt di lini depan setidaknya berhasil memecah konsentrasi bek Meksiko sehingga pada sebuah kesempatan Huntelaar lolos dan memberikan umpan sundulan yang berhasil dimanfaatkan Sneijder menjadi gol.

Mungkin tidak ada yang mengelu-elukan namanya usai pertandingan, tapi tidak di mata legenda Oranje ini.

"Lihat Dirk Kuyt," tulis Johan Cruyff dalam kolomnya di De Telegraaf. "Dia memulai pertandingan sebagai bek kiri, kemudian bek kanan, dan ketika situasi membutuhkan, dia bermain di depan."

"Anda beruntung mendapat tim dengan seorang pemain yang mampu bermain di banyak posisi. Dengan Kuyt, Anda bisa menerapkan berbagai taktik di segala lini."

Kemenangan melawan Meksiko disambut haru pemain berusia 33 tahun itu. Di kamar ganti, kapten Robin van Persie memberi ucapan yang emosional kepadanya dan sang pemain sendiri juga memberikan pidato yang menyentuh.

"Hari ini tepat hari wafatnya mendiang ayah saya. Tujuh tahun berlalu dan saya menjadi pemain ketujuh dalam sejarah timnas Belanda yang mampu meraih 100 penampilan," imbuh Kuyt.

Figur ayah sangat berarti bagi perkembangan karier Kuyt. Anak nelayan asal Katwijk itu tidak diberkati keterampilan teknik selayaknya Robben atau Van Persie. Tidak pula dianugerahi kejelian mencetak gol tingkat tinggi seperti Ruud van Nistelrooy atau Klaas-Jan Huntelaar. Namun, determinasi Kuyt sangat jarang dimiliki pemain Belanda lain.

Seperti yang sering dipuji banyak penggemar liga Inggris, Kuyt seperti kelinci Duracell yang tak kunjung berhenti bergerak. Melawan Meksiko, Kuyt melakukan 87 sentuhan hampir di semua jengkal lapangan dan merambah jarak hampir 11 kilometer. Semua dilakukan di bawah suhu 38 derajat Celcius mentari Fortaleza!

"Kami memberikan hadiah istimewa bagi Dirk untuk pertandingan internasional ke-100-nya. Saya memberinya sambutan kecil. Saya bilang saya bangga padanya dan dia menjadi contoh bagi pemain senior maupun pemain muda," tukas Van Persie.

"Hanya ada tujuh pemain yang mampu mencapai jumlah pertandingan internasional sebanyak itu di Oranje. Dia sudah lama terhambat di angka 98. Luar biasa, kalau ada orang yang pantas memperolehnya, dia orangnya."

Sewaktu berusia 12 tahun, Kuyt harus memilih antara menjadi nelayan, seperti mendiang ayahnya, atau sepakbola. Setelah beberapa tahun menekuni sepakbola, pelan-pelan Kuyt beralih jenjang dari amatir ke profesional. Mulai dari Quick Boys, klub lokal dekat kota asalnya, hingga akhirnya direkrut FC Utrecht.

Setelah mencetak rekor 67 gol dalam 184 pertandingan, Kuyt diboyong Feyenoord Rotterdam yang saat itu dilatih Bert van Marwijk. Karier Kuyt terus bersinar hingga akhirnya Liverpool memakai jasanya antara 2006 hingga 2012. Final Liga Champions 2006/07 sangat berarti bagi Kuyt karena laga itu menjadi penampilan terakhirnya yang disaksikan mendiang ayah sebelum wafat.

Sang mendiang ayah sedang berjuang menghadapi kanker. Kondisi kesehatan memaksanya batal menonton langsung di Athena sehingga hanya bisa menyaksikan siaran televisi di Liverpool. Sekembalinya ke rumah, Kuyt langsung mengalungkan medali runner-up ke leher ayahnya.

Sebulan setelah final di Athena itu, Gerrit Kuyt tutup usia.

"Medali itu dibawa pulang ke Katwijk oleh ayah saya dan saya dengar dari ibu, ayah bilang merasa sangat bangga," kata Kuyt dalam upacara pemakaman.

Begitu wasit Pedro Proenca asal Portugal meniup peluit penghabisan pertandingan Belanda versus Meksiko, Kuyt langsung bertumpu pada kedua lutut dan mengangkat kedua tangannya. Jauh dari sorotan kameran dan selebrasi tim Belanda, barangkali Kuyt hanya ingin merayakan momen indah tersebut bersama sang ayah di surga.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics