PROFIL: Ivan Rakitic, Pangeran Andalusia Asal Kroasia

Usianya baru 26 tahun, tapi pemain asal Kroasia ini sudah jadi pemimpin sekaligus pujaan publik klub kebanggan Andalusia, Sevilla!

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Sevilla akhirnya keluar sebagai kampiun Liga Europa 2013/14, setelah sukses menaklukkan Benfica lewat drama adu penalti, Kamis (15/5) dini hari WIB.

Partai puncak yang digelar di Juventus Stadium itu sejatinya berjalan di luar ekspektasi. Kedua tim yang dikenal tampil atraktif malah menunjukkan performa antitesis. Skor imbang 0-0 tak berubah selama 120 menit, hingga Sevilla kemudian juara lewat skor 4-2 melalui babak adu penalti.

Fakta yang cukup mengejutkan, karena sejatinya komposisi pemain Sevillistas Rojiblancos jelas kalah mentereng dibanding peserta lainnya, macam Fiorentina, Tottenham Hotspur, Juventus, bahkan lawannya di final Benfica!

Kesatuan, kekompakan, serta semangat juang hingga tetes darah penghabisan, jadi kunci keberhasilan pasukan Unai Emery. Pernyataan di atas boleh saja Anda koreksi, tapi coba cermati fakta yang kami paparkan kemudian.

Sevilla sejatinya bukan "anggota resmi" LE musim ini. Mereka hanya mampu finish di posisi kesembilan La Liga Spanyol 2012/13. Tiket ke Eropa berhasil diraih akibat sanksi yang deterima Malaga dan Rayo Vallecano akibat masalah finansial. Secara heroik Los Palangans kemudian melalui 19 partai sejak babak play-off, untuk jadi juara!

Jangan lupakan pula comeback melawan Real Betis, serta gol detik terakhir Stephane M'Bia menghadapi Valencia dalam prosesnya! Sebagai seorang netral, kita jelas dibuat terkagum-kagum dengan torehan tersebut.

Selain faktor kepemimpinan pelatih sebagai peracik skema sekaligus pembangun mental pemain di pinggir lapangan, sosok pemimpin di atas lapangan juga jadi bagian krusial. Peran itulah yang diemban dengan sangat brilian oleh sang kapten, Ivan Rakitic.

Selain UEFA yang memilihnya menjadi Man of The Match di partai final, Goal juga menasbihkannya sebagai pemain terbaik turnamen. Tidak melulu konservatif, dengan hanya menilai sebiji gol atu sepasang assist catatannya. Lebih dari itu, sebagai seorang Kroasia, kebesaran cinta Rakitic hingga mau berkorban untuk klub terbesar Andalusia jadi teladan utama rekan-rekannya.

Goal Indonesia kemudian menarik ke belakang kiprah Ivan Rakitic sejak awal karier hingga kini sukses mencium manisnya trofi Liga Europa, dengan ban kapten Sevilla yang melingkar di lengan kirinya. Simak!

Rakitic membela Timnas Kroasia sejak berusia 19 tahun

Lahir pada 10 Maret 1988, Ivan Rakitic merupakan seorang Kroasia yang tumbuh dan besar di kota kecil Mohlin, Swiss. Keluarganya merupakan imigran asal Sikirevci, Kroasia, yang pindah dan menetap di Swiss akibat perang.

Ayah dan kakaknya sendiri adalah mantan pesepakbola profesional. Fakta itulah yang jadi dorongan kuat Rakitic melanjutkan profesi yang sudah jadi tradisi keluarganya. Klub lokal di Mohlin jadi pilihan untuk mulai meretas petualangan hebatnya.

Di usia 16 tahun Rakitic sukses memikat hati pemandu bakat klub terbesar Swiss, FC Basel. Jadilah ia masuk ke akademi klub cikal bakal Barcelona itu hingga menandatangani kontrak profesional pada 1 Juli 2005, di usia 17 tahun! Potensinya sebagai pemain besar terasah dengan sempurna. Cukup dua musim di Rot Blau, klub mapan Jerman, Schalke 04, memboyongnya dengan mahar €5 juta.

Dua bulan setelah kepindahannya ke Bundesliga Jerman pada 22 Juni 2007, pemain berambut pirang itu kemudian membuat sebuah keputusan penting untuk kelangsungan kariernya. Rakitic memutuskan untuk membela Timnas Kroasia di level internasional, alih-alih melanjutkan kiprah bersama Timnas Swiss. Suatu pergolakan hati yang mendalam, karena ia lahir dan besar di Swiss dan membela Timnasnya di berbagai kategori umur.

Keputusan karier yang dirasa tepat. Meski baru akan merasakan megahnya ajang Piala Dunia di Brasil esok, ia sudah jadi pilar Kroasia sejak berusia 19 tahun dan selalu turut serta dalam Euro 2008 dan 2012. Tempatnya di sebelas awal tim juga sulit tergeser, karena faktanya Rakitic sudah mengoleksi 60 caps dengan torehan sembilan gol.

