PROFIL: Park Ji-Sung, Pahlawan Korea Selatan Berjiwa Sosial

Sosok Park mampu mengangkat derajat sepakbola Asia di mata dunia berkat berbagai prestasi yang diraih.

OLEH ADHE MAKAYASA Ikuti di twitter
Masyarakat Korea Selatan dan Asia pada umumnya tentu masih ingat dengan kiprah seorang Park Ji-sung. Saat masih aktif sebagai pesepakbola, ia bahkan mendapat julukan "Three Lungs Park" mengingat gaya bermainnya yang tak kenal lelah.

Seperti diketahui, Park adalah orang Korea yang sukses menembus kompetisi Eropa dan menaklukkan dunia – di mana semua kisahnya berawal dari pencapaiannya di tahun 2002. Kala itu, Park yang baru berusia 21 tahun dipercaya membela negeri Taeguk Warriors untuk tampil di ajang Piala Dunia yang memang digelar di negaranya.

Menghuni skuat Korea arahan Guus Hiddink, Park yang bermain di lini tengah mampu menunjukkan determinasi tinggi untuk meredam pergerakan gelandang milik Polandia, Amerika Serikat, dan Portugal di babak grup sebelum kemudian merajai Grup D dengan koleksi poin terbanyak.

Kiprahnya terus berlanjut di babak 16 besar dengan mengalahkan Italia lewat perpanjangan waktu. Dan setelah melewati hadangan Azzurri, Park kembali berperan dalam kelolosan negaranya ke fase empat besar setelah turut menyumbang gol di drama adu tendangan penalti melawan Spanyol, yang kini berstatus sebagai juara dunia.

Dipertemukan dengan Jerman di babak semi-final, Park yang menjadi tulang punggung di lini tengah bersama Yoo Sang-Chul mampu memberi perlawanan sengit. Hal itu bisa dibuktikan sebagaimana tim Panzer yang baru sukses mengemas gol berkat lesakan Michael Ballack 15 menit sebelum laga berakhir.

Meski harus mengubur impiannya untuk melaju lebih jauh, namun penampilan apiknya tetap membekas dan menjadi salah satu kenangan paling fenomenal yang pernah ditunjukkan oleh bangsa Asia. Pada akhir Piala Dunia 2002 itu, Korea Selatan menjadi juara keempat karena takluk dari Turki di perebutan tempat ketiga.

Setelah kisah manis tersebut, pria kelahiran Goheung ini lantas memulai kiprahnya di Eropa. Dalam hal ini, klub pertama yang dibela Park di Benua Biru adalah PSV Eindhoven, yang bermain di Eredivisie Belanda.

Kala itu, kedatangan Park diprakarsai oleh mantan pelatih Korea yang kemudian menukangi Rood-witten, Hiddink, yang menebus sang pemain dari Kyoto Purple Sanga pada musim dingin 2003. Kedatangan Park ke Philips Stadion juga bersamaan dengan rekan setimnya di tim nasional, Lee Young-Pyo, yang diboyong sang meneer dari Anyang LG Cheetahs.

Meski di musim perdananya jarang mendapatkan kesempatan bermain lantaran kerap diganggu cedera, namun secara perlahan ia mulai mampu mengisi peran sentral di klub Belanda tersebut. Dan di musim 2003/04, yang mana menjadi musim penuh pertamanya, Park tampil sebanyak 40 kali dengan mengemas enam gol di semua ajang.

Setelah mengecap tempat reguler, Park kemudian berjasa dalam membawa PSV tampil sebagai yang terbaik di Belanda, di mana mereka memenangkan gelar Eredivisie dan KNVB Beker pada musim 2004/05. Tak cuma sampai di situ, pengaruhnya di Eindhoven juga diganjar dengan terpilihnya ia ke dalam Eredivisie Best XI dan KNVB Cup MVP di akhir musim. Di pentas Eropa, Park tampil prima untuk membawa PSV menembus semi-final sebelum dihentikan dengan susah payah oleh AC Milan.

Berkat penampilannya yang bagus di negeri Kincir Angin, manajer Manchester United Sir Alex Ferguson pun tergoda untuk memboyongnya ke Old Trafford. Pada Juli 2005, yang bersangkutan resmi menjadi pemain Asia kedua yang pernah berseragam Setan Merah menyusul nama Dong Fangzhuo asal Cina.

