Rekor Lionel Messi Bersama Argentina

Leo Messi memutuskan pensiun dari sepakbola internasional usai kekalahan di final Copa Centenario. Berikut rangkuman statistiknya dalam 11 tahun perjalanan dengan Tim Tango.

Jagat sepakbola gempar mendengar pernyataan Lionel Messi pascakegagalan ketiga Argentina di final turnamen mayor dalam tiga tahun beruntun, keempat selama La Pulga berseragam Albicelestes.

"Dalam ruang ganti saya berpikir ini adalah akhir bagi saya dengan tim nasional, ini bukan untuk saya. Saya telah mengupayakan yang terbaik. Ini sudah empat final, tapi saya tak mampu menang. Saya ingin memenangi titel dengan tim nasional lebih dari siapa pun, tapi sayangnya itu tak terjadi," ujar superstar Barcelona itu di hadapan awak media.

Sebagaimana terlihat jelas di lapangan MetLife Stadium, Messi amat terpukul setelah Argentina lagi-lagi harus mengakui keunggulan Cile lewat adu penalti.

Sementara tahun lalu pemain kidal itu menjadi algojo tunggal yang sukses di kubu Argentina, pada final Copa America Centenario Minggu (26/6) kemarin ia menjadi salah satu pesakitan bersama Lucas Biglia. Tembakan Messi, yang sebetulnya bisa membawa Argentina memimpin setelah eksekusi pertama Cile via Arturo Vidal ditepis Sergio Romero, melambung tinggi di atas mistar.

Itu melengkapi deret kegagalan Messi di partai puncak bareng Tim Tango, sangat kontras dengan segudang prestasi yang mampu dicapainya dengan Barcelona.

Messi telah menyabet trofi Piala Dunia Junior 2005 plus medali emas Olimpiade 2008, namun dalam dua ajang terpenting level senior yang diarungi Argentina prestasi terbaiknya sebatas runner-up: di Copa America 2007, 2015, dan 2016, plus Piala Dunia 2014.

Quadruple kegagalan di final dengan Argentina membuat Messi menyerah mengejar prestasi dengan Argentina

Dengan usia 29 tahun, banyak yang berharap komentar Messi hanya luapan emosi kekecewaan sesaat, bahwa ia akan mencoba lagi. Namun, kalaupun keputusan tersebut sudah final, La Pulga tetap layak menyandang status sebagai salah satu pemain terbesar Argentina terlepas dari nihilnya silverware yang diraih.

Laga melawan Cile Ahad lalu menandai cap ke-113 bagi Messi  sejak ia mengawali perjalanan dengan Argentina kontra Hongaria pada 17 Agustus 2005 dalam debut mengecewakan yang ditandai kartu merah. Dalam sejarah timnas Argentina cuma ada lima orang dengan koleksi penampilan menembus 100: Javier Zanetti, Javier Mascherano, Roberto Ayala, dan Diego Simeone menjadi empat nama lain yang menemani Messi di daftar elite tersebut.

Bicara gol, statistik Si Kutu lebih membanggakan lagi. Walau sempat seret, produktivitas Messi di panggung internasional melonjak drastis seiring penunjukan Alejandro Sabella sebagai pelatih dan berlanjut di bawah komando Gerardo “Tata” Martino.

Tendangan bebas ke gawang Amerika Serikat dalam kemenangan 4-0 di semi-final Copa Centenario menjadi gol terakhir Messi untuk Argentina. Itu adalah torehannya yang ke-55 dan memastikan namanya terukir sebagai topskor sepanjang masa Los Albicelestes, melampaui rekor Gabriel Batistuta.

Gol historis tersebut datang sedekade usai Messi membuka rekening golnya melawan Kroasia pada partai uji coba di Swiss, 1 Maret 2006.

Dikerucutkan ke dua kompetisi top Piala Dunia dan Copa America, kontribusi persona kelahiran Rosario itu tidak buruk. Messi berandil dalam penciptaan total 26 gol sepanjang partisipasinya di PD dan Copa, dengan rincian 13 gol plus 13 assist.

Hanya, data menunjukkan sinarnya meredup usai mencapai final, dengan Argentina selalu majal dalam empat laga puncak yang dijalani bersama Messi. Sebagai perbandingan, La Pulga melesakkan 24 gol dan mengkreasi tujuh assist dalam 29 final dengan Barcelona.