PROFIL Yogi Rahadian: Pesepakbola Muda Yang Ingin Jadi Polisi

Yogi menjadi salah satu pemain muda yang penampilannya mencuri perhatian di PJS.

Para pesepakbola muda berkualitas terus bermunculan di turnamen Piala Jenderal Sudirman (PJS). Salah satu yang mencuri perhatian adalah penyerang Mitra Kukar, Yogi Rahadian. 

Di PJS, pemain kelahiran Teluk, Musi Banyuasin, 27 Oktober 1995, itu menjadi salah satu pemain kunci tim Naga Mekes. Bahkan, di leg pertama semi-final PJS, 9 Januari lalu, Yogi memiliki peran penting saat timnya menaklukkan Arema Cronus, skor 2-1. Pasalnya, Yogi yang mencetak gol kemenangan Mitra Kukar di laga tersebut. 

Bakatnya bermain sepakbola sudah terasah sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Dia mulai serius menekuni sepakbola saat bergabung dengan Sekayu Youth Soccer Academy (SYSA), ketika masih kelas 6 SD.

Yogi mengakui masa kecilnya sering dihabiskan untuk bermain sepakbola. Bahkan, dia bersama teman-temannya ketika itu rela bermain di bekas pabrik karet. Menyusul, pada saat itu di kampung halamannya tidak ada lapangan sepakbola. Jangankan lapangan, sepatu sepakbola untuk bermain pun tak dimiliki Yogi dan teman-temannya.

"Di kampung, selain enggak punya lapangan, kita juga enggak punya pelatih. Jadi main biasa saja, ada yang jago, ya jago dengan sendirinya," kenang Yogi.

Dari SYSA, karier Yogi mulai menanjak dengan memperkuat Persimuba U-15 dan U-18. Kemudian, dia masuk dalam program Indonesia Football Academy (IFA), dan pernah mengikuti pelatihan bersama klub SAD Indonesia di Uruguay.

Yogi juga malang melintang di tim nasional Indonesia kelompok umur. Mulai dari U-14, U-15, U-17, U-18, hingga U-23. Hingga akhirnya dirinya direkrut Mitra Kukar U-21. Dari berbagai pengalamannya tersebut, ia mengaku pernah berganti-ganti posisi. Mulai dari gelandang ke striker, lalu menjadi winger hingga saat ini.

Pemain lulusan SMA Ragunan, Jakarta, ini juga mengatakan sepakbola baginya bukan sekadar olahraga. Menurutnya, ketika bermain sepakbola, segala persoalan hidup bisa terlupakan. Apalagi kini dirinya sudah menjadi pemain profesional dan mendapatkan gaji. Hal tersebut diakuinya semakin menambah motivasinya dalam menekuni profesi ini.

"Melalui  sepakbola, saya jadi bisa keliling Indonesia, dapat banyak teman, syukur-syukur kalau sampai punya fans," katanya. 

Di sisi lain, pemain yang mengagumi klub Liga Primer Inggris, Chelsea, ini juga memiliki cita-cita lain selain menjadi pesepakbola. "Selain ingin jadi pesepakbola, saya juga ingin menjadi polisi," ujar pengagum gelandang Chelsea, Eden Hazard ini.

Yogi pun menyayangkan kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini, yang banyak dirundung konflik. Bahkan, konflik itu sampai membuat tidak jelasnya kompetisi di Indonesia.

"Sangat memprihatinkan, gara-gara konflik banyak rezeki para pemain yang dihilangkan. Kami sebagai pemain, sangat ingin sekali kembali merasakan atmosfer liga yang sesunggungnya," urai Yogi.

"Sedih sekali dengan tidak ada ISL, karena liga yang sebenarnya adalah kompetisi jangka panjang yang dilakoni setiap tahunnya oleh semua klub di Indonesia. Sekarang kesempatan untuk tampil sudah terbuka lebar, tapi konflik yang ada menunda kesempatan itu," keluhnya lagi.

Selain berharap agar kompetisi jangka panjang segera kembali bergulir, Yogi berharap sepakbola Indonesia bisa lebih maju, profesional. dan lebih berprestasi lagi.

"Liganya lebih baik lagi, wasit di Indonesia bisa profesional, tidak ada klub yang tidak membayar gaji pemain. Pokoknya, harapan terbaik buat sepakbola Indonesia," harapnya.(gk-63)

Topics