Nama Ivan Rakitic mulai mencuat sejak gemilang bersama Schalke 04

Berkiprah di Veltnis Arena, nama Rakitic makin mencuat di Eropa. Tampil rata-rata 35 kali di setiap musimnya, ia jadi pilar kesuksesan Die Königsblauen menyodok papan atas Bundeliga Jerman. Gelar DFB-Pokal di musim terakhirnya pada 2010/11 jadi ganjaran paling spesial.

Sayangnya di musim terakhir itulah, berbagai masalah datang silih berganti bagi pemuda yang kala itu masih berusia 22 tahun. Ia mulai tidak kerasan dengan kebiasaan Schalke mengganti pelatih, kelas tim yang dirasa kurang mentereng di Eropa, hingga memuncak pada cedera panjang yang membuatnya tersisih dari starting XI.

Tampil hanya di 16 partai pada musim 2010/11, kontraknya yang tinggal menyisakan satu musim tak diperpanjang. Santer diberitakan bakal hijrah ke Atletico Madrid atau Juventus, secara mengejutkan Sevilla yang malah mengangkutnya hanya dengan harga €2,5 juta!

Memasuki musim keempatnya bersama Sevilla, Rakitic dipercaya jadi kapten

Melakoni musim perdana di Sevilla, masa yang sulit dialami Rakitic. Ia tidak klop dengan pelatih Los Nervionenses kala itu, Marcelino Garcia. Bermain di posisi aslinya sebagai winger dalam skema 4-4-2, keberadaan Frederic Kanoute dan Alvaro Negredo di lini depan secara mengejutkan malah menyulitkannya.

Hal itu terjadi karena Marcelino menarik Kanoute lebih ke belakang untuk melayani Negredo. Alih-alih memudahkan kinerja Rakitic, keduanya malah sering bertabrakan posisi. Imbasnya nama yang disebut terakhir jadi sering duduk di bangku cadangan. Dari 29 partai di musim perdananya, ia turun 17 kali dari bench. Hal itu terus berlanjut di musim kedua, hingga akhirnya Kanoute memutuskan hijrah ke Cina.

Rakitic kemudian dipilih masuk untuk mengisi pos kosong peninggalan striker asal Mali tersebut. Hasilnya sempurna, ia jadi pelayan sempurna bagi Negredo di musim lalu melalui gelontoran sepuluh assist-nya. Peningkatan performa dibarengi dengan peningkatan rasa cintanya pada tanah Andalusia.

Perasaan yang makin menjadi tatkala dirinya bertemu wanita cantik khas Andalusia, Raquel Mauri, yang berakhir jadi istrinya. Dikaruniai seorang putri dari hasil pernikahannya, sikap Rakitic jadi berubah 180 derajat. Ia tak lagi urakan dan tampil lebih dewasa.

Eakitic lantas merepresentasikannya dengan jelas di atas lapangan setiap kali berlaga. Tak pelak, di awal musim 2013/14, Unai Emery sang pelatih menunjuk sang Kroasia jadi kapten kesebelasan.

Bicara statistik musim ini, Rakitic boleh dibilang tengah berada di puncak karier. Tampil di 33 laga La Liga Spanyol dari total 37 jornada, ia sukses menorehkan jumlah gol dan assist yang identik. Ya, 12 gol dan sepuluh assist dalam semusim di liga domestik, jadi catatan terbaik sepanjang kariernya.

Berkat hal itu Sevilla kini mapan di peringkat lima klasemen, meski belum aman betul. Rakitic juga memiliki peran besar terhadap mencuatnya nama Carlos Bacca di bursa transfer. Perpaduan keduanya mengingatkan kita akan pendahulunya di Ramon Sanchez Pijzuan, yakni Enzo Maresca dan Luis Fabiano.

Kegemilangan Rakitic makin kentara jika kita mengalihkan pandangan pada turnamen Liga Europa, di mana Sevilla keluar sebagai juara. Hanya sebiji gol dan sepasang assist yang ia torehkan memang, tapi dialah pemain teratas pembuka jalan bagi 43 gol yang ditorehkan Sevilla sepanjang turnamen.

Dari 802 operan yang ia lepaskan di LE musim ini, 31 diantaranya jadi kunci gelontoran gol The Washbowl. Satu yang hilang darinya di partai final dini hari tadi. Namun Rakitic tetaplah brilian lewat beberapa aksinya, karena tak mungkin UEFA sekonyong-konyong memilih Man of The Match untuk partai final.

Karena performa impresifnya di sepanjang musim, tawaran untuk segera hijrah ke klub yang lebih besar lantas jadi ujian sejati kecintaan Rakitic pada Sevilla. Berulang kali ia mengatasnamakan istri dan anaknya untuk bertahan, tapi di masa kini hal itu tak lagi jadi jaminan.

Real Madrid hadir sebagai godaan terbesar. Meski laman transfermakt.com melansir harga Rakitic berkisar di angka €20 juta, Sevilla memasang banderol tinggi dalam kontraknya senilai €40 juta.

Sejatinya bukan hal yang sulit bagi Los Blancos untuk menebus syarat tersebut, melalui kekuatan uangnya. Kini tinggal Rakitic yang memutuskan, apakah dirinya akan pergi dengan mengesampingkan perasaan cinta dan loyalitas? Atau tetap bertahan untuk jadi si asing dari Kroasia yang jadi pangeran Andalusia...

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics