PROFIL-Yu Hyun-Koo: Claude Makelele-nya Semen Padang

Yu adalah satu dari sedikit pemain di kompetisi Indonesia yang mampu memainkan Makelele's Role.

Sudah tak diragukan lagi, peran Yu Hyun-Koo di lini tengah Semen Padang selama turnamen Piala Jenderal Sudirman (PJS) sangat vital. Meski tergolong pemain yang tak muda lagi, Yu masih mampu menunjukkan diri sebagai gelandang terbaik yang dimiliki tim Kabau Sirah. Bergabung sejak 2010, pemain yang pada 25 Januari nanti berusia 33 tahun tersebut nyaris tak tergantikan selama lima musim berkostum Semen Padang.

Semen Padang memang menjadi klub pertama gelandang asal Korea Selatan itu di Indonesia. Pada waktu pertama kali bergabung di Semen Padang, belum banyak yang mengenal dirinya, bahkan namanya pun terdengar asing. Pendukung Semen Padang pun sempat meragukan kemampuannya. 

Ketika itu, namanya jelas kalah populer dibanding para pemain asing lain seperti Edward wilson Junior, Esteban Vizcarra, David Pagbe, bahkan dengan rekan senegaranya Park Chul Hyung. Ditambah posisinya sebagai gelandang bertahan, yang memang tak terlalu jadi perhatian, dibanding Edward Wilson yang rajin mencetak gol, Vizcarra yang meliuk-liuk indah di sayap, atau trengginasnya Pagbe dan Park mematahkan serangan lawan.

Namun di mata pelatih, peran seorang pemain seperti Yu sangatlah vital, walau dalam pandangan penonton permainan Yu tak sesedap melihat Edward Wilson dan lain-lainnya itu. "Saya maklumi itu, karena pandangan penonton pastilah berbeda dengan seorang pelatih yang melihatnya dari segi teknis dan peran dalam tim," ucap Nilmaizar, soal Yu. 

Nil orang pertama yang melihat potensi Yu, tak ragu-ragu merekomendasikannya pada manajemen. Nil menyebut sosok asing yang satu ini sebagai pemain langka, dan Semen Padang beruntung mendapatkannya, bahkan bisa menahannya selama lima musim. 

Nil bahkan pernah membandingkan, untuk skala sepakbola Indonesia, Yu adalah satu dari sedikit pemain di kompetisi Indonesia yang mampu memainkan Makelele's Role, yaitu gelandang bertahan yang mampu bermain simpel, tak perlu lama-lama menahan bola, inisiator serangan dan pemutus serangan lawan layaknya mantan penggawa Real Madrid dan Chelsea, Claude Makelele. Stamina prima dan punya daya jelajah tinggi, juga kelebihannya di samping punya umpan terukur dan tembakan bagus.  

Bahkan ketika Nil meninggalkan SPFC untuk pergi ke tim nasional Indonesia pada 2012, dua pelatih yang kemudian menangani Semen Padang, Suhatman Imam dan Jafri Sastra juga tak kuasa menolak atau coba-coba menepikan vitalnya peran seorang Yu. 

Setelah Nil pulang ke Semen Padang awal 2015, Yu termasuk pemain pertama yang masuk rencananya. Reuni pun terjadi, walau suara-suara suporter yang tak menyadari pentingnya seorang Yu, bersuara meminta Yu ditukar dengan seorang striker asing, karena aturan pemain asing hanya tiga pemain. 

Di saat ada Vizcarra dan Pagbe, publik menilai Yu adalah pemain asing yang paling diinginkan untuk dilego. Namun Nil tak sependapat. "Jika ada pelatih yang berani membuang Yu dalam kondisi dan komposisi tim seperti ini, saya akan belajar banyak lagi darinya," kata Nil. 

Yu pun sepertinya cukup menyadari, betapa Semen Padang sangat membutuhkan tenaganya. Diapun menunjukkan loyalitas dan totalitasnya. Lima musim penuh di Semen Padang membuktikan, Yu memang menikmati perannya di Semen Padang. 

Walau tak ada lagi sejawatnya seperti Edward Wilson, Vizcarra, atau Pagbe, tapi pemain yang satu ini tetap setia dengan jersey Semen Padang. "Saya senang pernah membawa Sriwijaya FC ke final Piala Presiden, tapi saya tak keluar air mata. Tapi membawa Semen Padang ke final, membuat saya menangis bahagia," tutur Yu. 

Belum dapat dipastikan, apakah setelah PJS Yu masih akan tetap berseragam Semen Padang atau tergoda mencari tantangan baru di klub lain. Melihat performanya selama PJS, sepertinya tak akan susah baginya mendapatkan klub besar, jika Semen Padang tak memberinya kontrak baru. "Belum mikir, saya ingin juara bersama Semen Padang," tegasnya.(gk-33)

Topics