Di United, Park mendapatkan berbagai kesuksesan baik di level individu dan klub. Tercatat, ia menyumbang empat gelar Liga Primer, tiga gelar Piala Liga, empat gelar FA Community Shield, satu torehan Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub serta penghargaan FIFA.com Best Asian Player in Europe pada 2007.

Tak berhenti sampai di situ, ia juga membuat Asia bangga lantaran menjadi pesepakbola pertama asal Benua Kuning yang pernah memenangi Liga Champions, pemain pertama Asia yang pernah tampil di partai final Liga Champions serta pemain pertama Asia yang memenangkan Piala Dunia Antarklub.

Di sela-sela kesibukannya bersama United, Park juga tidak lupa untuk membela negaranya. Park absen membela Korea Selatan pada Piala Asia 2007 akibat cedera. Saat itu turnamen digelar di empat negara Asia Tenggara dan grup yang dihuni Korea Selatan dimainkan di Indonesia. Di Piala Dunia Afrika Selatan empat tahun silam, Park menjadi kapten Taeguk Warriors dan membawa tim melangkah ke babak 16 besar sebelum dihentikan Uruguay.

Setelah gagal membawa negaranya keluar sebagai yang terbaik di Piala Asia Qatar 2011, Park memutuskan untuk mundur dari pentas internasional pada 31 Januari 2011. Keputusannya itu dilanjutkan dengan tekadnya untuk mendirikan sebuah yayasan yang ditujukan untuk mempromosikan sepakbola di kawasan Asia dengan mendirikan JS Foundation pada bulan Februari di tahun yang sama.

Pada akhirnya, berbagai kesuksesan yang ia raih di United harus berakhir pada musim panas 2012 sebelum kemudian merapat ke Queens Park Rangers dengan durasi kontrak dua tahun.

Di QPR, Park dipercaya sebagai kapten tim oleh pelatih Mark Hughes. Namun, awal kariernya di Loftus Road berakhir tragis lantaran gagal menempatkan timnya di urutan terbaik. Alih-alih tampil baik, Park yang kerap berurusan dengan cedera bahkan harus ikut terdegradasi bersama klubnya di akhir musim 2012/13.

Dengan QPR yang tidak lagi berada di kasta tertinggi, Park pun memutuskan untuk kembali ke PSV secara pinjaman pada musim 2013/14. Kepindahannya itu terlaksana pada 8 Agustus 2013, namun izin kerjanya yang terlambat membuatnya absen di laga pertama untuk klub.

Di penghujung musim, tepatnya tanggal 14 Mei 2014, Park memilih mundur dari dunia sepakbola dan pensiun sepenuhnya. Akan tetapi, ia masih ingin menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sosial yang ia prakarsai, salah satunya adalah laga Asian Dream Cup 2014.

Setelah sukses dengan penyelenggaraan Asian Dream Cup di Vitenam pada 2011, Thailand 2012 dan Cina 2013, kini giliran Indonesia yang mendapatkan kesempatan serupa.

Tepat pada 2 Juni nanti, Stadion Utama Gelora Bung Karno akan menggelar laga Asian Dream Cup 2014 yang bakal dihadiri para pemain kelas dunia. Seperti diberitakan sebelumnya, laga itu nantinya bakal mempertemukan tim Park Ji Sung & Friends melawan Indonesian All Stars di stadion kebanggaan masyarakat Indonesia.

Selain para pesepakbola dunia, tim Park Ji Sung & Friends juga akan diperkuat artis-artis asal Korea Selatan, seperti para pemeran serial televisi Running Man, dan Choi Minho Shinee.

Asian Dream Cup adalah sebuah pertandingan sepakbola yang bertujuan untuk menggalang dana amal. Nantinya, dana yang terkumpul akan diberikan kepada JS Foundation yang didirikan oleh Park Ji Sung, yang selanjutnya akan disalurkan kepada yang membutuhkan di Indonesia.

JS Foundation sendiri didirikan oleh mantan penggawa Manchester United itu pada Februari 2011. Lewat yayasan ini, Park Ji Sung juga ingin mempromosikan sepakbola di Asia Tenggara serta melakukan pembinaan sepakbola untuk anak muda.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics