PROFIL: Youri Tielemans, Permata Belgia Siap Tempa

Pemain ini berada di jalur yang tepat untuk mengikuti jejak Eden Hazard, Romelu Lukaku, dan Kevin De Bruyne.

Belgia adalah negara yang belakangan ini sudah terbiasa untuk melahirkan bibit-bibit unggul sepakbola. Setelah muncul Nii Lamptey (16 tahun 6 hari), Romelu Lukaku (16 tahun 11 hari), dan Celestine Babayaro (16 tahun 72 hari), kini giliran Youri Tielemans (16 tahun 83 hari) yang sukses melakoni debut senior bagi Anderlecht pada 28 Juli 2013 silam saat melawan Lokeren.

Berselang 65 hari, Tielemans dipanggil masuk timnas. Ia kemudian menjadi pemain termuda Belgia dalam sejarah yang bermain di Liga Champions. Secara keseluruhan, ia menjadi debutan termuda ketiga di kompetisi elite Eropa itu. Maka, tak mengejutkan jika pada 2016 ini sang gelandang belia mulai banyak diperbincangkan. Hampir semua klub top Eropa seperti berlomba-lomba ingin memboyongnya pada bursa transfer musim panas mendatang. Juventus, PSG, dan Atletico Madrid bahkan dilaporkan sudah mengajukan tawaran.

Tielemans, yang baru saja memenangi Goal 50 U-18 2015 alias Pemain Muda Terbaik versi Goal, merupakan produk asli Belgia, negara yang sudah memiliki status tinggi karena mampu menciptakan pemain top dunia seperti Lukaku, Marouane Fellaini, Vincent Kompany, Christian Benteke, Jan Vertonghen, dan Axel Witsel.

Tielemans muncul dari program “Purple Talents” yang diinisiasi oleh Anderlecht dalam satu dekade ke belakang, sebuah program yang dirancang bagi pemain muda Belgia untuk memahami tingkat stres di sepakbola level tertinggi dan juga membantu mereka untuk bertahan hidup di luar lapangan. “Penggerak utama dari Purple Talents adalah sekolah. Di sini, sebuah kegagalan adalah sebuah kegagalan,” ungkap Jean-Francois Lenvain, pendiri program ini, seperti dikutip di laman resmi Anderlecht.

Terlibat dalam Purple Talents menjadi kunci bagi perkembangan pesat Tielemans. Di usia 17 tahun, Tielemans mampu bermain reguler di lini tengah tim utama Anderlecht tanpa menjalani periode transisi. “Dari situ, Youri sebenarnya juga menjalani periode sulit,” ungkap agennya, Christophe Henrotay.

“Orang-orang di usia sepertinya punya banyak waktu luang, tetapi tidak dengannya. Dia masih sangat muda ketika diwajibkan untuk menghadapi realita hidup seperti orang dewasa. Dia sudah masuk timnas Belgia sejak usia yang sangat muda dan telah berlatih dengan tim utama. Dia juga harus belajar di sekolah karena ini penting untuk keluarganya. Setelah selesai berlatih sepakbola, ada seorang guru yang siap membantunya untuk menerangkan materi pelajaran yang tertinggal.”

Berasal dari keluarga yang kental dengan olahraga judo, Tielemans belajar untuk memiliki sikap respek dan kalem. “Saya akan menyamakan situasi ini dengan Thibaut Courtois yang memiliki keluarga dengan latar belakang olahraga voli. Hal semacam itu [berbeda latar belakang olahraga] bisa sangat membantu dalam sepabola,” lanjut Henrotay.

Fabrice N’Sakala, yang tiba di Anderlecht pada 2013, berperan sebagai seorang kakak bagi Tielemans. Bek kiri asal Prancis itu tidak pernah lupa saat melihat Tielemans melakoni latihan perdana di tim utama. “Di klub, kami sudah sering membicarakannya, sejak sebelum dia datang berlatih. Meski masih sangat muda, dia tampak dewasa dalam bermain. Dia sedikit malu-malu, tetapi tetap mengesankan,” ungkap N’Sakala.

Sejak saat itu, Tielemans dan N’Sakala berteman baik. “Kami sering bercanda. Saat latihan, dia suka iseng dengan membuat tali sepatu saya kusut sehingga saya terlambat latihan. Saya lalu membalasnya di [game] FIFA. Dia selalu marah ketika saya mengalahkannya,” ungkap eks pemain Troyes itu. N’Sakala juga membocorkan tim favorit Tielemans di game tersebut: “Dia sering menggunakan Juventus dan terkadang Manchester City.”

Sejak menapaki langkah pertama bersama Anderlecht di usia lima tahun, Tielemans selalu dididik untuk terus meningkatkan diri secara teknik sebagaimana Belgia saat ini merupakan negara terbaik dalam hal mengasah teknik pemain.

“Saat menembus tim utama, dia terlihat kecil, tetapi dia punya karakter yang tepat dan sangat positif. Dia masih 18 tahun, jadi performanya masih naik-turun, tetapi dia sudah punya fondasi yang kuat. Dia punya kemampuan untuk mengatur dan membaca permainan. Dia adalah tipe pemain No.8 yang bisa mendikte alur permainan dan juga memiliki tembakan bagus. Dia punya segala syarat untuk menjadi seorang gelandang modern,” papar Henrotay.

Hal serupa juga diutarakan oleh N’Sakala. “Dia komplet, bisa bermain dalam jarak pendek maupun jauh, memiliki teknik menembak yang baik. Saya banyak berbicara kepadanya dan memberitahu dirinya bahwa sulit untuk membantah talentanya. Jika terus seperti ini, dia bisa melaju jauh,” ungkapnya.

Setelah menghabiskan 15 tahun di Anderlecht, Tielemans yang kini berusia 18 tahun bersiap untuk membuka lembaran baru dalam kariernya, meski belum tahu ke klub mana ia akan berlabuh. Sang gelandang diharapkan bisa melakukan transisi ini dengan cara yang cerdas.

“Dia tidak ingin mengkhianati kepercayaan dari klub. Anderlecht adalah hidupnya. Dia telah mendapat dukungan penuh dari klub dan dia tahu ke mana dia harus pergi. Kariernya harus dibangun dengan hati-hati. Kami akan menganalisis pilihan yang ada di akhir musim ini,” jelas Henrotay.

N’Sakala menambahkan, “Dia tahu bahwa masa depannya akan berada di tempat lain. Klub yang ingin merekrutnya semuanya adalah klub-klub juara. Dia harus punya mentalitas juara. Saya tidak akan berhenti mengingatkannya akan hal itu.”

Sembari menanti babak selanjutnya sang wonderkid, muncul satu pertanyaan, apakah ia bisa menembus skuat Belgia untuk Euro 2016 di Prancis pada musim panas mendatang? Henrotay punya jawabannya, “Ya, dia punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Tetapi dia tahu seperti apa efeknya jika bermain bagi timnas. Di akhir musim ini, dia siap untuk mencari tantangan baru di klub lain. Ini akan meningkatkan peluangnya untuk mendapat tempat di timnas.”

Tidak peduli ke klub mana nantinya ia akan bergabung, yang pasti Tielemans ditakdirkan untuk terus melebarkan sayapnya dan bersinar selama bertahun-tahun mendatang.