PROFIL: Mark Schwarzer, Veteran Yang Bersinar Terang

Kedatangan Mark Schwarzer tiba-tiba menjadi krusial saat Chelsea harus menghadapi Liverpool dan Atletico Madrid berturut-turut tanpa seorang Petr Cech.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter
Chelsea telah menghabiskan lebih dari €83 juta untuk Andre Schurrle, Willian, dan Nemanja Matic sejak Jose Mourinho kembali bergabung, disertai dengan kedatangan Samuel Eto'o dan Mohamed Salah yang digaji cukup tinggi.

Namun, satu pembelian di pekan terakhir, jadi sorotan sekaligus kunci yang membawa The Blues bertahan dalam perburuan gelar Liga Primer dan juga Liga Champions. Pembelian yang dimaksud ialah pembelian seorang kiper veteran bernama Mark Schwarzer.

Meninggalkan Fulham di akhir musim lalu, Schwarzer masih diharapkan jadi kiper utama di Australia. Maka, Liga Primer dan Championship diprediksi sebagai pemberhentian selanjutnya, sementara A League juga jadi pertimbangan.

Saat eks pemain Middlesbrough itu muncul di Stamford Bridge, banyak yang girang sekaligus ragu. Para fans tentu senang saat seorang pemain Australia bergabung dengan klub besar, terutama setelah ia ditolak Arsenal pada 2010. Namun mereka juga ragu, seberapa sering ia akan bermain?

Benar saja, hingga akhir pekan lalu, Schwarzer hanya mendapat sedikit kesempatan bermain di semua kompetisi. Hal seperti ini tentu akan memengaruhi karirnya di timnas Australia, bahkan bisa saja menggesernya dari skuat utama Australia.

Schwarzer akhirnya melakoni debut Liga Primernya bagi Chelsea saat mereka kalah secara mengejutkan dari Sunderland. Di samping hasil buruk, ini merupakan sisi positif bagi pria 41 tahun

tersebut karena ia bisa mengimbangi tekanan di kancah sepakbola tertinggi Inggris.

Tiga hari setelahnya, ia kembali bermain untuk menggantikan Petr Cech yang cedera di semi-final melawan Atletico Madrid, cukup memuaskan, karena ia bisa lolos dari Vicente Calderon dengan skor 0-0.

Minggu kemarin (27/4), ia jelas menunjukkan kemampuannya sebagai kiper pelapis yang hebat, tampil gemilang dan tangguh -disertai dengan beberapa penyelamatan kelas atas - untuk membuat Liverpool kalah 2-0 di Anfield, membuat persaingan gelar semakin seru.

Matic, Schurrle, Willian, dan Salah juga ikut serta dalam permainan negatif nan efektif, tapi mereka takkan bisa melakukanyna tanpa keberadaan Schwarzer di bawah mistar. Mungkinkah Hilario, salah satu peninggalan Mourinho yang unik, bisa bermain efektif dengan sedikit kesempatan bermain? Tentu banyak yang meragukannya.

Suporter Liverpool boleh saja mengutuk Mourinho setelah sang manajer menerapkan sepakbola negatif, serangan balik efektif, untuk menggilas asa perburuan gelar mereka.

Namun mereka tak boleh sekadar menyelahkan taktik boros waktu atau strategi mematikan alur permainan lawan. Akar dari kekalahan The Reds bisa diturut jauh hari sebelumnya, yakni saat Chelsea mendatangkan seorang kiper veteran hanya dengan durasi kontrak satu tahun.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.