Regulasi 'Marquee Player' Dianggap Tak Adil

Achmad Haris menilai regulasi pemain asing yang diterapkan PSSI bisa menimbulkan kesenjangan.

Manajemen Sriwijaya FC menilai regulasi marquee player di Liga 1 2017 yang ditetapkan PSSI dan operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak adil, serta hanya menguntungkan segelintir klub.

Sekretaris Sriwijaya FC Achmad Haris mengatakan, regulasi baru ini tidak objektif, dan cukup timpang, mengingat tak semua tim bisa memanfaatkan aturan tersebut akibat terbentur dana.

“Seperti setengah-setengah, karena tidak membuat semua klub bisa menjalankannya. Indikasinya rawan kesenjangan. Mereka [yang tidak mampu] akan bertanding dengan tiga pemain asing saja, sedangkan yang menggunakan itu bisa empat,” kata Haris.

Kendati dianggap bisa meningkatkan pamor kompetisi tanah air, Haris menilai itu bukan keputusan terbaik. Mengenai kemungkinan Sriwijaya FC memakai regulasi tersebut, Haris enggan berkomentar.

“Launching nanti kami akan kenalkan pemain baru,” jawab Haris singkat.

Sementara winger Talaohu Abdul Mushafry menyatakan, tidak mempermasalahkan marquee player. Namun kebijakan harus bersifat adil. Menurut Mushafry, sebaiknya PSSI maupun operator lebih fokus menyiapkan detail regulasi kompetisi.

“Misal pemain asing 2+1. Kalau memang bisa 3+1, tapi yang satu harus marquee player, buat saya kurang adil dalam menerapkan ini. Yang penting bukan hanya bagaimana mendatangkan pemain kelas Eropa, tapi juga tim harus bener-benar sehat secara finansial,” kata Mushafry.

“Di sisi lain memang bisa menjadi keuntungan dari berbagai sisi, [seperti] kualitas kompetisi, marketing, dan lain sebagainya. Jadi, kalau setiap tim punya kemampuan buat daya itu tidak masalah.” (gk-70)