PROFIL Wasit: Cuneyt Cakir, Sosok Tak Bersahabat Di Mata Robin Van Persie

Cuneyt Cakir diamanahi untuk memimpin laga Belanda versus Argentina. Robin van Persie punya kesan tak menyenangkan dengan sosok wasit satu ini.

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Robin van Persie akan kembali bertemu dengan pria yang pernah disebutnya sebagai wasit yang asing bagi dirinya ketika Belanda bentrok dengan Argentina di Sao Paulo pada laga semi-final kedua Piala Dunia 2014, Kamis [10/6] dinihari WIB.

Adalah Cuneyt Cakir, pengadil lapangan asal Turki yang pernah dikritik habis oleh sang striker lantaran melihat ada kejanggalaan dalam keputusan yang dibuatnya kala Manchester United menghadapi Real Madrid di Liga Champions edisi 2012/13.

Kecaman dari van Persie ini terlontar setelah rekan setimnya, Nani, diganjar kartu merah dan buntutnya The Red Devils tumbang dari El Real 2-1. Selepas laga, van Persie berkicau: "Saya tidak mengerti pria itu akan menjadi wasit pada pertandingan ini. Seorang wasit itu tidak dikenal dan belum pernah bertugas pada pertandingan besar selama berbulan-bulan."

Dan malam nanti, menjadi kesempatan van Persie untuk semakin mengenal siapa Cakir itu. Yang menarik dinanti, apakah sang wasit akan meninggalkan kesan tidak menyenangkan kembali atau sebaliknya dalam diri eks kapten Arsenal tersebut.

Selasa kemarin, FIFA secara resmi melalui laman resmi mereka mengumumkan laga ke-62 Piala Dunia 2014 ini yang mementaskan Belanda kontra Argentina akan dipimpin oleh Cakir.

Walau timnasnya tak ikut serta, publik Turki pantas berbangga karena kehadiran Cakir di Piala Dunia 2014 menempatkannya sebagai orang kedua dari Negeri Kebab yang terpilih memimpin jalannya laga semegah Piala Dunia setelah Dogan Babacan pernah melakukannya pada edisi 1974 di Jerman.

Namun bagi van Persie, Cakir tetaplah Cakir, yang dalam ingatannya merupakan figur yang tak bersahabat.

Cakir, yang lahir di Istanbul 37 tahun yang lalu, sudah memimpin lebih dari 170 laga termasuk 12 laga derby [lima kali bentrokan antara Fenerbahce dan Galatasaray) di Super Lig.

Debutnya di panggung UEFA terjadi pada Juli 2003 silam, di mana kala itu dia ditunjuk menjadi ofisial keempat untuk laga kualifikasi putaran pertama Liga Champions antara Skonto FC dan Sliema Wanderers.

Karier profesional Cakir di belantika perwasitan mulai naik kelas ketika dia memulai petualangan internasional pada 2006.

Cakir akhirnya membuat debut di putaran final Liga Champions edisi 2010, tepatnya pada 29 September, ketika dia menengahi duel Rubin Kazan versus Barcelona yang berakhir imbang. Dia juga menjadi penyetir laga antara Chelsea dan Spartak Moskwa pada 3 November di tahun yang sama.

Fabio Capello beradu argumen dengan Cuneyt Cakir di babak grup Piala Dunia 2014 Aljazair-Rusia

Seperti kebanyakan wasit, setahun berselang, momen-momen kontroversial mulai mengiringi perjalanan kariernya dari setiap keputusan yang dia ambil di lapangan.

Beberapa pemain kelas kakap pernah merasakan diusir oleh pria juga bekerja di bidang asuransi ini. Namun di sisi lain, dalam rentang 2011-2012 itu reputasinya meningkat. Perhelatan prestisius seperti Piala Dunia U-20 2011 dan Piala Dunia Antarklub 2012 menjadi tugasnya.

Pada 17 Maret 2011, dia mewasiti laga 32 besar antara Manchester City dan Dynamo Kyiv, yang berakhir kemenangan bagi klub yang disebut pertama. Dynamo tetap melenggang ke fase selanjutnya karena unggul agregat 2-1. Hanya, laga itu menyisakan hujan kartu: delapan kartu kuning, termasuk insiden kartu merah yang diterima Mario Balotelli.

John Terry juga mungkin tak lupa dengan pria Turki satu ini ketika dia dikartumerah di laga semi-final Liga Champions 2012 antara Chelsea dan Barcelona di Camp Nou. Cakir mendepak sang bek di babak pertama, untungnya The Blues tetap melenggang ke final berkat kemenangan agregat 3-2.

Cakir dipercaya memimpin sejumlah laga masif di hajatan Euro 2012, termasuk babak semi-final antara Spanyol dan Portugal. Dalam laga yang berlangsung selama 120 menit itu, Cakir mengeluarkan tak kurang dari sembilan kartu kuning. Di laga puncak turnamen yang sama, dia terpilih menjadi ofisial keempat ketika Spanyol bentrok dengan Italia.

Keputusan kontroversial dia yang teraktual adalah mengganjar Nani kartu merah di babak kedua laga United versus Madrid pada Liga Champions, 5 Maret 2013. Keputusan itu dianggap berlebihan, yang kemudian membikin van Persie bertanya-tanya dan memicu manajer Sir Alex Ferguson naik pitam. Ini sekaligus menjadi laga terakhir Fergie di pentas terakbar antarklub Benua Biru itu.

Tentu van Persie tak ingin melihat lagi ada keputusan kontroversial dibuat Cakir terhadap kompatriotnya, atau bahkan boleh jadi dirinya.

Namun apa pun keputusan tak bijaksana yang akhirnya diambil Cakir di laga malam nanti - yang merupakan laga ketiga dia di Piala Dunia 2014 ini setelah sebelumnya memimpin partai Brasil-Meksiko dan Aljazair-Rusia di fase grup - mungkin hanya akan membuat van Persie tersenyum gemas dan geleng-geleng.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics