RADAR TRANSFER: Oscar Lewicki, Gebrakan Terkini Sepakbola Swedia

Perkenalkan “the unsung hero” Swedia di Euro U-21 yang sudah bersiap menjajal petualangan baru di Inggris atau Jerman: Oscar Lewicki.

Sepakbola Swedia sedang bersukacita. Selasa (30/6) lalu di Eden Arena, Praha, timnas junior Swedia berhasil menjadi yang terbaik dalam Kejuaraan Eropa (Euro) U-21 2015. Blagult, julukan Swedia, berhasil menggebuk Portugal di final via adu penalti dengan skor 4-3 setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Kisah kesuksesan Swedia menggapai puncak Eropa ini memang mengejutkan meski hanya di level junior. Walau tak pernah absen dalam memunculkan pesepakbola berbakat, negeri asal Skandinavia ini tetap dipandang sebagai kekuatan medioker di sepakbola Eropa. Simak saja prestasi terbaik mereka yang sudah berusia setengah abad lebih lamanya, yakni menjadi runner-up Piala Dunia 1958 di negara mereka sendiri dan meraih emas di Olimpiade 1948 cabang sepakbola.

Pujian pun bertebaran, seperti tergambarkan dalam surat kabar ternama Swedia, Dagens Nyheter, “Untuk pertama kali sejak 1948, timnas Swedia berhasil memenangi turnamen utama. Mungkin kami harus menunggu lama lagi untuk prestasi berikutnya. Namun, itu hanya menjadi satu dari ribuan alasan mengapa pasukan Hakan Ericson layak disambut bak raja dalam kepulangan mereka di Kungstradgarden. Swedia U-21 telah menunjukkan seperti apa kolektivitas sebuah tim yang sesungguhnya.”

PROFIL SINGKAT

Nama: Carl Oscar Johan Lewicki
Tanggal lahir: 14 Juli 1992
Tempat Lahir: Malmo, Swedia
Posisi: Gelandang bertahan/tengah
Tinggi: 175 cm
Caps timnas/gol:
4/0 (senior) - 27/2 (U21)
RIWAYAT KARIER SENIOR (Laga/Gol)
  2010-2011: Bayern Munich
  2010-2011: Bayern Munich II
  2011-2014: BK Hacken
  2015- ...... : Malmo FF
0/0
33/0
77/2
12/2

Ya, Swedia layak mendapat sanjungan setinggi langit. Sayang, diskusi dan wacana pasca-pagelaran Euro U-21 justru lebih banyak tertuju kepada William Carvalho, sang pemain terbaik turnamen, kepada Bernardo Silva, sang playmaker Portugal yang tampil bersinar, atau kepada para pemain Jerman, Inggris, dan Italia yang punya nama tenar karena media. Jarang ada yang menggembar-gemborkan profil pemain Swedia.

John Guidetti mungkin yang mendekati status tersebut mengingat namanya pernah mencuat bersama Manchester City, Celtic, Feyenoord serta digadang-gadang bakal berkembang menjadi seperti sang pahlawan terbesar Swedia di era modern, Zlatan Ibrahimovic. Sang striker muda juga berhasil meraih Bronze Boot di Euro U-21 lewat torehan dua gol dan satu assist, hanya kalah dari Jan Kliment (Ceko) dan Kevin Volland (Jerman).

Namun faktanya, UEFA Technical Observers tidak mencantumkan nama Guidetti dalam susunan tim terbaik Euro U-21. Swedia hanya mewakilkan tiga nama, yakni duo bek Victor Lindelof dan Filip Helander, serta satu gelandang bernama Oscar Lewicki.

Kemunculan nama Lewicki sejatinya sama sekali tidak mengejutkan. Bahkan, gelandang yang memperkuat Malmo FF ini mungkin layak menggeser William Carvalho sebagai sebagai pemain terbaik turnamen. Tampil penuh dari laga fase grup hingga final, gelandang bertahan berusia 22 tahun ini muncul sebagai sosok pekerja keras di lini tengah Swedia.

Sinar Lewicki langsung terasa sejak turnamen dimulai sebagaimana ia terpilih sebagai man of the match saat menggebuk Italia 2-1 di partai pembuka grup. Kehadirannya di lini tengah bersama kapten Oscar Hiljemark berkontribusi besar dalam membuat Swedia berhasil lolos sebagai runner-up Grup B di bawah Portugal.

Memasuki babak semi-final kontra Denmark, Lewicki terus menampilkan performa konsisten. Ia menjadi pemain yang paling banyak melakukan sentuhan di laga tersebut. Denmark pun dibuat tak berkutik sepanjang 90 menit seiring Swedia berhasil melumat rival sengitnya itu dengan skor telak 4-1.

Daya rusak Oscar Lewicki sudah terbukti di Euro U-21. Playmaker kreatif Portugal, Bernardo Silva, dibuat tidak berkutik di babak final sehingga memuluskan langkah Swedia menjadi juara.

Barangkali, karya terbesar Lewicki di Euro U-21 terjadi di babak final ketika ia berhasil mengunci pergerakan bintang Portugal, Bernardo Silva. Terbatasnya ruang gerak sang playmaker membuat Seleccao tidak bisa mengembangkan permainan dari tengah yang menjadi kekuatan mereka di sepanjang turnamen. Mengandalkan sayap menjadi percuma sebab Swedia punya bek-bek jangkung yang siap menghalau setiap crossing yang tiba di kotak penalti.

Secara total, Lewicki melakukan lima tekel sukses di partai puncak tersebut -- terbanyak ketimbang pemain lain -- plus dua intersep. Bukan cuma itu, Lewicki ternyata menjadi distributor bola ulung dengan menorehkan 66 kali umpan dengan akurasi 86,4% yang menjadi salah satu catatan terbaiknya di sepanjang turnamen.

Kemunculan Lewicki sebagai aktor protagonis di lapangan tengah inilah yang membuat permainan Swedia sulit diprediksi dan pada akhirnya membuat mereka menjadi kampiun Eropa. Bagi Lewicki, kemenangan ini menjadi kian sempurna karena diraih tepat di hari ulang tahun anaknya, Liam. “Anak saya berusia satu tahun tepat di hari final. Rasanya menyenangkan sekali bisa menghadiahkan hari ulang tahunnya dengan kemenangan ini,” tuturnya seperti dikutip UEFA.com.

Terlepas dari performa gemilangnya selama setengah bulan di Ceko, Lewicki diprediksi bakal memiliki masa depan yang cerah. Ia sudah memiliki pengalaman matang di Swedia bersama Malmo FF dan BK Hacken. Ia bahkan pernah masuk akademi Bayern Munich dan sempat tampil reguler di tim B raksasa Jerman itu meski pada akhirnya gagal mendapat kontrak profesional di tim utama. Walau begitu, Lewicki tak perlu kecewa. Di usia 22 tahun dan sudah berbekal empat caps timnas senior serta medali emas Euro U-21, Lewicki masih punya banyak waktu untuk berkembang.

*Statistik di Euro U-21 2015

Seandainya sukses melangkah ke level berikutnya, suatu saat nanti Lewicki bisa mengikuti jejak Xabi Alonso atau Michael Carrick. Seperti halnya kedua seniornya itu, Lewicki bukan cuma menjadi gelandang yang berfungsi menjadi perusak serangan lawan, melalui umpan-umpan akuratnya ia turut membantu suplai bola di lini tengah yang bisa digunakan untuk memulai serangan.

Gaya permainan Lewicki ini dijelaskan sendiri oleh pelatih Swedia U-21, Hakan Ericson yang mengindikasikan Lewicki merupakan tipikal gelandang bertahan modern. “Oscar Lewicki selalu lari, lari, dan lari lagi. Dia menjadi orang pertama yang melindungi lini belakang tim. Dia mampu membaca pertandingan dengan sangat baik, membantu rekan setim tanpa disuruh, dan dia sangat tangguh dalam tekel.”

Lantas, ke mana Lewicki bakal mengembangkan kariernya di masa mendatang? Memang belum ada klub yang secara terbuka ingin mendatangkannya dan Lewicki sendiri mengaku bahagia di Malmo, tempat ia lahir dan berkarier saat ini. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa bermain di Liga Primer Inggris atau Bundesliga Jerman adalah impian terbesarnya.

“Saat ini saya sangat bahagia di Malmo dan begitu menikmati bermain di sini. Tentu saja saya punya ambisi besar dalam karier saya. Jika ada kesempatan bermain di Inggris atau Jerman, saya akan mengambilnya. Ini akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan,” tuturnya pada awal Juni lalu.  

Bersama agennya, Roger Ljung, kesempatan itu terbuka lebar. Ljung adalah salah satu agen top Swedia yang di masa lalu pernah membawa kliennya ke Inggris, sebut saja Kim Kallstrom (Arsenal), Markus Allback (Aston Villa), hingga Andreas Isaksson (Manchester City). Dari Jerman, Bayern Munich bisa jadi kepincut lagi untuk mendatangkannya.  

Sepertinya, tinggal menunggu waktu saja berita dan gosip transfer Lewicki bakal berserakan di media. Ke mana ia bakal berlabuh, tidak menjadi persoalan. Yang terpenting adalah menantikan gebrakan selanjutnya dari Lewicki yang rasa-rasanya sudah lebih dari siap untuk menjadi tulang punggung sepakbola Swedia setelah era Ibrahimovic berakhir.