Radja Nainggolan -- Evolusi Sang Ninja

Radja Nainggolan kian tampil memukau dengan posisi barunya yang lebih menyerang.

November, 2016. Sesuatu terjadi di lapangan Trigoria. Pertama, pelatih Luciano Spalletti mencoba formasi 3-4-3 dalam laga uji coba tim utama AS Roma menghadapi tim Primavera. Formasi itu akhirnya benar-benar diterapkan pada Derby Della Capitale, awal Desember. Roma sukses membungkam Lazio dan sejak saat itu Spalletti nyaris selalu menggunakan formasi tiga bek tengah.

Kejadian kedua, Radja Nainggolan mengenakan kaus latihan bernomor punggung 10. Ini bak penghinaan besar di mata Romanisti yang paling setia. Bukankah nomor itu sudah lekat pada sosok sang pangeran, Francesco Totti? Tidak pantas ada pemain lain yang mengenakan nomor keramat itu. Setelah mencetak lima gol dalam empat pertandingan secara beruntun di Serie A selama Februari, Nainggolan menjadi sosok yang paling dikagumi seantero Roma.

Spalletti pernah mengungkapkan keheranan ketika Belgia tidak dapat memaksimalkan kemampuan Nainggolan. Saat itu, Belgia baru saja dikalahkan Italia 2-0 pada laga pembuka Grup E Euro 2016. Menurut Spalletti, alih-alih Nainggolan, malah Marouane Fellaini yang dijadikan andalan Belgia dalam membongkar pertahanan lawan.

"Kenapa memakai Fellaini sebagai striker? Dari posisi tersebut Radja bisa melesakkan bola, menyelesaikan pergerakan, dan memberi tekanan kepada pemain belakang Italia sampai waktunya dia kembali ke posisi sebagai gelandang," ujar Spalletti kepada Sky Sport Italia.

Perubahan formasi yang dilakukan Spalletti menjadi hal vital yang mendorong Roma dalam mempertahankan peringkat kedua di klasemen Serie A. Ketika menghadapi Juventus dalam La Grande Partita, pertengahan Desember lalu, Spalletti berubah pikiran dan kembali ke formasi "aman", 4-2-3-1. Hasilnya, Roma kalah 1-0. Sejak saat itu, Spalletti tak pernah lagi berpaling.

Namun, faktor penting lain di dalam perubahan itu adalah Nainggolan. Penampilannya yang terus menanjak. Kemampuan pemain keturunan Indonesia ini dalam melakukan transisi dari bertahan ke menyerang tidak sebaik Strootman. Lalu, Roma sudah memiliki De Rossi untuk menjalankan tugas sebagai destroyer. Tentu hal paling masuk akal yang dapat dilakukan Spalletti adalah mendorong Nainggolan agar bermain lebih ofensif.

"Sekarang saya bermain lebih ke depan. Tapi, saya bukan seperti fantasista yang sering Anda lihat. Saya bekerja keras dan juga menutup lini tengah," ujarnya kepada Mediaset Premium setelah Roma mengalahkan AC Milan 1-0, Desember lalu.

Nainggolan bertekad untuk meraih sukses bersama Giallorossi. "Kami membuktikan bahwa kami memang layak berada di posisi ini, tapi kami harus meningkatkan penampilan di setiap laga," ujarnya. Total, dalam 12 pertandingan terakhir Nainggolan memberi kontribusi untuk sepuluh gol Roma -- terdiri dari delapan gol dan dua assist.

Peningkatan performa selama tiga bulan terakhir itu membuat Nainggolan dipercaya menjadi kapten Roma saat menghadapi Lazio pada leg pertama semi-final Coppa Italia, Rabu tadi malam. Sayangnya, Roma harus mengakui keunggulan rival sekota, 2-0. Misi Radja belum selesai. Napoli sudah menunggu pada lanjutan Serie A, Sabtu lusa. Sang Ninja akan kembali beraksi untuk membawa Roma meraih kejayaan.