PROFIL: Jafri Sastra Kini Bukan Pelatih Boneka

Jafri Sastra sudah tidak menyandang status pelatih boneka pada kompetisi sepakbola nasional musim ini.

CATATAN RIZAL MARAJO DARI PADANG
Kepuasan terpancar dari raut wajah penggawa Semen Padang setelah mereka sukses mematahkan rekor sempurna Arema Cronus di Stadion Kanjuruhan dengan kemenangan 2-1, sekaligus membalas kekalahan di putaran pertama.

Kemenangan itu pantas disambut dengan suka cita oleh kubu Semen Padang, karena mereka kini berada di peringkat tiga klasemen sementara Indonesia Super League (ISL) 2014 wilayah barat. Setidaknya, hasil tersebut melengkapi torehan bagus Kabau Sirah di putaran pertama lalu dengan menempati pisisi keempat.

Semen Padang tercatat menjadi satu-satunya alumni Indonesian Premier League (IPL), yang mampu berbicara di kompetisi ISL 2014. Hasil yang lumayan bagus, untuk sebuah tim yang banyak diragukan akan mampu bersaing di pentas ISL.

Bagi Semen Padang, hasil sementara ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah tim yang tergolong minim bintang. Sebab Semeng Padang bukanlah tim mewah dengan sederet pemain-pemain mahal, dan bintang yang sudah karatan di ISL.

Justru musim ini Semen Padang banyak ditinggal bintang-bintang musim lalu, seperti Edward Wilson Junior, Titus Bonai, Vendry Mofu, dan kapten Ellie Aiboy. Tapi hengkangnya para pemain kunci itu, tak begitu berpengaruh pada kekuatan Semen Padang. Apa kuncinya?

Jafri Sastra. Tentulah sosok yang pantas dikedepankan di balik capaian positif Semen Padang sejauh ini. Sosok pelatih bersahaja, dan belum banyak dikenal publik sepakbola Indonesia, walau sudah memegang lisensi A AFC sejak 2010.

Soal popularitas, jelas dia tak setenar Jaya Hartono, Benny Dolo, Suharno, ataupun Djajang Nurjaman. Apalagi di banding Jacksen F Tiago, maupun Rahmad Darmawan yang super populer.

Sebelum masuk ke Semen Padang, pria kelahiran 23 Mei 1965 ini hanyalah pelatih yang beredar di tim-tim lokal Sumbar di level Divisi I atau II. Sebelumnya lagi, dia terkenal sebagai pelatih yang banyak menghabiskan waktunya membina pesepakbola usia dini di SSB.

Satu-satunya pengalaman merantau keluar Sumbar hanya saat melatih Persipro Probolinggo 2012, itupun hanya klub Divisi Utama IPL saat itu. Tentunya dengan reputasi bersahaja ini, wajar Jafri sangat tidak populis di jagat sepakbola Indonesia.

Namun begitu, kemampuannya ternyata tak sekecil popularitasnya. Sosok pekerja keras, rendah hati, selalu belajar itu, tercatat sebagai satu dari tujuh pelatih bersertifikat A AFC yang dimiliki Sumbar, selain Nilmaizar, John Arwandi, Syafrianto Rusli, Jenniwardin, Emral Abus, dan Indra Sjafri.

Walau begitu, diantara tujuh pelatih itu mungkin Jafri yang paling lengkap pengalamannya. Dan alurnya begitu teratur, karena dia pernah melatih SSB, tim Divisi II, Divisi I, Divisi Utama, sekarang tim Liga Super. "Mungkin setelah ini saya jadi pelatih tim nasional," ujarnya berseloroh suatu ketika.

Musim ini, adalah musim keduanya di Semen Padang. Musim lalu, sebenarnya dia sudah tercatat sebagai pelatih kepala Semen Padang. Tapi itu hanya sebagai simbol belaka, karena sesungguhnya yang berperan sebagai leader team adalah penasehat teknis Suhatman Imam yang tak punya Lisensi A.

Jafri cuma sekadar pelatih boneka saja, karena manajemen hanya butuh lisensi A AFC-nya untuk memenuhi persyaratan berlaga di ajang Piala AFC. Jadilah dia pelatih kepala yang bertugas sebagai asisten.

Tapi di musim kedua ini, Jafri diberi kepercayaan penuh, dan tak bisa lagi diintervensi Suhatman. Jafri tak menyia-nyiakan kepercayaan itu. dia membuktikan sebagai pelatih yang berbakat, dan punya kemampuan.

Soal bakat dan kemampuan melatih, jauh sebelumnya Jafri sudah boleh bangga, karena saat mengambil lisensi A AFC, dia langsung lulus di kesempatan pertama. Hal yang Indra Sjafri sekalipun tak bisa melakukannya.

Kini Jafri mulai memetik hasil kerja kerasnya dan buah keseriusannya. Dia mampu menyulap skuat semenjana Semen Padang menjadi tim yang semakin layak diperhitungkan di ISL ini. Kemampuannya meracik skuat mediocre menjadi sebuah tim solid, adalah nilai plus untuk Jafri.

Sebab, sehebat apapun David Pagbe, Yu Hyun ko, mengingat di mata banyak orang mereka bukanlah pemain asing kelas satu layaknya Fabiano Beltrame, Djibril Coulibaly, Beto Goncalves, ataupun Pierre Bio Paulin dan lain-lainnya, Semen Padang tidak akan seperti sekarang.

Begitupun skuad lokal, Hengki Ardiles, Novan Setya, Jandia Eka Putra, Hendra Bayauw, ataupun Jajang Paliama, bukanlah nama-nama selebritis lapangan hijau Indonesia layaknya Boaz Solossa, Kurnia Meiga, Ahmad Bustomi, Firman Utina, M. Roby dan sebagainya.

Tapi di tangan Jafri, mereka bisa dibentuk menjadi sebuah tim yang solid dan menjanjikan. Mereka mampu menjawab tantangan kerasnya ISL, ketika satu persatu eks IPL seperti Persijap Jepara, Persiba Bantul, dan PSM Makassar tak berdaya di pentas ISL.

Selain kemampuan meracik strategi, kunci keberhasilan Jafri adalah pendekatan personal ke pemain. Merangkul, mengambil hati para pemain, dan diperlakukan sebagai anak atau sahabat, adalah jurus Jafri yang cukup berhasil sejauh ini, tanpa mengabaikan ketegasan, dan profesionalitas di lapangan.

Soal ketegasan, Jafri juga tak main-main. Hardikan menggelegar di bibir bench saat memberi instruksi, dan menegur pemain yang membuat kesalahan adalah hal yang lazim dilihat.

Di saat-saat seperti briefing, latihan, atau bertanding, tak ada ruang untuk tak serius, apalagi main-main. Jika Sir Alex Fergusson pernah 'meng-hair dryer' David Beckham di ruang ganti, Jafri pun pernah 'memberi spidol' di kepala David Pagbe di ruang briefing, karena ketahuan bercanda dengan Yu Hyun-ko.

Memang, kompetisi baru separoh jalan, tapi tak bisa dipungkiri, hasil lumayan menjanjikan yang diraih Semen Padang saat ini, tak terlepas dari kinerja seorang Jafri Sastra. Separuh musim yang mungkin akan membuat orang mulai penasaran dan makin sering meliriknya, serta berburu curricullum vitae-nya. (gk-33)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.